Friday, September 25, 2009

Malaikatku Mati

By: Clara

“Aku adalah malaikatmu, sayang.” Sekali lagi, sebelum tidur, Aris mengucapkan kata-kata itu padaku. Garis wajahnya yang begitu tegas, namun tidak meninggalkan kesan manis, selalu tersenyum padaku. Tak apa jika ia tidak pernah membelaiku, tak apa jika tangannya yang besar tidak merengkuhku ke dalam dadanya yang bidang. Aku tau, kata-katanya adalah ketulusan yang tak sebanding dengan setiap gerak tubuhnya.
Dan hingga mataku terpejam, Aris masih tetap menatapku dari sisi tempat tidur. Ia suka sekali berlutut di sebelahku dan mengembangkan bibir tipisnya yang kemerahan, menungguku terlelap ke dalam alam mimpi yang tak bisa terjangkau olehnya. Meskipun ia mengaku memiliki sayap, namun sayap itu tetap tidak bisa menjangkau jauhnya alam tidurku.
“Sayang, aku selalu mencintaimu,” bisik-bisik kalimat terakhir Aris mengantarku tak sadarkan diri. Terbuai indahnya mimpi, dimana untuk kesekian kalinya aku kembali bertemu Aris. Seperti biasa, Aris mengatakan kalau ia memiliki sayap. Aku tersenyum dan percaya padanya. Aris tak pernah bohong padaku.
Namun tidak untuk hari ini.
“Kamu mau menikah denganku?” tanya Aris saat aku baru saja tersadar dari tidurku. Aris sudah berada di sebelahku. Ia selalu membuatku merasa begitu special.
Aku tersenyum.
Kemudian Aris segera beranjak, “Tunggulah disini. Bersiaplah dengan gaun terindah. Aku akan kembali dengan sekotak cincin. Aku akan melamarmu di tempat terindah di kota ini.” Setelahnya kulihat kaki panjang Aris melangkah meninggalkan kamar kostku.
Gaun sederhana berwarna ungu pastel sudah melekat di tubuhku. Kini aku menunggunya di ruang depan rumah kostku. Beberapa kawan satu kost melirik dan tersenyum ke arahku, tapi wajah mereka melukiskan sebuah kerutan di dahi masing-masing. Aku tak ambil pusing.
“Aku sedang menunggu calon suamiku,” kataku singkat yang malah membuat kedua tetangga kamarku saling berpandangan dengan kerutan di dahi yang masih menempel. Aku tidak peduli. Mereka pasti iri padaku. Aris sangat tampan dan sudah sewajarnya seorang wanita pasti akan melirik takjub melihat fisikknya yang begitu mempesona kaum hawa. Salah satunya aku.
Aris berdiri melambai di seberang jalan. Setengah lingkaran di wajahnya, tercermin begitu sempurna. Aku pun balas melambai dan tetap menanti Aris yang mendekat. Namun ternyata, Aris tidak bisa memenuhi rentetan kalimatnya tadi pagi. Sebuah mobil yang sedang melaju dengan kencang, menghantam tubuh kokoh Aris.
Aku berteriak histeris hingga setiap orang melihat ke arahku, termasuk beberapa kawan kostku. Mereka segera menghampiriku yang sudah terlebih dulu menghambur ke tubuh Aris yang bersimbah darah. Dengan tangan gemetar, kuangkat tubuh itu.
“Malaikatku...jangan mati!!” Aku histeris. Tangisku pecah di tengah jalan, bersamaan dengan bunyi klakson yang membahana. Dan juga, puluhan pasang mata yang menatapku. Aku tak tau pandangan apa itu, tapi kenapa tidak ada yang membantuku? Bahkan si penabrak pun hanya mematung berdiri beberapa langkah dari tempatku!
Padahal di pangkuanku, malaikatku mati. Bersimbah darah.
“Ris! Rissa! Sadar Ris! Yang kamu pegang itu cuma kucing!” pekik Aldo sambil mengguncang bahuku yang terbuka.
Heh! Aldo gila! Aris bukan kucing! Aris malaikatku. Ia calon suamiku dan kini ia sudah tak bernyawa. Aku tak bisa merasakan detak jantungnya lagi. Kubelai kepalanya, kuciumi wajah putih yang sudah memucat itu, dan kurengkuh ia ke dalam pelukan, hingga gaunku penuh darah.
Dan aku mendekatkan bibirku yang bergetar hebat ke telinga Aris, “Aldo, iri padamu karena aku memilihmu, Aris. Ia iri karena kamu malaikatku dan ia hanya orang biasa. Ia sinting, mengataimu kucing.” Aku berbisik begitu lirih. Kuciumi sekali lagi wajah Aris yang sudah pucat, dengan perasaan kalut yang luar biasa. Aku sungguh takut. Aku sedih. Aku seperti kehilangan penopangku.
***
Aldo duduk di hadapanku yang kini seperti tubuh tak berjiwa. Ia tampak begitu serius. Apa dia sudah memenuhi janjinya untuk merawat makam Aris?
“Rissa,” suara Aldo tertahan. Ia tidak berani menatap mataku yang menggantikan isi hatiku, menuduhnya sinting. “Dokter sudah memberitahuku. Ternyata…” Aldo berhenti sejenak. Suaranya agak serak. “Kamu penderita schizophrenic. Dan kamu harus tetap berada di sini, sampai kamu bisa sadar bahwa kamu hidup dalam dunia nyata, bukan dunia khayalan dalam pikiranmu.”
Kemudian kulihat pipi Aldo basah. Aku mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti apa yang pria itu katakan. Scizo…apa? Aku normal. Kalian saja yang menjebloskanku ke dalam penjara aneh ini. Namun, aku memilih bergeming. Aku malas berdebat. Aku masih berduka, karena malaikatku telah mati.
Di hadapanku.
Meski kata mereka, malaikatku adalah kucing.
Aku tak peduli, karena aku percaya, Aris-ku adalah malaikatku. Dan aku sangat mencintainya.

4 comments:

  1. Aduh.. sedih banget ceritanya Clara..
    Huks huks..
    Aku juga sedih kalau malaikatku mati...

    ReplyDelete
  2. waduh, kucing apa aris nih?
    bingung aku
    ......
    bagus bagus.... keren lah

    ReplyDelete
  3. baguuusss ^____^
    selalu suka cerita yang endingnya gak terduga :D

    ReplyDelete