Showing posts with label Award. Show all posts
Showing posts with label Award. Show all posts

Monday, February 15, 2010

Salju yang Bercerita

Akulah sang debu kristal putih bernama salju dan aku mengukir setiap langkah yang tak terbawa jejaknya untuk kujadikan sebuah kenangan. Setiap jejak yang tertinggal adalah kisah bagiku. Besar, kecil, berlekuk. Aku menyukainya.Dan aku selalu tersenyum untuk itu.

Akulah sang putri yang membuat setitik kebahagiaan di musim yang penuh dengan kebekuan. Aku mencarinya di tiap waktu sebelum matahari membunuhku secara perlahan dan pasti. Aku yang tidak akan pernah bisa terlewatkan.

Akulah sang bunga es yang membuat siapapun menantikan kedatanganku. Merangkaikannya, menggenggamnya, atau pun menyanjungnya. Sementara simfoni kehidupan terus bergerak dengan lembut, aku akan datang kembali untuk mengiringi setiap kisah dalam hidupnya.

Sekedar rangkaian kata yang tidak begitu berarti untuk Rava yang memberikan award untuk blog yang nyaris terbengkalai ini lantaran belum ada setitik ide muncul. Trim`s.




Wednesday, February 3, 2010

Mine Is 'A'

Untuk gadis dalam de javu.


Bukan satu atau dua kali saya melihatmu. Berdiri dengan wajah penuh kekosongan, tampak sesekali tanganmu menggantungkan kuas dan menggoreskannya di sebuah kanvas. Saya tidak mengenalmu. Begitu juga dirimu. Saya percaya tidak ada takdir yang menuntun kita untuk saling mengenal. Tidak, kecuali sebatas angan dan imajinasi yang sepertinya sungguh nyata. Tapi, kamu sungguh berada dekat sekali dengan saya.

Kenapa jarak terasa begitu jauh saat kita berada sungguh dekat?


Bukan sekali atau dua kali saya bertanya-tanya dalam benak sendiri, apa yang membuatmu tampak seringkali melamun, padahal tanganmu bergerak dengan lembutnya seperti gerakan angin yang perlahan menyapu dedahanan? Atau mungkin nyawamu terbang mencari inspirasi untuk buah tanganmu?


Wahai gadis, seandainya dirimu tahu.


Terlalu lama pengharapan ini terpendam. Melangkahkan kaki untuk mendekatimu, rasanya seperti melangkahkan kaki menuju kematian. Lebih dari sekedar sulit. Juga lebih dari sekedar pengecut. Karena bagi saya, kamu gadis dengan julukan A adalah milik saya seorang yang hanya bisa dirasakan melalui satu tutupan mata. Hanya bisa disentuh melalui sapuan angin yang mengelus telapak tangan yang sengaja dilebarkan ini.


Karena...

Meski kita dekat, kamu adalah transparan.

Gadis de javu bernama A.


Tangan ini tidak akan bisa memetik setiap senar gitar, tanpa kehadiranmu. Bibir ini tidak mungkin bersuara ketika kamu tidak datang untuk memberikan satu sentilan ide. Dan, tidak akan ada nada-nada indah yang saya perdengarkan pada banyak orang, jika bukan dirimu yang menguasai setiap sel otak saya.


Karena...

Sekali lagi, kamu gadis bernama A.

A untuk segala inspirasi saya.




Memajang award yang diberikan Aulawi Ahmad. Semoga ide saya bisa terus lancar.


NOTE: Maaf, lama sekali nggak update blog cerpen ini. Beberapa minggu belakangan sedang nggak bisa mencari ide yang sederhana untuk bisa dituliskan ke dalam bentuk cerpen. Tapi, saya harap saya masih bisa mencari ide lain. Huhuhu~ Saya nggak mau blog saya ini terbengkalai...*halah bahasamu nduk*

Thursday, January 7, 2010

Pohon Dalam De Javu

by : Clara

Langit menggantungkan semburat keoranyean, yang semakin lama semakin tertelan oleh kegelapan. Hingga sang pangeran cahaya berubah menjadi seorang dewi malam yang bercahaya pucat. Menerangi redup-redup jalanan setapak yang dilaluinya.

Gadis itu. Seorang diri. Di dalam balutan gaun tidurnya yang berwarna putih. Rambutnya tergerai, dibelai hembusan sang angin malam yang dinginnya menggerogoti setiap kulitnya yang tampak. Kakinya yang telanjang merasakan kelembapan tanah setiap kali dia melangkah. Namun, dia sama sekali tidak peduli.

Putus asa menggelayut di sepasang matanya yang bulat. Putus asa memayungi kepalanya selama dia terus berjalan, menyisiri jalanan setapak itu.

Untuk apa dia berada di sana?
Untuk mencari. Sesuatu.
Dan dia tetap melangkah, mulai memasuki daerah yang dipenuhi oleh pepohonan rindang. Dia tidak takut sedikit pun. Kakinya masih mantap, hatinya masih terus mendesak dan pandangannya masih sama. Putus asa. Ada bekas-bekas air mata yang membasahi pipinya yang tirus.

Sekelibat bayangan itu muncul. Dia yakin merasa begitu familiar dengan tempat ini. Sekilas, bayangan De Javu itu hadir. Memperlihatkan hal yang sama dengan yang berada di hadapannya saat itu. Hingga dia semakin ingin menembus hutan itu hingga ke dalam. Jauh lebih dalam.

Dia mulai berlari. Perlahan. Lalu sedikit lebih cepat. Akar-akar besar menghambat langkahnya. Tapi dia tidak peduli. Dia terus berlari.

Hingga dia menemuinya.
Di sana, di dalam bola matanya, di ujung hutan itu. Sebuah Pohon tegak berdiri sendiri. Tampak begitu kesepian. Dan bayangan yang seperti de javu itu kembali melintas. Kali ini lebih jelas.

Ya, dia tau. Dia ingat.
Karena pohon itu, dulu tidak sendiri.
Karena dulu, dialah yang menemani pohon itu.

NOTE:

Kisah ini hanya selingan her wedding dress karena nggak enak nunda lama-lama majang award, hehehehe. Habis ini masih lanjut lagi kisahnya, kok.

Kisah ini hanyalah fiksi, tetapi penulis sengaja membuatnya untuk memberikan rasa terima kasihnya atas award yang diberikan oleh kawan sesama blogger.

Award dari Aulawi Ahmad di Dejavu.


Award dari Pohon.

Tuesday, December 22, 2009

Bunda dan Seragam Anyin

Gadis kecil itu gugup. Di satu tangannya, dia memegang sehelai seragam putih yang sudah pudar warnanya. Dengan langkah pelan, hingga tidak menimbulkan bunyi, Anyin--gadis kecil itu, mendekati Bunda yang sedang melipat pakaian kering di ruang tamu rumah kecil mereka.



"Bun," panggil Anyin dengan suara kecil. Jantungnya berdegup kencang.



Bunda pun menghentikan pekerjaannya sejenak. Dengan tatapan sedikit jengah, Bunda menoleh. "Kenapa, Nyin?" tanyanya.



Anyin mengulurkan seragam yang sedari tadi hanya berada di dalam pegangannya. Bunda mengernyitkan kening, namun hanya bergeming. "Seragam Anyin, Bun. Sudah terlalu lusuh dan kuning warnanya. Anyin malu pakenya. Soalnya temen-temen Anyin banyak yang ngeledek Anyin di sekolah," jelasnya agak takut.



Bunda masih terdiam dengan pandangan yang kali ini turun ke atas seragam di tangan Anyin itu. Wajah letihnya semakin memperjelas kerut-kerut tua di bagian kening dan sudut matanya.



"Mau bagaimana lagi, Nyin," sahut Bunda setelah menghela napas. Bunda kembali bekerja. "Bunda nggak punya uang untuk beli seragam baru. Lagipula, dibeli berapa kalipun seragam mu akan tetap terlihat kuning. Yang salah air yang kita gunakan. Sudah dari sananya berwarna kekuningan."



Anyin mengatupkan bibirnya. Dia ingin sekali bicara, bahwa seragam adiknya masih bisa terlihat bagus. Paling tidak, tidak berwarna kuning seperti kepunyaannya. Seragam adiknya mendapat perlakuan khusus dari sang Bunda. Setiap saat, Bunda selalu mencuci seragam adiknya dengan air yang mereka beli khusus untuk dimasak sebagai minuman karena jelas mereka tidak mungkin menggunakan air keran yang berwarna kekuningan itu untuk minum. Sehingga sampai kini pun, seragam adiknya masih tampak bersih.



Anyin menelan semua protesannya itu ketika melihat keletihan di wajah Bunda. Dengan hati yang kecewa, Anyin memilih kembali ke kamar. Berpikir, bagaimana dia bisa mendapatkan seragam baru.



*



Secara diam-diam, Anyin membantu Ibu kantin sekolahnya untuk bersih-bersih kantin selama beberapa hari. Dari pekerjaan itulah, Anyin mendapatkan sedikit uang yang dia kumpulkan hingga paling tidak cukup untuk membeli seragam seharga lima puluh ribu. Dengan dorongan untuk menepis semua rasa malu yang diterimanya dari hinaan kawan-kawan sekolahnya, Anyin pun segera bergerak menuju pertokoan yang menjual seragam. Dia harus membeli seragam itu, supaya tidak ada satu pun orang yang menghinanya lagi.



Hatinya kini dipenuhi semangat yang menggebu-gebu. Bayangan Bundanya yang bangga akan hasil jerih payah Anyin berusaha mendapatkan uang untuk membeli seragam baru, bayangan teman-temannya yang akan tutup mulut saat Anyin menggunakan seragam baru, dan juga bayangan si adik bahwa Anyin juga bisa memiliki seragam sebagus kepunyaannya. Namun, semua bayangan itu luntur, ketika Anyin melintasi sebuah toko perhiasan.



"Bunda ingin sekali punya perhiasan. Kalau sewaktu-waktu kita butuh, kita bisa jual perhiasan itu. Jadi nggak perlu lagi ada kesulitan ekonomi seperti sekarang. Emas itu kan harganya terus naik."

Kata-kata Bunda dulu, terngiang di telinga Anyin. Kata-kata dengungan dalam kepala yang akhirnya membuat Anyin justru melangkah masuk ke dalam toko perhiasan itu.



"Anyin mau beli perhiasan," kata Anyin pada seorang penjaga toko. "Tapi...Anyin hanya punya uang segini." Dikeluarkan semua harta bendanya itu dari saku seragamnya. Semuanya hanya berjumlah lima puluh lima ribu saja.



"Wah kalau segini nggak bisa beli apa-apa, dik." Penjaga toko itu berpikir sejenak. "Tapi kalau adik mau yang imitasi, bisa dapet, nih."



Lalu penjaga toko itu menyodorkan sebuah kalung perak berbandul hati yang tampak sama berkilaunya tapi tentu saja berbeda jauh kualitasnya. Anyin langsung menyukai kalung tersebut. Dia tidak mengerti dengan imitasi atau bukan, tapi dia suka kalung itu. Dan Anyin hanya berpikir bahwa Bunda pasti akan menyukainya.



*



Entah kenapa pada akhirnya Anyin memilih untuk menggunakan uangnya bukan untuk membeli seragam. Anyin sendiri tidak tau. Dia hanya memikirkan Bunda, meskipun perlakuan Bunda terhadapnya sedikit tidak adil. Tapi Anyin tau, Anyin sangat sayang pada Bunda. Dan Anyin juga tau, pengorbanannya tidak sia-sia.



Anyin kehilangan seragam impiannya, namun Anyin tidak akan pernah kehilangan senyum Bunda yang terekam dalam memori hatinya.











Note:


Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika terjadi kesamaan nama tokoh, adalah kesengajaan penulis yang ingin berterima kasih kepada ANYIN atau pemilik dari Nindalicious yang kini blognya juga kekuningan (hihihihi...) atas AWARD yang diberikan untuk blog cerpen. Pesannya supaya saya semangat menulis lagi. Karena itu juga, saya sudah berencana untuk membuat lanjutan dari Her Wedding Dress. Mudah-mudahan nggak terganggu sama penyakit andalan saya : moody. Hehehe... (kepikiran besok buat blog namanya moodilicious kali ye :P *dijitak Anyin)





Dan terakhir, pesan dari author

Selamat Hari Ibu

Thursday, December 10, 2009

Let's Making Friend

"Kamu percaya persahabatan dalam dunia maya?"

Kata-kata itu pernah dia tanyakan padaku. Entah apa yang membuatnya mendadak mengajukan pertanyaan tersebut. Tapi yang jelas, tanpa menunggu atau pun berfikir lebih jauh, aku langsung mengiyakannya. Memangnya kenapa dengan persahabatan dunia maya? Apa ada sesuatu yang salah dengan media tersebut?

"Aku percaya," kataku tegas.
Aku percaya bahwa persabatan ada dimana pun, dalam bentuk apa pun, tanpa mengenal media yang mendasarinya.

Dia hanya terdiam.

Lalu aku meraih sesuatu dari dalam tasku. Kukeluarkan sebuah buku dengan gambar spongebob di bagian depannya. Si kuning dengan mata bulat yang tampak ceria itu, seolah menatapku sambil nyengir. Berikutnya, aku menggeser buku tersebut hingga dia bisa melihatnya dengan sangat jelas. Keningnya berkerut. Kemudian dia menatapku dengan matanya yang bening dan dipenuhi aura kebingungan.

Aku tersenyum sejenak. "Kamu tau? Ini hadiah dari sahabatku di dunia maya. Kami belum pernah bertemu tapi dia memberiku hadiah ini sebagai tanda persahabatan."

Dia terpana menatapku. "Aku tetap tidak percaya."

Aku menghela napas. Susah memang menasehati seorang keras kepala. Jadi, aku hanya mengangguk.

"Kamu punya hak untuk nggak percaya. Mungkin memang kamu belom merasakannya."

Aku tidak berharap dia memaksakan diri untuk sependapat denganku. Dia temanku, tapi dia juga punya hak untuk tidak mendukungku. Aku tau, sulit dijelaskan dengan akal sehat bagaimana persahabatan dalam dunia maya itu. Tapi aku selalu percaya.

NOTE:

Postingan cerpen ini saya buat untuk tealovecoffee yang bersedia melirik blog cerpen yang agak-agak terlantar karena saya jarang update cerpen ini, untuk diberikan sebuah award.

Saturday, November 21, 2009

Hadiah Dari Sang Guru

Laki-laki itu duduk terdiam, di atas kursinya. Dia menatap keluar jendela, meskipun setumpuk buku berada di hadapannya. Senyum yang tak lekang dari wajahnya, membuat siapapun tau bahwa dia adalah seseorang dengan dedikasi tinggi atas sebuah kata bernama pendidikan. Dia rela bangun pagi, hanya untuk membagi ilmu dengan murid-muridnya. Dia bahkan tak mengeluh ketika harus tidur terlalu larut, ketika harus memeriksa tulisan murid-murid didikannya. Dia tau, apa yang terbaik untuk murid-muridnya.

Pandangannya menoleh ketika enam belas orang siswa, masuk ke dalam kelas. Dia masih mengukir senyum itu, dan melontarkannya kepada para siswa. Tidak ada yang tidak membalas senyum itu. Mereka tau, laki-laki yang sedang duduk itu adalah guru sekaligus sahabat yang tidak akan bisa digantikan dengan apapun. Terlalu berharga, lebih dari apapun.

"Hari ini ladang saya panen," guru itu memulai percakapan kepada enam belas siswa ini. "Karena itu," dia merogoh kolong mejanya dan mengeluarkan sekeranjang apel merah yang begitu ranum. "Sebagai lambang persahabatan yang tak lekang oleh waktu dan tak terbatas hanya karena profesi, saya ingin membagi apel yang saya petik sendiri ini untuk kalian."
Dengan perasaan penuh haru sekaligus bangga yang membuncah, satu per satu siswanya mulai maju dan menerima apel itu. Apel istimewa yang diberikan oleh orang yang memiliki jasa begitu besar dalam memberantas kebodohan.

---

Sebagai salah satu dari siswa itu, saya juga mau memamerkan 'apel ranum' yang diberikan oleh guru bernama Bang Munir.

Award backlink


Heartfelt Blogger Award

Blogger Award Comunity

Terima kasih untuk award terhadap blog cerpen ini ^^
semoga dengan award yang diberikan, bisa membuat saya tetap berkarya dalam membuahkan imajinasi-imajinasi lainnya yang masih tertinggal di dalam kepala