Otousan, hanabi ga deta.
(ayah, kembang apinya muncul)
Dou? Hanabi ga kirei datta ne.
(gimana? kembang apinya cantik, ya)
Otousan, atashi hanabi ga daisuki desu. Itsuka, hanabi mitai ni naritai.
(ayah, aku suka banget kembang api. suatu hari nanti, aku mau menjadi seperti kembang api)
E? Doushite, hanabi tte?
(loh? kenapa seperti kembang api?)
Hanabi ga atashi mitai hosokute hikari o tsukureru kara desu. Kurai sora mou kuraku narimasen. Dakara atashi mo ankoku ni de hikaritai.
(karena kembang api kurus seperti aku dan bisa menghasilkan cahaya. Langit yang gelap jadi nggak gelap lagi. karenanya aku mau bercahaya di atas kegelapan)
Pria setengah baya itu menunduk menatap putri kecilnya dengan mata sipitnya yang penuh dengan rasa kagum sekaligus terharu. Pesta musim panas hampir saja berakhir dan sisa-sisa cahaya kembang api masih meninggalkan jejak di langit yang gelap. Tapi, rangkaian impian diatas kata-kata yang meluncur dari bibir mungil putrinya, seperti memberikan secercah pengharapan.
Mungkin suatu hari nanti, kehidupannya--juga putrinya, terbebas dari dunia gelap berkedok kejahatan. Ya, pria itu tidak akan mendukung putrinya hidup di atas tanah bergelimpangan darah.
Ditulis hanya untuk melatih kemampuan bahasa jepang penulis yang masih belum berkembang.
Jika menemukan kesalahan tata bahasa, bisa berkomentar.
Dan, masih memiliki benang merah dengan postingan kemarin.
Semua...
Tentang 'hitam'