Monday, October 26, 2009

Bulan di Ujung Labirin

Paras wanita itu pucat, terlukis dalam sebentuk wajah oval. Matanya yang bulat dan dinaungi bulu mata lentik, tidak menampakkan sinar kehidupan, telah reduplah semangat untuk bisa memikirkan kejutan apa yang akan menanti di hidupnya esok, tengah memandang hampa ke satu-satunya ventilasi yang ada di ruang tersebut. Dia seperti boneka mati yang teronggok terlupakan di sana. Di ruangan persegi yang sempit, dengan keempat sisi berupa dinding bambu reyot yang lapuk, dipenuhi udara pengap dan angin memain-mainkan sekumpulan titik debu hingga menari di udara.

Bagaimanakah rasanya menjadi seekor burung?

Hanya itu yang selalu melintas di benak yang saraf-saraf otaknya telah rusak karena terlalu lama dikubur dalam kehampaan yang begitu lama. Lima belas tahun. Terpasung. Dalam ruangan dingin.

Sang kakak, seorang laki-laki yang dikenal wanita itu sebagai seorang pangeran yang baik hati karena hanya dialah yang selalu mengantarkan makanan untuknya, selalu berdenyut hatinya ketika melihat keadaan adik satu-satunya. Kasihan. Namun, adiknya itu selalu dianggap gila oleh orangtuanya hingga berujunglah pada keputusan pemasungan tersebut. Padahal wanita itu tidak gila. Jiwanya hanya terperangkap dalam dunia kosong, sehingga selalu merasa ketakutan dan akan panik begitu melihat orang banyak, sehingga timbullah penyerangan-penyarangan kecil terhadap orang sekitar. Hanya karena dia takut, lalu berusaha melindungi diri sendiri. Namun hal ini justru memicu rasa malu orangtuanya karena ulah wanita itu yang sejak kecil selalu membuat para tetangga merasa was-was.

Tetapi ada satu keputusan lain yang dibuat sepihak oleh sang kakak laki-laki. Pria berusia dua puluh delapan tahun yang rela tidak menikah karena pandangan miring mengenai adiknya itu memastikan kalau di hari ulang tahun adiknya yang ke-25, dia akan mendapat sebuah kejutan yang tidak akan pernah dia duga. Kejutan yang bahkan tidak pernah datang, karena bagi wanita itu, harinya seperti sebuah ruang hampa. Hatinya pun sama. Tidak pernah ada sejumput harapan tersempil di kepalanya.

Subuh menjalang. Sang adik masih terlelap dalam mimpi yang entah apa isinya, sementara sang kakak diam-diam membuka pengunci rantai besi yang melilit di pangkal kakinya yang kecil. Digendongnya tubuh mungil itu ke punggung si pria. Pelan-pelan sekali, hingga nyaris tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan sang adik dari dunia bunga tidur. Tubuh itu terasa ringan, hingga sang kakak yakin, berapa jauh pun melangkah, dia akan sanggup menopangnya.

Kaki panjang dan berotot kokoh itu terus melangkah, melewati pematangan sawah yang licin, sungai-sungai kecil, hingga sampailah mereka pada sebuah padang rumput yang luas. Banyak sekali bunga buntut kucing yang menari dengan gemulai karena tertiup angin segar pagi hari. Semburat keunguan gradasi dari biru pekat mulai tampak di langit, menggantikan kegelapan yang diterangi oleh sang putri malam. Dengan lembut ditepuknya pipi sang wanita yang masih tenang di pundak pria itu.

Mata itu bergerak berat. Namun udara lembut yang membelai setiap kulit wanita itu, akhirnya ikut membuat wanita itu benar-benar terjaga dari tidur lelapnya. Sekali lagi matanya mengerjap, ketika kepalanya terangkat dan biji mata berbentuk almond itu menangkap siluet keindahan alam yang tidak pernah dia temukan dalam hidupnya. Bibir yang tidak meluncurkan kata-kata itu, tertarik ke samping kanan dan kiri. Senyum lebarnya, memamerkan gigi yang berantakan dan agak kekuningan. Matanya…mata kosong itu kini memancarkan satu percikan cahaya gairah kehidupan yang tidak pernah tampak. Pesonanya lumer bersama dengan mlai munculnya matahari di ufuk barat.

Dan dia hidup.

Direntangkan kedua tangannya seperti seorang burung yang siap terbang, dihirup dalam-dalam aroma kebebasan yang ada di hadapannya itu. Dia menengadahkan kepala. Sekelompok burung tampak berenang di langit, mengepakkan sayap dengan semangat.

Kini, wanita itu mulai memahami menjadi seekor burung.

Saturday, October 24, 2009

Surat Untuk Seseorang (Dalam Kenangan)

SURAT UNTUK SESEORANG DALAM KENANGAN

Ketika aku menyadarinya, semua sudah terlambat. Dan setiap detik yang kulalui, penyesalan itu terasa menyesakkan.
Berjuta kata maaf, apakah sanggup membuatmu memaafkanku?

Kebodohanku, adalah melepasmu.
Tapi aku bukan keledai yang akan mengulang kesalahan yang sama. Ketika perasaan itu kembali datang, bolehkah aku mengulang semuanya sekali lagi?

Rasanya aneh. Aku begitu naïf telah menyangkal perasaanku sendiri. Mati-matian berkata tidak, sementara hati begitu menginginkanmu kembali untukku.
Bolehkah kamu menemani hari-hariku lagi? Bolehkah kamu yang menjadi bayangan di saat aku berjalan tegak maupun di saat aku jatuh? Bolehkah hanya kamu yang menopang diriku?

Jika satu bulir air mata ini jatuh, semua karena usahaku menahan rasa cinta yang ingin kusampaikan, namun tak kunjung terucap karena ketidakmampuanku.
Jika satu senyuman ini mengembang, semua karena teringat akan kebersamaan denganmu.

Karena itu, bisakah kita bersama lagi? Selamanya.

Yang selalu menantimu.

Friday, September 25, 2009

Kisah Sepasang Mata bag 1

By : Clara

Keterangan
Noona: panggilan cowok yang lebih muda untuk cewek yang lebih tua


PROLOG

Katamu, bagaimana kebebasan itu?

Dia mengepalkan tangan dengan sangat kuat. Hingga buku-buku jarinya terasa perih dan memerah. Ujung-ujung kukunya pun menancap kuat di telapak tangan. Otot-ototnya turut menegang. Seolah semua emosi dan tenaga mengalir ke satu titik.

Apapun, dia bersumpah, akan dilakukan demi terbebas dari himpitan yang telah menekan setiap aliran darahnya. Bahkan menekan hampir setiap detak jantung dan napas.

Dan saat kebebasan itu hampir menyapa, bukan keinginannya untuk berlalu dari semua itu. Keadaan mendesaknya. Begitu kuat, hingga kepalanya terasa sakit. Bahkan tidak ada lagi akal sehat yang bisa membantunya berpikir dua kali dalam membuat keputusan. Tidak ada yang akan menghalanginya.

Dia sudah bersumpah.

Ketika sebuah kesalahan itu terjadi, keterpurukannya ternyata mampu membawa kepada dua hal : kebebasan dan kebahagiaan orang itu.

Dalam kekalutan yang bahkan uang pun tidak mampu membayarnya, dia berlari seperti orang kesurupan. Dia membiarkan keremangan malam merayapi kesendiriannya, dia juga membiarkan angin malam yang menerpa wajah, mampu membawa pergi seluruh penderitaannya.

Tapi dia tau, bukan angin malam yang akan menghapus semua sakitnya.

Lalu, dengan wajah memelas, dia hanya bisa memohon pada laki-laki itu. Dia hanya bisa berharap kalau laki-laki itu bersedia membantunya. Meski semua telah diaturnya.

Separuh sudut bibirnya terangkat, menghadirkan senyum penuh misteri. Antara kesedihan dan kebahagiaan yang begitu tipis. Tapi dia sungguh berterima kasih pada orang itu.

Dan kini, aku tau apa arti bebas yang sesungguhnya….

****

Kaki berlapis sepatu sport yang sudah kusam itu, berhenti mendadak di depan sebuah rumah yang tampak tidak terawat. Mata sipitnya memicing kala menatap bangunan di hadapannya - menghadirkan sebuah sorot keengganan.

Laki-laki itu menelan ludah. Pahit.

Seandainya ada pilihan lain, tentu dia tak ingin kakinya bergerak memasuki rumah tersebut. Rumah kecil yang bahkan halamannya begitu kotor dengan timbunan daun-daun kering. Sejenak langkahnya kembali tertahan, saat dia menangkap suara-suara tawa ringan dari dalam ruangan. Namun, berpura-pura tidak menyadari apa yang sedang terjadi, dia melangkahkan kaki ke dalam ruangan.

“Hei! Hong Gi!!” seru seorang wanita dengan begitu tajam.

Dengan malas, cowok bernama Hong Gi itu menolehkan kepalanya. Tapi ekspresinya datar dan cenderung dingin. Tidak ada kata-kata yang meluncur dari bibir tipisnya.

“Hei…kenapa kau?! Apa kau bahkan tidak mau menyapa Ibumu sendiri? Apa aku tidak pernah mengajarimu sopan santun?” sindir wanita itu sambil melirik penuh maksud ke arah seorang pria tengah baya di sebelahnya. “Dia yang akan jadi Ayahmu…! Setidaknya….”

“Tak usah belagak pernah mengajariku,” potong Hong Gi acuh.

Hong Gi baru saja hendak melangkah ketika paras wanita yang penuh dengan bedak dan gincu itu memerah karena marah. “Hei!! Anak sial kau!! Jangan harap aku sudi mengakuimu sebagai anak!” Wanita itu hampir saja bertindak seolah kesetanan, seandainya pria tadi tidak mencegahnya. Sementara Hong Gi, berlalu tanpa merasa bersalah.

Baru saja Hong Gi melewati kamar kakak perempuannya, sudut matanya menangkap sesuatu. Hal yang membuat kepala Hong Gi tak tahan untuk menyembul dari balik pintu. Yang akhirnya menyentakkan dirinya hingga ke titik paling bawah. Kebencian.

Si Nae, kakak satu-satunya yang sangat Hong Gi sayang, saat itu sedang meringkuk di sudut ruangan. Wajahnya putih pucat, rambut panjang hitamnya berantakan, dan dia tampak menikmati setiap suntikan yang menembus kulit mulusnya.

Tubuh Hong Gi seakan menegang. Matanya terbelalak hingga terasa perih. Rahangnya pun bergemeletuk menahan emosi yang merayap di seluruh tubuhnya. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya sakit dan kukunya menancap di telapak. Napasnya mendadak tersengal, seakan-akan baru saja menahan napas untuk beberapa menit.

Tergesa-gesa, Hong Gi segera keluar rumah melalui pintu samping dan melompati pagar yang cukup tinggi. Kemudian, Hong Gi berlari. Terus berlari hingga keringat mengucur dan jantungnya berdetak begitu kuat. HIngga Hong Gi merasa seluruh tenaganya habis.

Dan dia berhenti di sebuah pantai.

Hong Gi mengatur napasnya. Mengatur detak jantungnya. Pundaknya naik turun karena kelelahan dan paru-parunya sedang memompa udara lebih banyak untuk bisa bernapas normal. Setelah cukup tenang, Hong Gi menatap ujung laut. Tangannya masih mengepal. Perkiraannya salah. Emosi Hong Gi belumlah hilang. Karena itu Hong Gi berteriak seperti orang kesetanan, memaki-maki dalam gumaman tak jelas, dan kakinya bergerak seperti menendang sesuatu ke segala penjuru.

Kalau boleh ku katakan, sungguh aku membenci kalian. Apakah kalian pantas ku sebut keluarga?

****

Kini, saat malam tengah merayap, langkah Hong Gi terseok seperti tidak tentu arah. Otaknya memerintahkan, kemana saja, asal tidak kembali lagi ke rumah. Paling tidak untuk saat itu. Selebihnya, kepala Hong Gi sama sekali tidak mau berpikir. Sudah cukup otaknya berdenyut kesakitan karena dipaksa bekerja begitu keras. Membuat Hong Gi tampak seperti zombie yang sedang bergerak. Pandangan matanya sayu dan tidak ada semangat.

Hingga akhirnya, kaki itu kembali berhenti. Namun kali ini di depan sebuah undakan di dalam lorong kecil, yang menuju ke sebuah gerbang kayu dimana sebuah rumah mungil yang sangat tradisional berdiri kokoh. Hanya ini satu-satunya harapan. Hanya dia. Hong Gi sungguh tak tau lagi harus berharap pada siapa.

Tapi, begitu buku-buku tangannya beradu dengan gerbang kayu, Hong Gi mengurungkan niat. Dia menatap ujung sepatunya dan mendesah.

Karena, entah kenapa, saat itu aku merasa begitu malu bertemu denganmu….

Berikutnya, Hong Gi memilih untuk duduk di undakan ke dua. Disenderkan kepalanya ke sisi lorong batu. Tampak begitu pucat dan putus asa.

“Hong Gi?” suara itu bagai sangkakala yang bergema merdu. Sungguh, Hong Gi begitu senang bisa mendengarnya. Meski terasa berlebihan pun, Hong Gi tidak mau peduli. Yang dia peduli hanyalah suara itu. Suara lembut yang bayangan pemiliknya terasa semakin mendekat.

Hong Gi mengangkat kepalanya. Wajah datar itu, sedikit banyak menampakkan reaksi penuh syukur.

“Apa yang kau lakukan?”

Hong Gi tak kuasa melemaskan otot wajahnya. Bagai bertemu seorang peri, ingin sekali Hong Gi menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. “Noona…Boa noona…” suara seraknya hilang timbul karena udara dingin yang menusuk.

“Hong Gi…” perempuan bernama Boa itu sepertinya langsung sadar apa yang sedang terjadi, hanya dengan melihat ekspresi Hong Gi. “Bukankah di sini dingin?”

“Noona…” Hong Gi bangkit berdiri. Tanpa banyak kata lagi, dia langsung menarik tubuh Boa hingga menabrak dadanya yang bidang. Dipeluknya kuat-kuat perempuan di hadapannya itu, sesuai dengan keinginannya.

Boa tidak berani bergerak. Dia mengerti apa yang terjadi. Karena itu dia membiarkan tubuh besar itu mendekapnya.

Kau tau? Aku selalu suka memelukmu. Karena aku suka mencium aroma rambutmu….

****

Kalaupun akhirnya Hong Gi harus kembali merepotkan Boa dengan menginap di rumahnya, bukan berarti bahwa Boa harus menyiapkan sarapan untuknya. Kebalikan dengan itu, Hong Gi justru sengaja bangun pagi-pagi buta untuk membelikan sarapan dan menyiapkannya untuk Noona.

Dua buah roti isi kacang merah dan dua gelas susu hangat, berkumpul menjadi satu dalam sebuah kantong plastik, yang kini sedang bergelayut di tangan Hong Gi. Memang bukan makanan mahal, tapi Hong Gi tau, Noonanya itu sangat menyukai roti isi kacang merah. Karenanya, meski Hong Gi tidak begitu suka kacang merah, dia tetap memilih menu yang sama.

Harapan bahwa Boa akan menikmati sarapan bersama dengannya, mendadak sirna begitu Hong Gi melintasi pinggir jalan, yang merupakan arah menuju rumah Boa.

Di hadapannya -perempuan yang di mata Hong Gi memiliki aura yang hampir mirip dengan SI Nae, kakaknya- sedang bersama laki-laki lain. Dan orang itu adalah Jong Hoon, seseorang yang selama ini selalu dianggap musuh oleh Hong Gi.

Darah Hong Gi mendidih, ketika melihat Boa menarik tangan Jong Hoon yang hendak berbalik dan saat laki-laki itu menghentikan langkahnya, Boa langsung merangkul punggungnya.

Dan kali ini kemarahan Hong Gi langsung meledak. Dijatuhkannya kantung berisi makanan itu, sebelum akhirnya dia menghampiri Jong Hoon dan dengan membabi buta memukuli laki-laki itu. Hong Gi seperti kerasukan sesuatu. Dia terus saja menghadiahkan tinju pada Jong Hoon yang kewalahan karena mendapat serangan mendadak. Sementara di belakang sana, Boa menjerit histeris dan sedikit panik. Berharap pertolongan orang-orang di sekitar yang mulai ramai menonton, namuan tidak satu pun yang berusaha melerai.

“Hong Gi!! Hentikan!” jerit Boa. “Aku bisa menjelaskan semuanya. Ini sungguh bukan salah Jong Hoon….”

Tangan Boa bergerak-gerak di udara, seperti sedang menangkap angin, padahal dia ingin menarik Hong Gi dan menyingkirkan anak itu dari Jong Hoon.

“Hong Gi….”

Namun, berkali-kali pun Boa memanggil, berkali-kali pula suara merdu itu terabaikan. HIngga akhirnya, ketika Boa berhasil menarik baju Hong Gi, laki-laki itu malah menyodorkan sikunya ke dada Boa dan membuat perempuan itu terpental ke belakang. Boa meringis nyeri. Namun, kakinya terserimpat dan menyebabkan Boa kehilangan keseimbangan.

Semuanya sungguh terjadi dengan begitu cepat. Tidak ada yang menyadari antara Hong Gi dan Jong Hoon, kecuali orang-orang yang ada di sekitar.

Suara itu begitu keras. Seperti sesuatu yang terhantam besi.

Dan begitu Hong Gi menoleh, semuanya sudah terlambat.

****

“Dia buta.”

Begitulah kata dokter yang menangani Boa. Dua kata yang langsung membuat Hong Gi dan Jong Hoon yang mendengarnya, seakan membeku.

“Hanya ada satu cara, yaitu operasi apabila ada pendonor mata yang bersedia menyumbangkan mata untuk gadis itu,” kata pria berjas putih itu lagi. “Sayang, hanya orang yang sudah meninggal yang bisa menyumbangkan dan biayanya akan sangat mahal.”

Noona, apakah kau bisa memaafkanku, noona?

Lalu dokter itu berlalu. Meninggalkan kedua remaja yang tampak sebaya dalam kekalutan pikiran masing-masing.

Kisah Sepasang Mata bag 2

Entah apa yang merasuk ke dalam tubuh Hong Gi sehingga dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Langkahnya lebar-lebar, meniti setiap jalanan beraspal dan menembus angin musim gugur, dengan langkah lebar. Tampak tergesa-gesa. Wajahnya tampak diliputi kekalutan. Matanya pun bergerak liar.



Sesampainya Hong Gi di rumah, dia segera melesat menuju kamarnya. Seperti orang yang sedang kalap, Hong Gi membongkar seluruh perabotan kamarnya. Dia tampak mencari-cari sesuatu. Wajahnya diliput kepanikan, kemarahan serta penyesalan yang menjadi satu. Sesekali dia mendesah berat kala tidak mendapatkan apa yang dia inginkan di satu tempat, hingga dia harus mencari ke tempat yang lain.

HIngga akhirnya, ruangan persegi itu pun tampak begitu berantakan dengan segala benda yang terlepas dari tempat asal. Hong Gi terduduk pasrah di sisi tempat tidur dalam diam. Dia menjambaki rambutnya sambil mengerang kesal.

Aku tidak tau, meski aku sungguh ingin menangis untuk melepas emosi, namun aku tidak bisa menangis. Air mata itu tidak akan tumpah. Tapi noona, bukan aku tidak mengkhawatirkan mu. Sungguh….

****

Hong Gi baru saja membeli sekaleng bir. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia sangat sangat ingin mencicipi minuman keras tersebut. Dan sekarang, Hong Gi merasakan satu kepuasan ketika kaleng bir itu berada di tangannya. Meski tenggorokannya terasa panas dan kepalanya agak pusing. Dia tidak sadar kalau pipinya sudah mulai memerah.

Baru saja Hong Gi memutuskan untuk pulang, ketika kakinya melewati sebuah pub. Beberapa orang tampak hilir mudik keluar masuk dari tempat itu.

Hong Gi terpana di tempat, dengan tangan kanan memegang kaleng bir dengan posisi hendak meneguk minuman itu. Perlahan dia menurunkan tangannya dan seolah terpanggil oleh seseorang, kaki Hong Gi bergerak ragu memasuki tempat itu. Karena dia dianggap sudah dapat menunjukkan kartu identitas, maka Hong GI bisa masuk dengan selamat.

Dan reaksi pertamanya adalah : kagum.

Tidak tau siapa yang memulai, siapa yang menghampiri, atau siapa yang pertama melemparkan senyum menyapa, seorang perempuan berpakaian seksi segera mendekati Hong Gi. Dibimbingnya Hong Gi yang sedikit lebih pendek dari perempuan bersepatu hak tinggi itu, menuju sebuah meja.

“Kau…mau mencoba peruntungan? Atau sekedar bersenang-senang dengan kami?” Tanya perempuan itu dengan suara menggoda.

Hong Gi terpana menatap wajah mulus berlapis make up tebal milik perempuan itu. “Aku hanya ingin mendapat uang banyak.”

Perempuan itu menyunggingkan senyum terselubung sambil membalas tatapan Hong Gi dengan tajam. Kemudian dia meraih tangan Hong Gi dengan mesra dan membawanya ke sebuah meja lain yang ramai dikelilingi orang-orang. Asap rokok mengepul dari kerubungan itu.

“Peruntunganmu dimulai dari sana,” kata perempuan itu, menyuruh Hong Gi untuk bergabung dengan pria-pria tengah baya yang sedang terhipnotis dengan permainan Roulette, yaitu sebuah piringan berbentuk bulat yang berputar kencang dan menggunakan dua buah dadu yang dikocok untuk menentukan kemenangan.

Awalnya Hong Gi ragu akan hal tersebut, namun entah kenapa, tidak ada bagian dari dirinya yang memilih untuk mundur dari tempat itu. Sungguh di luar dugaan, ternyata di sanalah memang peruntungan Hong GI. Dalam setengah jam saja, Hong Gi sudah berhasil meraup setumpuk uang. Dan kini, seperti sudah terbiasa bermain Roulette, Hong Gi tampak begitu antusias. Tawa dan teriakannya membahana kala dia memenangkan sejumlah uang.

Perempuan tadi menggelayutkan tangannya yang mulus di leher Hong GI saat dia berdiri karena terlalu bahagia bisa memenangkan permainan yang baru sekali itu dimainkan. Sekejap Hong Gi terkejut dengan sikap mendadak si perempuan tak dikenal itu. Hong Gi bahkan hampir menyingkirkan tangan itu dari lehernya, namun entah kenapa dia mengurungkan niatnya dan berusaha menikmatinya. Hong Gi memberikan senyuman kaku pada perempuan itu.

Aku tidak tau kenapa, tapi aku hanya ingin melupakan kenyataan siapa diriku sebenarnya. Paling tidak untuk beberapa saat itu. Karena anehnya….aku merasa begitu bahagia.

****

Pagi itu, Hong Gi baru keluar dari pub. Dia terlalu menikmati suasana di dalam tempat itu, yang benar-benar bisa membuat dirinya lupa akan segala beban. Hong Gi lupa diri.

Tapi, kebahagiaan di dalam pub itu, berangsur-angsur menguap ketika Hong Gi tiba di rumahnya. Banyak orang berkerumun di depan sana. Semuanya tampak menjulurkan kepala, seperti ingin tau apa yang terjadi di dalam sana. Hong Gi mengedarkan pandangan. Sebuah mobil patroli polisi terparkir tidak jauh dari rumah.

Sama sekali tidak ada bayangan apa yang telah terjadi di rumahnya.

Penasaran, Hong Gi berusaha menerobos orang-orang yang menutupi jalan masuk ke rumahnya. Namun, belum sempat Hong Gi sampai di dalam rumah, dua orang polisi muncul dari dalam sambil menyeret seorang perempuan berambut panjang dengan kulit putih pucat. Perempuan itu berontak, namun tampak lemah. Dia menjerit histeris dan matanya sembab, tanda dia menangis. Tak lama berselang, sepasang pria dan wanita muncul. Dengan wajah panik, dia mencoba menahan polisi itu.

Hong GI langsung membeku di tempat. Tidak mungkin, Si Nae, kakak satu-satunya, akhirnya harus masuk ke dalam sel tahanan. Apa penyebabnya, Hong Gi tak perlu mencai tau. Dia sudah sangat mengerti keadaan SI Nae yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Tangan Hong Gi mengepal kuat-kuat hingga memerah. Kemudian, dia membalikkan badan dan segera berlari dari sana. Kali ini bukanlah pantai yang menjadi tujuan Hong Gi. Tapi dia.

Aku membencinya. AKu benci Si Nae. Dia bukan kakakku. Aku benci keluargaku. Apa aku masih tetap harus bertahan?

****

“Jong Hoon!!” seru Hong Gi seperti orang kesetanan.

Dia tau dimana biasa Jong Hoon menghabiskan waktu. KAlau bukan perpustakaan sekolah, pastilah taman belakang sekolah itu. Dan dugaannya benar. Jong Hoon ada di sana, sedang membaca buku dengan pandangan mata kosong.

Hong Gi mendekati Jong Hoon. DAlam keadaan emosi, Hong Gi langsung menarik leher kaos Jong Hoon hingga laki-laki itu berdiri dengan terpaksa. Buku bacaannya terjatuh begitu saja. Didorongnya tubuh Jong Hoon hingga punggunya menghantam sebuah pohon besar. Namun, wajah Jong Hoon tetap datar.

“KAtakan sejujurnya,” ancam Hong GI tajam. “Apa kau sungguh menyukai noona?”

Jong Hoon terdiam. Ekspresinya masih sama seperti sebelumnya.

“KAtakan!!” seru Hong Gi mulai berteriak.

Jong Hoon menarik napas. “Kalau kukatakan yang sejujurnya, apa kau akan percaya? Apa kau juga mau mendengar penjelasannya?”

Kini giliran Hong Gi yang terdiam. “Katakan…” katanya.

“Aku benci mengakui ini karena pasti aku akan menjilat ludah sendiri, tapi…” Jong Hoon menatap dalam Hong Gi, “…aku masih mengharapkan Sun Ye kembali padaku. Aku minta maaf, karena telah melukai perasaan noona-mu.”

Pegangan tangan Hong Gi mengendur dan tertahan di dada Jong Hoon dengan posisi tangan mengepal. Hong Gi membungkukan sedikit badannya dan menundukkan kepala, menatap sepatu. Dia menggeram dan lama-lama, geraman itu terdengar memilukan. Begitu terasa menyakitkan, hingga akhirnya sedikit air mata tumpah dari kedua bola matanya yang jernih.

“Tolong…” kata Hong Gi serak. “Bunuh aku…” ucapnya dengan hati-hati.

“Kau gila!” refleks Jong Hoon sambil mendorong Hong Gi. “Jangan bercanda dengan nyawamu sendiri, apalagi hanya karena kau merasa menyesal telah salah paham!”

Tubuh Hong Gi masih terbungkuk. Namun, matanya mendongak melirik Jong Hoon dengan tatapan mengerikan. “Kau pikir kau tau semuanya, hah? Kau pikir hanya karena menyesal lantas aku mau mati? Apa yang bisa kau lakukan kalau kau tidak bahagia? Apa yang akan kau lakukan kalau kau terperangkap dalam beban?” Hong Gi menegakkan tubuhnya. “Hanya ada satu kebahagiaan di hidup ini, mencintai dan dicintai. Kalau kau bahkan tidak bisa melakukan keduanya, apa kau tetap ingin hidup? Aku bahkan tidak bisa mencintai noona dengan tulus. Aku hanya teringat pada Si Nae onni ketika bersama noona. Dan kini…dia bahkan bukan kakakku lagi!!” kemudian Hong Gi menggeram. Dia kembali menerjang Jong Hoon dan memukulinya tanpa ampun, seolah Jong Hoon lah yang bertanggung jawab atas semua kejadian yang menimpanya.

“Tolong…bebaskan aku,” pinta Hong Gi sekali lagi saat dia sudah merasa letih memukuli Jong Hoon yang tak menggubris. “Serahkan mataku, untuk noona. Kumohon.”

Hong Gi menyodorkan sebilah pisau pada Jong Hoon sambil tersenyum licik. Mata itu berkilat penuh kemenangan, ketika Jong Hoon akhirnya menerima pisau tersebut dengan tangan bergetar. Ujung pisau itu sudah terarah pada Hong Gi. Tepat pada jantungnya. Masih dengan senyum mengerikan, Hong Gi meraih tangan Jong Hoon dan membantu menghunuskan pisau tersebut ke jantungnya sendiri.

Jong Hoon membeku. Wajahnya pucat.

Ketika akhirnya cairan kental berwarna merah dan berbau anyar itu perlahan mengalir, Hong Gi mendorong tangan Jong Hoong. Dia menghapuskan jejak tangan Jong Hoon dalam pisau dan tersenyum senang. Tampak sedikit binar di mata jenakanya yang belakangan seolah tertutup kabut.

“Berikan noona kebahagiaan,” kata Hong Gi pelan sesaat sebelum terjatuh.

Kini, akhirnya aku bisa menjangkau kebebasan. Inilah kebahagiaanku. Noona, selamat tinggal. Maaf, kuharap di kehidupan mendatang, aku bisa mencintaimu dengan tulus.

****

Seorang gadis berdiri di depan sebuah nisan. Dia mengenakan pakaian serba putih dan kacamata hitam bertengger manis di tulang hidungnya. Sepasang mata di balik pelindung berwarna gelap itu, menatap nama yang tertoreh di nisan dengan sorot sedih dan kecewa.

“Hong Gi….maaf,” kata gadis itu dengan bibir bergetar.

Sebulir air mata, jatuh ringan di salah satu pipinya. Ada perasaan menyesal yang secara tiba-tiba begitu menyesakkan seluruh rongga dadanya. Perasaan yang sulit diungkapkan, namun terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.

Karena tanpa di sadari, Boa sangat membutuhkan keberadaan Hong Gi.

Satu Bintang Yang Terlupa (Re-Posting)

By : Clara

Sebagai seorang siswa SMA, Jong Hoon bukanlah cowok yang suka belajar. Jong Hoon juga bukan cowok yang menyukai keramaian. Jong Hoon lebih menyukai suasana sepi sambil membaca. Dan untuk itu Jong Hoon harus mempunyai sebuah tempat persembunyian.

Tempat itu berada di sudut perpustakaan sekolahnya. Tempat yang tenang dan jauh dari jangkauan hingar bingar kawan-kawan. Tidak ada yang tau soal kebiasaan Jong Hoon ini. Tidak ada, karena Jong Hoon pun nyaris tidak memiliki teman dekat. Sikapnya yang pendiam serta sedikit canggung dan kaku, membuat Jong Hoon popular hanya karena wajah putihnya yang tampan. Karena itu, tidak akan ada yang tau kemana Jong Hoon pergi, jika dia tidak ada di bangku kelasnya.

Tapi dia tau.

Dia, cewek yang setahun ini selalu bersamanya dan sedang berada dalam kepala Jong Hoon, saat ini—saat tangannya sibuk melipat-lipat kertas berkilauan warna warni, menjadi sebuah bentuk bintang yang indah.

Kalau aja ada anak perempuan yang ngeliat apa yang aku lakuin waktu itu, pasti mereka bisa ketawa…

Jong Hoon tersenyum. Bintang-bintang buah tangannya sudah terkumpul sangat banyak di dalam sebuah toples plastik. Yah, target Jong Hoon memang membuat seribu bintang. Katanya, dengan seribu bintang yang kita kerjakan, bisa mengabulkan sebuah permintaan.

Dan Jong Hoon punya permintaan itu.

Semua untuk cewek itu…

Sun Ye…

***

Setelah bel pulang berbunyi, Jong Hoon keluar dari persembunyiannya. Tadi pelajaran Biologi dan Jong Hoon sudah membolos karena tidak suka dengan pelajaran ilmiah tersebut. Jong Hoon lebih memilih sibuk dengan bintang-bintang hasil tangannya, yang ternyata begitu rapih.

Sambil memandangi toples plastik berpita merah muda di tangan kanannya, Jong Hoon melangkah menuju kelas Sun Ye, di lantai dua. Senyum mengembang, membayangkan Sun Ye akan menyukai hadiah kejutan yang sederhana itu.

Sepatu sneakers Jong Hoon berhenti tepat di depan pintu kelas 11.3. Namun, Jong Hoon urung untuk masuk ke kelas, apalagi menghampiri seorang cewek berambut hitam pendek, yang sedang berdiri sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Dia membelakangi pintu masuk kelas.

“Kenapa kau menuduhku menyukai Jong Hoon?! Aku dan Jong Hoon tidak pernah lebih dari sekedar teman dan kalian tau untuk siapa aku melakukan ini, kan? Won Bin...teman kalian juga. Orang yang paling kusayang…,” suara lembut itu terdengar sinis.

Senyum Jong Hoon mendadak sirna. Matanya yang sipit berkilat kecewa. Ada rasa marah yang menyeruak di dada. Tangan kirinya mengepal kuat-kuat.

Jong Hoon masih tetap berdiri di balik pintu.

“Ya, tentu saja kalau Jong Hoon tidak memukuli Won Bin hingga babak belur, aku tidak akan sudi berkenalan dengan Jong Hoon…Ok, aku mengerti…Rencana kita pasti berhasil…Ok, kalian tunggu saja…”

Sebelum percakapan itu usai, Jong Hoon buru-buru meletakkan toples plastiknya di depan pintu. Setelahnya, Jong Hoon memilih pergi.

Pikirannya kacau. Hatinya baru saja tersayat begitu perih. Kini dalam kepalanya, masa lalu itu seolah kembali terbuka. Dia harus menenangkan diri. Dan setelahnya, berpura-pura tidak ada yang terjadi.

Semua hanya mimpi buruk.

Aku mungkin pengecut, tapi cukup jelas kalau aku bodoh karena bisa tertipu kamu, Sun Ye. Ah….salah, rasanya aku terlalu bodoh karena kamu satu-satunya yang nggak bisa ku benci...

***

FLASHBACK

Hari itu hujan cukup deras mengguyur kota.

Di sebuah lapangan, tampak enam orang cowok berdiri berhadapan dengan seorang cowok lain, tanpa peduli tetesan air yang membasahi seluruh tubuh mereka.

Dua sisi kubu yang sangat bertolak belakang. Mereka saling menghujam dengan sorot mata yang tajam dan penuh dengki. Seorang cowok yang berdiri sendiri, mengepal kuat-kuat tangannya.

“Kau yang akan bertanggung jawab,” katanya dengan suara dalam yang tertelan bunyi gemuruh hujan. “Kau harus mati.”

“Aku...Oh Won Bin tidak mungkin mati hanya karena satu orang seperti kau,” jawab seorang cowok berambut lurus, yang berdiri paling depan di kubu yang berbeda.

Cowok yang sendirian bernama Jong Hoon itu tersenyum sinis. “Satu lawan satu,” ujarnya.

Won Bin mengangguk pelan. Kemudian, sesaat dia berbalik menghadap kelima temannya dan menyuruh mereka untuk tidak mencampuri perkelahian kali itu. “Ini urusanku dengan bajingan itu,” ujar Won Bin.

Setelahnya, Won Bin mendekati Jong Hoon dan langsung mengarahkan satu tinju tepat ke arah ulu hati cowok itu. Jong Hoon terhuyung tapi tidak terjatuh. Air hujan membuat mata sipitnya kesulitan untuk melihat dengan jelas wajah Won Bin. Tapi Jong Hoon tidak peduli. Segera setelah serangan pertama Won Bin, Jong Hoon melemparkan sebuah pukulan.

Won Bin bertahan dengan satu pukulan itu dan membalas Jong Hoon dengan tinju lain di pipi Jong Hoon. Tidak mau kalah, Jong Hoon kembali membalas Won Bin. Tendangan, tinju ke seluruh bagian tubuh, semua saling dilayangkan. Hingga akhirnya sebuah celah, membuat Won Bin terjatuh.

Kesempatan itu digunakan Jong Hoon untuk duduk di atas perut Won Bin, memukuli wajah cowok itu dengan penuh napsu seperti binatang liar, sampai berlumuran darah dan memar, lalu menginjak-injak perut Won Bin hingga darah yang menyembur dari mulutnya tidaklah sedikit.

Won Bin berada di posisi kalah. Tubuhnya yang kedinginan sudah mulai kelelahan. Air hujan pun semakin terasa menyiksanya.

Kelima teman Won Bin sudah sangat ingin membantu, tetapi Won Bin malah berteriak keras melarang mereka. Saat lengah itu juga, Jong Hoon memanfaatkan kesempatan untuk menginjak perut Won Bin dengan sekuat tenaga. Namun, Won Bin berusaha menahannya. Sayang, tenaga Won Bin sudah habis. Hanya dengan sedikit menambah kekuatannya, Jong Hoon sudah bisa membuat sisa pertahanan Won Bin hancur.

Cowok itu meringis saat perutnya sekali lagi terinjak. Dan kali ini, Won Bin hanya bisa terdiam. Dia meringkuk, menahan sakit. Sungguh tidak berdaya.

Melihat itu Jong Hoon melempar pandangan puas ke arah Won Bin, lalu pergi meninggalkan tempat itu, tanpa peduli dengan kelima teman Won Bin yang memakinya dan berniat mengeroyok Jong Hoon, namun tidak bisa karena Won Bin sudah tergeletak diam.

Ada sedikit kilat rasa puas di sudut bola matanya.

Sungguh, semua itu diluar kendali emosiku...

***

Di belakang sekolah, ada sebuah pohon besar dengan daun yang begitu rindang. Tempat yang sepi dan teduh. Rasanya begitu nyaman berada di sana, berlindung dari teriknya matahari siang.

Jong Hoon berdiri di depan pohon itu dengan tas terselampir di pundak kanannya. Dia tertunduk lesu menatap ujung sepatunya. Ujung sepatu itu mungkin sudah mulai kotor, tapi Jong Hoon merasa dirinya jauh lebih kotor.

Kehidupannya dua tahun lalu, sebelum memasuki jenjang SMA, sungguh bukan sebuah lembaran hidup yang membanggakan. Sebaliknya, Jong Hoon sudah sangat menutup rapat-rapat kotak memori tentang masa lalunya. Jong Hoon selalu berharap tidak ada yang pernah membukakan kotak itu untuknya.

Tapi dia salah.

Sun Ye telah melakukannya.

Dan memori masa lalu yang begitu dibencinya itu mulai berkelebat lagi di kepala. Masa lalu yang telah membuatnya sengsara. Ayahnya pergi bersama seorang janda dengan seorang anak bernama Won Bin, meninggalkan Ibunya yang kemudian memilih untuk bunuh diri.

Jong Hoon mengatupkan bibir tipisnya. Kedua alisnya bersatu, mengkerut. Tiba-tiba dia melayangkan satu tinju ke tubuh pohon tak berdaya itu. Berulang-ulang dan tanpa suara, sampai Jong Hoon merasa emosinya cukup reda.

Pelipisnya berkeringat dan napasnya terengah-engah. Buku-buku jarinya pun terasa perih dan terluka. Tapi dia tidak peduli. Meskipun luka itu berdenyut sakit, namun tidak sesakit perasaannya.

Cewek satu-satunya yang dia sayang, ternyata hanya memanfaatkannya!

Jong Hoon meninju pohon itu lagi untuk yang kesekian kali. Terakhir, dia terduduk lemas dengan satu kaki menopang tangannya yang terluka, sebelum ponselnya bergetar. Melihat tampilan nama pada ponselnya, Jong Hoon menelan ludah.

Ditatapnya sejenak ponsel berwarna putih itu.

Kamu tau, saat itu aku berpikir sebaiknya aku tidak menjawab teleponmu. Tapi aku juga berpikir, mungkin dengan berpura-pura kalau semua tidak pernah terjadi, lama-lama kamu akan lupa bahwa kamu sedang memanfaatkanku…

“Ya?” Jong Hoon menempelkan posel itu ke telinga dengan tangannya yang masih memar, sambil bersender pada tubuh sang pohon.

“Jong Hoon, kamu yang memberiku seribu bintang?”

“Ngng…ya. Aku…buat itu…”

“Makasih, ya. Aku suka. Bintangnya sungguh ada seribu?”

“Ngng…aku rasa…” sahut Jong Hoon tak begitu semangat.

“Jong Hoon? Kamu dimana? Aku…boleh pulang duluan?” suara itu terdengar agak khawatir. Entah kenapa, tidak peduli palsu atau tidak, Jong Hoon tetap menyukainya.

Cowok berambut hitam itu terdiam beberapa saat, sementara sudut bibirnya mencuat sedikit. Tenggorokannya mendadak kering. Rasanya sulit sekali mengeluarkan kata-kata larangan untuk Sun Ye.

“Ya. Ok,” hanya itu yang akhirnya meluncur dari mulut Jong Hoon. Agak sedikit bergetar.

“Jong Hoon, kamu…kenapa?” tanya orang di sana.

“Tak apa. Kamu tak perlu cemas. Hati-hati pulangnya,” kata Jong Hoon serak. “Nanti aku telepon lagi.”

Kemudian Jong Hoon menutup flip ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celana seragam sekolah. Entah kenapa baru kali ini dia merasa begitu nelangsa.

Sun Ye, aku hanya ingin tau, apa benar aku sama sekali tidak berarti buat kamu? Paling tidak setelah kita dekat selama satu tahun ini…

***

Tadinya Jong Hoon tidak ingin pulang. Namun teringat Sun Ye yang selalu pulang bersamanya, Jong Hoon pun mendadak mengkhawatirkan cewek itu.

Akhirnya dia memutuskan untuk mengawasi jalan pulang Jong Hoon. Dengan menjaga jarak hingga beberapa meter, Jong Hoon mengikuti tiap langkah Sun Ye. Sesekali Jong Hoon bersembunyi kalau-kalau Sun Ye tampak menoleh ke belakang. Entah mengapa, yang jelas, Jong Hoon tidak ingin Sun Ye mengetahui keberadaannya. Jong Hoon hanya ingin menjaga Sun Ye, meski cewek itu telah secara tak langsung menolaknya mentah-mentah.

Di pertengahan jalan, Sun Ye berbelok menuju sebuah lorong jalan buntu. Di sana Sun Ye bertemu dengan lima orang cowok yang tampak sangar di balik seragam blazer sekolah mereka yang berantakan.

Jong Hoon mengawasi dari tempatnya, di balik tiang. Jong Hoon tampak khawatir. Namun, baru saja hendak melangkahkan kaki bermaksud melabrak lima cowok berandal itu, otak Jong Hoon seolah memerintahkan kakinya untuk tetap diam.

Mungkin saja cowok-cowok dari sekolah lain itu adalah teman-teman Sun Ye yang dimaksud cewek itu dengan “kalian” di pembicaraan telepon beberapa saat lalu.

Mengingat hal itu hati Jong Hoon kembali berdenyut nyeri.

Berusaha menyingkirkan rasa sakit hatinya, Jong Hoon mencoba berpindah tempat persembunyian supaya bisa mencuri dengar apa yang orang-orang itu diskusikan. Kali ini, dari balik tembok sebuah toko roti, cowok jangkung itu bisa mendengar samar perkataan tiap-tiap orang tak dikenalnya.

“Ponselmu?” tanya seorang cowok botak. Tampaknya seperti pemimpin di antara yang lain. Dia menyodorkan telapak tangannya yang terbuka ke arah Sun Ye.

“Menyebalkan,” gerutu Sun Ye yang setengah hati memberikan ponselnya kepada si cowok botak.

“It`s our plan,” kata si cowok itu. “Apa pun yang akan kita lakukan, kau harus ikut membantu. Bukan begitu, Sun Ye? Apa yang kau inginkan? Mati atau sekarat?”

Sun Ye tersenyum sengit. “Mati.”

Kontan jawaban itu membuat kawan-kawannya tertawa. Salah seorang cowok yang berambut panjang diikat, berkacak pinggang. “Kau gila! Won Bin hanya luka memar dan kau meminta nyawa orang?!”

Alis Sun Ye terangkat-tampak tersinggung. “Kamu kira luka Won Bin hanya memar saja? Dia hampir mati kalau si botak ini tidak berinisiatif menolongnya! Kalian sendiri hanya bisa mematung!” ujar Sun Ye sinis sambil menunjuk cowok botak tadi dengan dagunya. “Lagipula…satu ginjal Won Bin mengalami kerusakan,” tambah Sun Ye sambil menahan air mata yang mulai mendesak keluar.

“Aku mengerti,” sahut si cowok berambut panjang. “Sorry.”

Si botak buru-buru menengahi. “Tidak ada yang perlu disesali, bukan? Semua juga kemauan Won Bin. Yang penting, kita akan membalaskan dendamnya. Demi kawan kita, Won Bin.”

Di tempatnya berdiri, Jong Hoon membeku. Rupanya Sun Ye tidak hanya menyilet hati Jong Hoon dan menyirami dengan jeruk nipis, tapi cewek itu telah merajamnya hingga hancur.

Sungguh, kini Jong Hoon benar-benar putus asa, sampai-sampai dia merasa otaknya mengalami kekurangan oksigen untuk berpikir jernih.

Jong Hoon mengepalkan kedua tangan. Dia mengangkat kepala dan memejamkan mata, berharap emosinya bisa mereda dan semua beban bisa terangkat dalam hitungan detik.

Yah, tentu saja bisa.

Dalam hitungan menit.

Jong Hoon hanya tinggal menunggu. Begitu kawanan berandal dan Sun Ye melintas, Jong Hoon buru-buru memasuki toko roti tersebut dan mengawasi mereka sampai menghilang, dari balik pintu kaca.

Sun Ye, wajar kan kalau aku takut saat menanti waktu untuk mati? Tapi aku sayang kamu. Sungguh, ini tulus…

***

Ponsel Jong Hoon bergetar. Inikah saatnya?

Mata Jong Hoon menatap layar ponsel dan melihat nama Sun Ye tertera di sana. Jong Hoon terdiam. Perasaan takut, benci, marah dan kecewa benar-benar telah menyihirnya menjadi seseorang yang mungkin tidak waras.

Tanpa semangat, Jong Hoon mendekatkan ponsel itu ke telinga.

“Ya?” ujar Jong Hoon dengan suara pelan.

“Jong Hoon?” tanya suara di sana. Suara berat dan serak, namun penuh nada sindiran.

“Ya,” lagi-lagi Jong Hoon menjawab singkat. Namun kali ini bernada rendah. Dan dia merasa tidak perlu bertanya karena merasa cukup mengetahui apa yang akan terjadi.

“Kuberitau kau. Kekasihmu, Sun Ye…dia sedang ada bersama kami. Dan kalau kau ingin dia selamat, segeralah datang ke blok lima. Sendiri. Ingat, jangan coba-coba meminta bantuan atau Sun Ye-mu akan celaka. Aku ingin membuat perhitungan denganmu. Atas nama Won Bin!”

Kemudian telepon terputus. Suara pip panjang masih terdengar di telinga Jong Hoon kala dia belum menurunkan ponselnya. Perlahan, tangan Jong Hoon bergerak turun dan ponsel itu terjatuh begitu saja, di depan toko roti.

Sun Ye, karena kamulah, aku memilih jalan ini…

***

Dengan sedikit tegang, Jong Hoon memasuki sebuah ruangan di blok lima, seperti apa yang dikatakan seseorang di telepon tadi.

Ruangan itu cukup luas, namun kotor. Beberapa meja tertata asal dan di atasnya terdapat botol-botol bir. Bau keras alkohol menyapa hidung mancung Jong Hoon. Kedatangan Jong Hoon, langsung mendapat tatapan sinis dari cowok-cowok yang dilihatnya di jalan buntu dekat toko roti tadi.

Di tengah sana, Sun Ye duduk di atas kursi kayu dengan kedua tangan diikat. Jong Hoon menghela napas diam-diam. Dia tidak bicara sepatah kata. Tidak juga berbasa-basi-memohon pada mereka agar melepaskan Sun Ye. Jong Hoon sangat yakin kalau Sun Ye tidak akan tersakiti. Itu sudah cukup.

Jong Hoon benar-benar tidak mengeluarkan sepatah kata dan hanya mengamati mereka, dari sudut matanya. Dia harus bisa menguasai rasa takutnya untuk mati. Dan dia sedang melakukan itu.

“Kekasihmu ini…apa lebih baik aku menorehkan luka di wajahnya atau….?” seruan seseorang membuat suasana yang sempat membeku, berubah menjadi tegang.

“Jangan…Jangan sentuh dia,” sahut Jong Hoon gamang. Tatapan sulit diartikan, terarah pada Sun Ye yang balas menatapnya dengan pandangan memohon yang –tentu saja- dibuat-buat.

“Cih,” si cowok botak membuang ludah. “Kau akan mati, sialan!” serunya.

Kemudian dia memberikan tanda pada teman-temannya untuk menyerang Jong Hoon. Kelabakan mendapat serangan mendadak, Jong Hoon sempat terhuyung. Tapi keseimbangannya segera kembali. Dia hendak meninju cowok botak itu, namun tiba-tiba Jong Hoon berhenti dan membiarkan satu pukulan lagi menghantam perutnya.

Setelah itu, kekuatan Jong Hoon mendadak hilang. Tidak, bukan karena benar-benar hilang, tapi karena Jong Hoon sendiri yang mempersilahkan kekuatannya pergi.

Jong Hoon membiarkan kelima cowok itu menyerangnya sekaligus. Jong Hoon juga membiarkan mereka memukulnya dengan kayu atau besi yang ada. Jong Hoon, bahkan membiarkan darah mengalir dari tiap lukanya dan menahan setiap memar yang begitu menyakitkan.

Bukankah itu yang kamu mau, Sun Ye? Paling tidak, kalau selama setahun kedekatan kita tidak berarti apa-apa untukmu, tentunya nyawaku ini bisa menjadi sesuatu yang berarti untukmu…

Jong Hoon jatuh tersungkur. Bibirnya sudah sobek, seluruh tubuhnya pun memar dan mengeluarkan darah. Jong Hoon meringis kesakitan. Tapi ekor matanya masih tetap mengamati Sun Ye. Ternyata cewek itu juga tengah mengawasinya. Namun, tidak ada kepanikan di sana. Ekspresi Sun Ye tampak begitu datar dan dingin.

Kelima cowok tadi pun semakin membrutal. Sementara Sun Ye masih tetap diam di tempat, mengawasi namun seolah berpesta atas penderitaan Jong Hoon. Sedangkan Jong Hoon, kali ini mulai meringkuk di atas lantai semen dengan kedua tangan berusaha melindungi kepalanya. Karena, Jong Hoon masih ingin melihat Sun Ye.

Semakin lama, Jong Hoon pun semakin tidak berdaya. Hingga kelima cowok tadi merasa cukup puas melihat Jong Hoon yang sudah kesakitan dengan luka di sekujur tubuh. Mereka menghentikan penganiayaan itu dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai ulu hati Ben. Darah segar langsung mengalir lebih deras di sudut bibir tipisnya yang merah, menyatu dengan kotoran dan keringat yang sudah menghiasi wajah ovalnya.

Tapi Jong Hoon merasa tidak puas.

Sungguh di luar dugaan, Jong Hoon merasa masih kuat kalau harus mendapat beberapa pukulan lagi hingga nyawanya melayang.

Dengan tenaga yang tersisa, tangan Jong Hoon menjangkau sepatu si cowok botak, yang menjauh hendak melepaskan ikatan Sun Ye.

“Apa yang kau lakukan?!” bentak si cowok botak.

Jong Hoon hanya bisa mendongak, menatap sambil menahan sakit. Tatapan pilu yang seolah menyuruh cowok itu untuk menghabisi nyawanya.

“Kau sungguh ingin mati?!” ujar si cowok botak lagi. Dia lantas melirik ke arah Sun Ye. Cewek itu masih bergeming tanpa ekspresi. “Kau memang gila, tapi temanku bisa membantu menghabisi nyawamu…”

Cowok botak itu kembali mengajak teman-temannya untuk mengeroyok Jong Hoon. Sekali lagi, tubuh lemah Jong Hoon harus terkena pukulan dan tendangan.

Tiba-tiba Sun Ye berdiri. Rupanya ikatan tali itu dibuat sengaja tidak kuat menahan dirinya. “Stop!” jeritnya kaku.

Kelima cowok itu menoleh menatap Sun Ye. Tak terkecuali Jong Hoon, meskipun matanya yang mungkin sudah lebih sipit karena memar dan berdarah, menghalangi pandangannya hingga buram. Sejenak Sun Ye membeku karena tatapan semua orang yang tertuju padanya.

“Kita pergi,” ajak Sun Ye, beberapa detik berikutnya, sambil mengalihkan pandangan dari tatapan Jong Hoon yang begitu memelas.

Si cowok botak meludah. Lalu dia bergerak keluar bersama keempat temannya. Terakhir, Sun Ye mengikuti langkah mereka. Namun, ketika melewati Jong Hoon yang terbaring tak berdaya, kaki jenjang Sun Ye mendadak membeku. Sun Ye menoleh sekilas, lalu berlalu seakan acuh.

“Sun…Ye…” panggil Jong Hoon setengah meringis.

Sun Ye kembali menghentikan langkahnya. Kelima teman premannya juga menoleh, tapi Sun Ye memberi aba-aba supaya mereka pergi lebih dahulu. Sun Ye membalikkan badan. Saat itu, Sun Ye melihat Jong Hoon sedang merangkak dengan susah payah untuk meraih tas selempangnya yang tergeletak di sisi ruangan.

Ketika Jong Hoon berhasil meraih tasnya, tangan penuh luka itu merogoh saku bagian depan. Sebuah benda berkilauan tampak dari sela jari-jari kotor Jong Hoon. Kemudian, Jong Hoon berusaha untuk menyenderkan tubuhnya ke dinding. Punggungnya sempat terasa nyeri, namun Jong Hoon berusaha bersikap seolah luka-luka di tubuhnya bukanlah masalah besar.

Jong Hoon menatap Sun Ye dengan pandangan sayu yang penuh rasa kekecewaan. Susah payah, Jong Hoon menarik kedua sudut bibirnya hingga menghasilkan sebuah senyum tipis yang tampak begitu suram.

“Boleh…ke sini?” pinta Jong Hoon penuh harap.

Di tempatnya berdiri, Sun Ye sudah memantapkan hati untuk tidak mendekati Jong Hoon. Tapi siapa sangka syaraf otaknya tidak bisa bekerja sama dengan hatinya. Kaki Sun Ye tetap melangkah mendekati Jong Hoon dan berjongkok di sebelah cowok itu.

“Ada…satu bintang…yang lupa aku…masukan ke…dalam toples…” katanya sambil meringis. Lalu Jong Hoon mengangkat tangan dan melepaskan sesuatu dari dalam genggamannya. Sebuah kalung berbandul bintang warna perak, kini bergelayut pelan di tangan Jong Hoon. “Ini bintang ke-1000. Kalau kamu…tidak keberatan, aku hanya ingin…kamu memakai kalung ini…supaya bintang ini…selalu dekat dengan hatimu…” Jong Hoon masih berusaha tersenyum, namun yang tampak hanyalah segaris senyum getir, yang sedang berjuang menahan seluruh rasa sakit.

Mata almond Sun Ye menatap kosong kalung di tangan Jong Hoon. Perkataan Jong Hoon yang terbata-bata seolah masuk begitu dalam ke telinganya, hingga terasa bergaung. Dengan perasaan tak menentu dan tangan gemetar, Sun Ye menerima kalung itu.

Jong Hoon menurunkan tangannya dan kemudian berpaling menatap ujung sepatu. Senyumnya masih seperti semula.

“Sun Ye, setelah ini…kita tidak perlu bertemu lagi. Akan lebih baik…jika kita…seolah tidak saling mengenal. Aku…akan pergi jauh dari…kehidupanmu. Aku…tidak ingin…membuatmu menjadi pendendam karena…masalah Won Bin. Ini semua…kesalahanku juga kekhilafanku. Maaf,” Jong Hoon berusaha tersenyum lebih lebar, namun yang terjadi malah Jong Hoon meringis kesakitan. Jong Hoon tertawa kecil. Tepatnya memaksakan diri. “Sakit…Sun Ye…maaf karena aku tidak mati.”

Setelah kalimat itu, Sun Ye berani bersumpah bahwa itu bukan keinginannya, ketika air mata itu menetes dari kedua matanya.

“Pergi…” ujar Jong Hoon pelan sambil memutar kepalanya menjauhi tatapan Sun Ye. Dia tidak mau melihat air mata cewek itu. “Pergi…Sun Ye…”

Mau tak mau, Sun Ye pun berdiri. Sambil tetap menatap Jong Hoon yang terkapar penuh luka, Sun Ye melangkahkan kakinya dengan berat, meninggalkan Jong Hoon sendirian di ruangan pengap tersebut.

Maaf, Sun Ye… karena aku tidak mati, sesuai dengan keiingananmu…

Dan setelahnya, sebulir air mata Jong Hoon menetes.


---fin---

Sayonara bag 1

By : Clara

Ardan duduk termenung di meja belajarnya. Beberapa buku pelajaran terbuka lebar di hadapannya, tapi ia sama sekali tidak sedang membacanya. Matanya memandangi foto yang berdiri tegak di sudut meja. Foto itu diambil ketika dia lulus dari SMP, bersama dengan seorang cewek berambut panjang, kira-kira dua tahun yang lalu. Cewek itu tersenyum manis sambil merangkul Ardan, sementara tangan kanannya memamerkan surat tanda kelulusan. Namanya Rianda.

Cewek ini adalah sahabat Ardan sejak kecil. Ketemu pertama kali waktu di TK dan sejak itu Ardan selalu mendampingi kemana pun Rianda pergi. Soalnya waktu kecil, Rianda itu suka banget diganggu sama anak-anak bandel yang sering ngumpul di gang deket sekolahnya. Walaupun Ardan waktu itu belum bisa berantem, paling enggak dia bisa bantu teriak-teriak kalo udah kepepet.

Setelah beranjak remaja, Ardan jadi cowok yang lumayan sering berantem. Banyak yang mencap dia sebagai tukang berkelahi, padahal itu nggak bener. Dia berantem kalo udah bener-bener kepepet aja. Lagipula, biarpun suka berkelahi, Ardan bisa dibilang cowok yang manis, ramah dan suka bercanda, walaupun kadang emosinya nggak bisa terkontrol. Makanya waktu SMP Ardan cuma punya dua temen baik, Rianda dan Dito, yang sampe sekarang menjadi temen deketnya di SMU. Kecuali Rianda. Soalnya ketika masuk SMU, Ardan nggak sanggup masuk SMU negri yang sama kayak Rianda karena NEM-nya jauh di bawah Rianda.

Awalnya mereka masih mampu membagi waktu untuk saling ketemu di rumah salah satu dari mereka. Biasanya mereka ketemu seminggu sekali. Berbeda dengan sekarang. Setelah Rianda sibuk dengan urusan sekolahnya, waktu ketemu dengan Ardan semakin jarang. Bahkan hampir nggak pernah lagi. Terutama dua bulan belakangan ini. Hal ini yang ngebuat Ardan menjadi kelimpungan. Dia udah berusaha untuk menghubungi Rianda, tapi hasilnya nihil. Otomatis Ardan cuma bisa menunggu Rianda sendiri yang menghubunginya.

Tok...tok...tok...

Suara itu mengagetkan Ardan yang sedang melamun hingga akhirnya ia tersentak kaget. Belum juga disuruh masuk, tiba-tiba pintu terbuka dan munculah seorang cewek mengenakan kaos dan celana pendek. Kulitnya putih, matanya bulat, pendek dan rambutnya dikuncir samping. Dari wajahnya bisa dilihat kalo dia adalah adiknya Ardan. Namanya Gista dan masih duduk di kelas 3 SMP.

“Mas, makan malem `dah siap tuh,” ujarnya sambil bersender di pintu.

“Hmm...” Ardan berpura-pura sibuk sama buku Sejarahnya, padahal jelas-jelas dia tau kalo besok nggak ada pelajaran sejarah sama sekali.

“Emang lagi sibuk banget ya?” Gista mendekati Ardan dan mencoba melihat apa yang dikerjakan kakak satu-satunya itu.

Ardan langsung menutup bukunya dan nyengir ke arah adiknya itu. Gista memicingkan matanya. Seolah-olah nggak peduli, Ardan malah merapihkan buku-buku yang asal berserakan itu dan kemudian menarik tangan Gista untuk keluar dari kamarnya.

***

Malam itu Ardan nggak bisa tidur. Entah kenapa seharian itu dia kepikiran terus sama Rianda. Baru disadari, betapa rindunya Ardan akan sahabatnya yang satu itu. Perasaan yang sama pun juga dirasakan Rianda, malam itu. Dia merasa bersalah karena selama beberapa minggu belakangan ini nggak pernah menghubungi Ardan.

Rianda mengatur posisi duduknya di tempat tidur sementara menunggu telpon disambungkan dengan orang di seberang sana.

“Ardan!” seru Rianda begitu mendengar suara cowok di sebelah sana. “Ini Rian.”

“Rian?! Hai....apa kabar lo?” tanya Ardan dengan nada penuh kerinduan. “Akhirnya bisa nelpon gue juga. Sibuk apa sih? sampe kayak tiba-tiba ilang dari hidup gue.”

“Ngawur banget sih ngomongnya. Gue lagi sibuk latian dance terus nih, soalnya bentar lagi ada Transylvania Cup. Sekolah gue ikutan, sekolah lo ikutan nggak? Kalo nggak dance, basket atau sepak bolanya kek, biar kita bisa ketemuan di sana.”

“Kayaknya enggak deh, soalnya kalo ikutan gue pasti ngeliat anak-anaknya pada latihan. Ngomong-ngomong, kapan nih mau main ke rumah gue lagi? Gista sempet beberapa kali nanyain elo. Dia kira kita udah ‘pisah’.....dasar anak SMP.”

“Hehehehe....gue masih belom tau nih....susah juga ya kalo beda sekolah, apalagi kita kebiasaan main bareng sama Dito juga. Tapi lo enak Dito masih sama elo, gue? Waktu masuk sini kan bener-bener seorang diri.”

“Makanya jangan masuk negri.”

“Makanya elo rajin belajar biar bisa nyaingin nilai gue, terus nemenin gue masuk sekolah yang terkenal.”

“Dasar, nggak mau ngalah....”

Rianda nyengir dikatain begitu. Dia emang anak yang keras kepala dan susah untuk ngalah. Tapi dibalik itu semua, Rianda adalah seorang yang sabar, tenang dan mudah bergaul. Makanya Ardan yakin kalo Rianda nggak bakalan kesulitan menemukan temen baru di SMU.

***

Pagi itu SMU Au Revoir, sekolah Ardan kedatangan seorang murid baru. Seorang cewek. Dia emang nggak sekelas sama Ardan, tapi kelasnya ada di sebelah kelas Ardan. Namanya Aninta. Orangnya mungil banget, tampangnya manis, kulitnya putih dan rambutnya agak ikal.

Kehadirannya nggak cukup menghebohkan soalnya masih banyak cewek yang lebih cantik dari dia. Yah....paling enggak begitulah menurut pendapat anak-anak Au Revoir, yang emang terkenal dengan cewek-ceweknya yang cantik dan juga tajir.

Waktu istirahat, Ardan nggak sengaja ngelewatin kelasnya Aninta. Sepi. Hampir semua anak di dalam kelas itu keluar untuk jajan. Soalnya buat anak-anak Au Revoir hari gini nggak jaman kalo harus bawa bekal makanan dari rumah, toh di kantin mereka semuanya udah tersedia.

Sayangnya harga makanan di kantin bisa dibilang cukup mahal, terutama buat seorang Aninta. Makanya, di saat yang lain ada di luar, cewek itu malahan duduk anteng di kursinya di dalam kelas. Sendirian.

Diperhatikannya cewek itu dari balik jendela. Aninta keliatan asik dengan bekal yang dibawanya. Ardan termangu di tempatnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia putuskan untuk pergi ke kantin karena tuntutan perutnya yang kelaparan. Tepat saat itu Aninta menoleh, dan ia mengantar kepergian cowok itu dengan lirikan matanya dan wajah yang penasaran.

Siang itu terik banget. Tapi itu bukan masalah besar buat anak SMU Au Revoir, soalnya mayoritas dari mereka sudah membawa mobil dan sebagian dijemput sama sopirnya. Walaupun ada beberapa dari mereka yang juga hanya membawa motor. Ardan salah satunya. Dia sih nggak demen bawa mobil soalnya dia itu paling suka sama motor. Liat aja motor Ninja-nya yang selalu mengkilap. Itu menandakan kalo dia sering banget ngelapin tuh motor. Saking sayangnya sama Ninja-nya itu, dia rela nyuci motor itu sendiri.

Beda sama Dito, temen sekelasnya yang paling demen sama mobil. Buat Dito mobil itu pelengkap seorang cowok kalo mau ngecengin cewek cantik nan bohai. Maklum, Dito itu termasuk cowok yang malang yang sering banget ditolak sama cewek. Bukan karena Dito anak berandalan, tapi karena cewek yang Dito incer selalu yang udah punya gandengan, bahkan lebih tajir dari dia.
Ardan mulai menstarter motornya. Sambil sesekali menggeber gas motornya, dia memakai jaket dan helm. Tapi tiba-tiba ia melepaskan helmnya lagi begitu pandangan matanya jatuh ke seorang cewek yang sedang berjalan sendirian ke arah jalan belakang, jalan kecil yang juga sebenernya merupakan rute pulangnya Ardan. Cewek itu adalah Aninta. Tas selempangnya keliatan berat sekali di badannya yang kecil.

Cowok itu hanya menatap Aninta dari motornya sampai akhirnya Aninta keluar dari gerbang sekolah dan berbelok di tikungan.

“Bengong aja lo!” seru Jason, salah seorang temen sekelasnya yang juga sama-sama bawa motor. “Ngeliatin apa sih? Setan? Mana ada setan tengah hari bolong kayak gini.”

Ardan hanya tersenyum kecil sambil mengenakan kembali helmnya. Kemudian ia menepuk pundak Jason. “Gue duluan yah. Buru-buru.”

“Buru-buru tapi kok sempet bengong,” ujar Jason pada dirinya sendiri karena Ardan telah berbelok di tikungan depan.

***

Selain Rianda, orang yang paling sering mengganggu ketenangan Ardan berisitirahat di rumah adalah Dito. Sayangnya setelah beberapa bulan absen mengganggu Ardan, kini dia hadir lagi ke tengah-tengah kamar Ardan yang nggak terlalu luas itu.

“Gila, udah lama nggak main ternyata kamar lo udah banyak dirombak yah?” kata Dito sambil mengamati sekeliling ruangan bernuansa abu-abu itu. Di dindingnya tertempel beberapa poster band-band rock yang cukup ternama. Di seberang tempat tidurnya ada televisi dan meja belajar.
“Nggak banyak kok, cuma ditambah tv aja.”

“Ng....ngomong-ngomong, tadi itu cewek yang pake kaos pink itu siapa?”

“Hah? Lo lupa ingetan ya? Cuma setaon nggak pernah ketemu sama adek gue aja langsung keder sama dia yang sekarang. Itu Gista. Anak yang dulunya lo bilang culun.”

“Gista?? Astaganaga.....mimpi apa gue semalem, setaon nggak ketemu, adek lo jadi tambah manis aja. Salah kalo gue bilang dia culun. Ternyata....”

“Apa? Awas lo macem-macem sama adek gue, gue jadiin bacem lo!!”

“Tenang donk.....eh iya, suruh Rianda ke sini donk, gue dah lama banget kan nggak ketemu sama dia. Gimana kabar tuh anak sih?”

“Sibuk.”

“Jangan sewot donk....gue tau lo pasti nggak pengen Rianda jauh dari lo kan makanya lo nggak suka kalo dia sibuk sama ekskulnya?”

Ardan mencibir. “Ngaco!!”

“Lo masih sering ngumpul sama anak-anak motor lo?”

“Kenapa? Ng....belakangan sih agak jarang. Nggak tau mungkin ntar-ntar kali yah, gue lagi nggak ada mood ngetrack.”

“Mau ngebut aja kudu ada moodnya,” ujar Dito sambil menyalakan PS sementara Ardan mengganti seragam OSISnya dengan kaos putih polos. Setelah itu keduanya sibuk main game, padahal tadinya mau ngerjain tugas, tapi namanya juga anak cowok, yang penting seneng dulu. Alhasil mereka kelabakan waktu jam udah menunjukkan pukul tujuh malam.

Sayonara bag 2

Dito lagi jatuh cinta!! Liat aja tampangnya yang senyam-senyum sendiri. Ke kantin sambil senyum, ke toilet juga senyum, bahkan sewaktu dia mendapat angka merah untuk nilai Akuntansinya, dia tetep tersenyum. Aneh? Nggak juga sih, soalnya si Dito ini kalo lagi jatuh cinta emang suka gitu. Sampe ada satu temen kelasnya yang berpendapat kalo otaknya Dito hari itu sedang dipenuhi dengan berbagai adegan mesum.

Ardan, yang emang duduk sama Dito jadi pusing ngeliat perbedaan temennya hari itu, tapi ketika ditanya kenapa, Dito hanya menjawab, “Semua karena cinta.” Alhasil Ardan jadi merinding untuk nanya-nanya lagi. Tapi Ardan penasaran banget sama cewek yang ditaksir Dito kali ini. Kayak apa sih cewek itu sampe ngebuat Dito kleper-kleper kayak ikan yang ditaro di daratan.

Awalnya Dito nggak mau nagsih tau siapa orangnya, tapi ngeliat kegigihan Ardan yang terus mencari tau dengan mencoba menyebutkan nama beberapa cewek yang dikiranya sesuai dengan selera Dito –dimana cewek itu kudu punya bodi bohai bak gitar spanyol, muka mulus, tajir dan hidung mancung kayak Julia Roberts, terserah mau alamiah atau hasil operasi- yang ternyata nggak ada satu pun yang betul. Maka dari itulah akhirnya Dito luluh juga dan mau ngasih tau siapa cewek itu.

“Kalo gue kasih tau, elo janji untuk jangan kasih tau siapa-siapa dulu. Gue nggak mau berita ini kesebar terus gue jadi ditanyain sama orang-orang soal kebenerannya.....”

“Berisik lo, jadi intinya cewek itu namanya siapa?”

Dito memberi tanda ke Ardan untuk mendekat. Ardan pun menurut. Lima detik kemudian, wajahnya langsung dilanda kepanikkan.

“Apa?? Gista??? Adek gue satu-satunya akhirnya digebet cuma sama elo??”

“Maksud lo? Gue aja baru nyadarnya tuh tadi malem, kalo ternyata selama ini orang yang gue idam-idamkan itu adalah Gista. Bisikan hati gue ternyata menuju ke arah Gista. Gimana donk? Namanya juga cinta, kita kan nggak bisa menghindari datangnya cinta....”

“Sok puitis lo. Basi tau!!”

“Ya udah, gini aja deh bro. Gue nggak minta macem-macem ama elo, gue cuma pengen elo ngerestuin hubungan gue ama adek lo, kalo udah lo restuin gue kan bisa pedekate dengan tenang. Bisa kan? Plis....demi temanmu yang selalu melajang ini.....”

Ardan menoyor kepala Dito dan meninggalkannya sendirian di kantin, sementara dia sendiri, langsung balik ke kelas. Gila juga si Dito berani ngegebet Gista, padahal dulunya dia bilang kalo Gista itu culun karena kaca matanya, tapi semenjak beberapa bulan terakhir ini Gista mencoba memakai kontak lens, penampilannya pun jadi berubah.

Bruk....

Tiba-tiba dia menabrak seorang cewek yang keliatannya emang lagi buru-buru.

“Sory, Na.”

“Ardan!!Elo tuh kalo jalan jangan bengong, liat ke depan donk. Ntar kalo lagi jalan di jalan raya lo bisa dicium mobil, mending kalo Mercy, kalo yang nyium bajaj, rugi berat lo.” Protes Nasya, temen sekelasnya yang agak-agak cerewet. Ardan cuma nyengir sebelum akhirnya Nasya pergi sambil tertawa. Nasya orangnya nggak gampang marah, jadi biarpun tadi dia nyerocos kayak lagi ngomel, tapi sebenernya dia itu orangnya ramah dan seneng bercanda.

Begitu Nasya menjauh, Ardan mendapati Aninta yang lagi menyender di sebuah balkon sedang memperhatikannya, tapi langsung memalingkan muka ketika Ardan tersenyum padanya. Cowok itu menarik napas sebelum akhirnya dia mendekati Aninta.

“Hai,” sapa Ardan sambil ikut bersender di balkon.

“Ng...hai juga.”

“Gue boleh kenalan nggak? Nama lo siapa sih?”

“Ooo, gue Aninta. Biasa dipanggil Ninta.”

“Ninta? Yang buat nulis itu yah?”

Aninta tertawa kecil. “Itu Tinta.....ngomong-ngomong nama lo siapa?”

“Ardan. Biasanya anak-anak manggil gue kayak gitu.”

“Emang nama aslinya siapa?”

“Ardan.”

Aninta keliatan bingung, tapi akhirnya dia hanya mengangguk. Dalam hati Aninta bersyukur karena pada hari keduanya di sekolah elit itu ia bisa juga mendapatkan seorang teman. Pada awalnya dia takut nggak bisa bergaul dengan anak-anak yang rata-rata borju semua itu. Dia mengira semua orang di sekolah itu nggak akan mau bergaul dengan dirinya yang hanya seorang anak yatim piatu dan bisa masuk sekolah itu karena orangtua asuhnya yang akan menanggung semua biaya sekolahnya sampe ia kuliah nanti.

Bisa dibilang Aninta adalah anak yang paling beruntung diantara temen-temennya yang ada di asrama, karena cuma dia yang mendapat orangtua asuh yang kaya raya sehingga bisa sekolah di SMU Au Revoir. Walaupun mendapat santunan biaya sekolah, tapi Aninta nggak tinggal satu rumah dengan orang tua asuhnya itu. Mereka bertemu cuma seminggu sekali untuk jalan-jalan.

***

Sudah seminggu ini Ardan jadi deket sama Aninta. Mereka sering ke kantin bareng atau ngerjain PR bareng. Kedekatan Ardan dan Aninta agak membuat Dito kesel, soalnya Dito serasa dilupakan. Padahal sih Ardan enggak ada maksud kayak gitu. Ardan tuh bukan tipikal orang yang gampang ngelupain temen lamanya, cuma mungkin kali ini dia lagi ngerasa betah aja deket-deket sama Aninta.

“Ninta....” panggil Ardan. Cewek itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara. “Pulang bareng gue yuk.”

“Ng....nggak usah `Dan, gue udah biasa kok jalan kaki. Lagian nanti gue juga naik bis.”

“Kenapa? Apa karena gue cuma bawa motor sementara yang lain bawa mobil??”

“Bukan....bukan karna itu, tapi....”

Aninta terdiam sejenak. Dia berpikir keras apakah dia harus memberi tahu Ardan tentang dirinya? Dia nggak mau Ardan ngejauhin dirinya cuman gara-gara status anak asrama yang nggak punya apa-apa. Tapi....

“Elo cerita aja sama gue, ada apa. Gue nggak sama kayak anak-anak yang lain, yang kalo temenan musti liat apa dia anak orang kaya atau bukan. Lagian gue sendiri juga bukan orang kaya, terus ngapain gue harus milih temen.”

Cewek itu keliatan mau ngucapin sesuatu tapi dipotong sama ajakan Ardan untuk naik motornya dan mencari tempat yang enak buat ngobrol. Aninta nggak bisa menolak lagi, dan akhirnya dia udah duduk di motor di belakang Ardan.

Mereka berhenti di sebuah taman perumahan yang nggak jauh dari rumah Ardan. Taman itu sering didatenginnya bareng Rianda waktu kecil buat main bareng di sana. Tempatnya enak, banyak pohon yang bikin suasana jadi teduh dan juga banyak berbagai macam permainan untuk anak-anak.

Suasana siang itu masih agak sepi, soalnya anak-anak kecil yang suka main di situ pastinya lagi asik tidur di rumah masing-masing dan baru keluar ditemenin sama pembantunya yang sekalian mejeng diantara abang-abang, kalo udah sore.

Ardan dan Aninta duduk di dalam gazebo yang letaknya di tengah taman itu.

“Gue beda sama anak-anak Au Revoir yang lain. Gue bukan orang kaya. Gue juga udah nggak punya orangtua lagi. Sekarang gue tinggal di asrama soalnya sodara gue semuanya di luar kota, dan rata-rata dari mereka juga nggak mampu. Jadi daripada gue jadi beban mereka mending gue tetep di Jakarta dan nyari tempat tinggal yang layak buat gue. Untungnya gue bisa tinggal di asrama. Setaon yang lalu gue sempet disekolahin ke SMU negri yang kualitasnya nggak bagus. Gue nggak bisa berbuat apa-apa, toh itu pun gue juga dibayarin. Sampe akhirnya beberapa bulan yang lalu ada orangtua yang pengen ngadopsi anak kecil. Tapi nggak tau kenapa, mereka akhirnya mau jadi orangtua asuh gue, padahal mereka udah dapetin anak angkat.

Mereka orang kaya. Dan atas bantuan mereka juga akhirnya gue bisa sekolah di Au Revoir, bener-bener di luar dugaan dan bayangan gue. Temen-temen satu kelas gue tau kalo gue anak asuh, soalnya guru yang waktu itu nganterin gue ke kelas 11.4 bilang sama anak-anak satu kelas kalo gue itu anak asuh yang bisa masuk ke sekolah itu atas bantuan orang lain. Makanya gue menutup diri sama mereka, karna gue takut anak-anak pada ngejelek-jelekin gue. Dan karna itu juga sebenernya gue takut ngasih tau ke elo, gue takut elo bakal nggak mau temenan lagi sama gue.”

“Lo salah Nin. Gue bukan orang yang kayak gitu. Gue nggak peduli lo anak siapa, gimana cara bisa masuk Au Revoir, atau punya uang berapa. Itu nggak penting.”

Aninta menarik napas lega. “Syukur deh.”

“Sebenernya gue udah merhatiin elo dari awal,” ujar Ardan sambil membetulkan posisi duduknya. Sekarang kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara ia bersender pada sebuah bangku dan kaki kanannya diangkat. Aninta terperanjat. “Awalnya gue cuma bingung kenapa elo sendirian, padahal gue nggak pernah liat ada anak baru yang sekolah di Au Revoir yang sendirian pas istirahat apalagi pulang jalan kaki.”

“Tapi sekarang elo nggak bingung lagi kan?”

“Yah....tapi gue yakin, kalo elo coba untuk terbuka sama mereka, nggak mikirin status lo, mungkin aja mereka masih ada yang mau main sama elo. Gue....dulunya orang yang tertutup banget. Semua itu karna gue dapet cap sebagai anak yang suka berantem. Tapi gue sadar, gue nggak bisa begitu selamanya. Gue nggak mau cuma punya dua temen seumur hidup gue. Jadi gue berubah.

Gue berusaha untuk jadi orang yang lebih ramah dan yang penting terbuka sama orang lain, nggak peduli mereka tau masa lalu gue atau enggak. Tadinya gue juga sempet pesimis, tapi setelah gue coba.....gue berhasil. Sekarang gue nggak kayak dulu lagi. Gue sekarang lebih terbuka sama orang, makanya temen gue cukup banyak dibanding waktu gue SMP.”

“Apa di SMP lo nggak punya temen sama sekali?”

Ardan menggelengkan kepala kuat-kuat. “Nggak. Gue punya dua sahabat sekarang. Yang satu sahabat dari kecil. Yang satu lagi Dito. Mereka yang ngebuka mata gue.”

“Sahabat dari kecil? Cewek apa cowok?”

Ardan tertawa kecil. “Cewek, namanya Rianda. Sampe sekarang kita masih sahabatan, cuma jarang contact aja. Maklum dia lagi sibuk berat sama urusan ekskulnya. Tapi gue percaya dia bisa jaga dirinya.”

“Oooo...” Aninta mengangguk sambil senyum-senyum. Ada satu hal yang bisa dia ambil dari percakapan panjangnya dengan Ardan siang itu. Keyakinan diri untuk berubah. Mungkin selama ini Aninta terlalu takut akan diejek dengan statusnya itu, karena itu ia bertekad mulai besok nggak akan pernah memikirkan soal statusnya lagi. Dia bakal berusaha untuk bisa membuka diri.

“Nin....” panggil Ardan perlahan tanpa menatap wajah cewek di sebelahnya. “Gue liat lo anaknya baik, kalo.....gue minta lo jadi pacar gue mau nggak?”

Aninta tercengang. Dalam hati, Ardan pun bingung dengan apa yang sudah ia ucapkan. Kenapa dia bisa melontarkan pernyataan sulit semacam itu dengan mudahnya.

“Elo...elo serius `Dan?”

Ardan mengangguk pelan. “Elo mau nggak?”