<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321</id><updated>2012-01-27T23:08:09.996+07:00</updated><category term='surat'/><category term='cerita bersambung'/><category term='percikan kisah'/><category term='cerita pendek'/><category term='Award'/><category term='Fan Fiction'/><category term='Olahan Kata'/><title type='text'>Coretan Tangan dan Buah Mimpi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>45</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-1280212585227893213</id><published>2012-01-25T20:08:00.000+07:00</published><updated>2012-01-25T20:09:44.426+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Disappear</title><content type='html'>Terinspirasi dari lagu Disappear-nya Royal Pirates. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa spasi yang terbentang antara kita?&lt;br /&gt;Memandangimu dari tempatku berpijak, melihatmu dihentak oleh irama musik, seakan-akan Tuhan sedang bermain-main dengan karya cipta-Nya yang luar biasa. Suaramu mungkin kalah merdu dibandingkan Josh Groban. Kemasanmu juga mungkin tak sehebat Linkin Park. Tapi, kau berdiri di sana, dengan segala semangat yang kau tampilkan secara penuh. Aku melihat kau berlomba dengan kobaran api yang seolah menyala di sekitar tubuhmu. Dan, ketika bola matamu berhasil menyentuh pandangku, aku seperti ikut terbakar dalam pesonamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bibirmu membuka-tutup, mengurutkan setiap kalimat yang sudah menjadi bagian dari masing-masing nada yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tau, kau tak pernah mau salah melafalkan lirik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Would you disappear?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya bagian dari apa yang harus kau katakan di panggung sederhana itu. Setidaknya begitulah, seharusnya. Sampai akhirnya satu rentetan kalimat tanya itu menjadi berbeda makna bagiku. Sementara semua orang masih menikmati kerasnya hentakan gitar, drum dan suaramu, air mataku meleleh. Satu demi satu, lalu membanjir di sepanjang pipiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak aku lihat lagi kobaran semangat itu. Matamu kini tengah membakarku secara nyata. Perlahan, kau mentransferkan seluruh energi kebencian yang bisa kau hasilkan di setiap nadamu, padaku. Kau sukses. Dan, akan selalu begitu. Terutama ketika perasaanmu itu telah berubah menjadi sesuatu yang jujur, yang ingin kau utarakan padaku secara terang-terangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa kulakukan dengan panjangnya spasi diantara kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saja jarak yang jelas-jelas bisa kau lihat, tetapi kau juga telah menarik hatimu. Kau memilih untuk terus berlari, meski aku berusaha mengejarmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertunduk, takut dengan pandangan matamu, sementara musikmu semakin menghentak keras. Seolah musik itu menjadi pengantar amarah yang ingin kau tujukan hanya untukku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, bisikkan maafku hanya akan tenggelam diantara rentetan bunyi gitar dan drum. Bahkan meski kau bisa membaca gerakan bibirku seperti orang bisu, kau tak membiarkan udara menyampaikannya padamu. Semua itu seperti luka yang ditaburi garam, begitu kau melengoskan wajahmu. Penampakkanku seperti tidak diharapkan. Tapi, melihatmu membuatku seakan menjelajah lagi pada masa yang sudah lewat. Dimana akhirnya aku seperti melihat diriku bersama lelaki lain yang paling kau benci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik berhenti mengejutkan. Kau menghilang dari panggung saat aku berusaha menjangkaumu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika aku berhasil menemukan sosokmu dari belakang, ketika akhirnya aku memaksakan kakiku yang terasa berat ini untuk melangkah mendekatimu, aku justru menyesal. Karena pada akhirnya aku melihatmu sudah bersamanya. Perempuan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang paling kubenci.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-1280212585227893213?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/1280212585227893213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2012/01/disappear.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1280212585227893213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1280212585227893213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2012/01/disappear.html' title='Disappear'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-5662763505200323257</id><published>2012-01-22T23:19:00.001+07:00</published><updated>2012-01-22T23:19:38.200+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Jangan Cuma Tersenyum</title><content type='html'>Dari tempat tidur, aku bisa mengamati punggungnya—tegap. Dia sibuk menyiapkan sesuatu. Ketika tubuhnya berbalik, dia sedang meletakkan satu per satu mangkuk di atas meja. Kemudian, dia beralih padaku. Dan, tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sabar, dia menghampiriku dan membimbingku untuk menikmati sarapan pagi ini. Pagi ke-duaku berada di rumah sederhana yang sama sekali asing buatku. Dengan seseorang yang juga baru pertama kali kulihat wujudnya. Bahkan aku tidak mengetahui namanya. Sejak aku sadar kemarin sore, bibir kami sama sekali terkatup. Tak ada satu kalimat pun yang menjadi jembatan antara otak kami yang mungkin dipenuhi sejuta pertanyaan. Matanya hanya menatapku, sambil tersenyum, seakan itu adalah mantera yang mampu membaca apa isi hatiku sekaligus membeberkan semua kalimat yang muncul seperti balon di atas kepalanya. Tapi, dia benar. Sinar di tatapannya yang tulus itu seolah mewakili puluhan ribu susunan huruf abjad. Aku tau dia orang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak, pasti sejak kemarin dia sudah memperkosaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikmati bubur buatannya. Dengan uap yang masih mengepul, bersama segelas teh kental yang sama menghadiahkan uap hangat ke arah wajahku. Rasanya nikmat. Senikmat kala dia memandangiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu memandangiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah pertanyaan pertama, seumur aku mengenalnya. Wajahnya terlihat berubah. Mungkin kaget, mungkin senang. Mungkin bersyukur karena aku tidak bisu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku yang tersudut kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya menggerakkan tangan, membentuk seperti bahasa isyarat. Aku mengernyitkan kening. Jujur, aku sama sekali tak paham dengan sandi-sandi yang dia kirimkan padaku melalui bentuk visual. Aku payah dalam masa pramuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia memilih mencari kertas dan pulpen. Dia menorehkan sesuatu dengan tangan kirinya. Tulisannya rapih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU SENANG KARENA KAU SUDAH BANGUN DAN SEHAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tulisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kenapa kau menolongku?” tanyaku setengah kecewa. Andaikan dia tidak menolongku waktu itu, pasti aku sudah bahagia. Di surge. Kalau tidak salah ingat, harusnya aku tidak berbuat dosa banyak sebelum memutuskan untuk menenggak baygon di pinggiran jalan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dia cuma tersenyum. Tangannya diam, tak menorehkan ujung tinta pada kertas putih yang masih tersisa itu. Bibirnya terus melengkung, membuatku gemas. Apa maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya jawaban itu seperti datang sendiri ke hadapanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah, bentuk tubuh, dan tatapan mata yang sama persis itu hadir di depanku. Membuatku nyaris menyangka bahwa ada kerusakan dalam penglihatanku. Tapi, tidak. Sosok itu benar-benar ada. Mereka…, sama persis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia adik kembarku. Tidak bisa bicara sejak kecil.” Cowok itu memulai tanpa pernah aku tanyakan lebih dahulu. “Aku yang membawamu ke sini. Dia hanya merawatmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, pagi ini aku benar-benar seolah mengalami gangguan otak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-5662763505200323257?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/5662763505200323257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2012/01/jangan-cuma-tersenyum.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5662763505200323257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5662763505200323257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2012/01/jangan-cuma-tersenyum.html' title='Jangan Cuma Tersenyum'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-4903878989391843081</id><published>2011-08-17T19:36:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T19:41:29.884+07:00</updated><title type='text'>Ingatan Terakhir</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Belikan aku bunga, ya. Aku suka sekali. Terutama mawar putih.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gisel menatap kamarnya. Penuh dengan isi bunga mawar putih. Ada yang sudah layu, ada yang masih fresh—usia beberapa hari. Tapi, ada juga yang palsu. Setiap yang asli berubah layu dan terpaksa dibuang, mawar putih yang lain akan menempati posisinya. Entah apa yang harus dia lakukan dengan semua bunga-bunga itu. Mawar putih, mendadak menjadi sesuatu yang membuatnya mual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gisel!” panggil kakaknya—Rendi. Dia melongok dari balik pintu kamar. ”Ryan datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gisel cuma mengangguk. Tak ada kebahagiaan. Terbersit sekilas, dia meminta tolong kakaknya untuk berbohong. Dia muak pada semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hai, Gisel. Mawar putih untuk kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ryan berdiri dengan sebuket mawar putih yang cantik. Tak akan ada satu pun cewek yang bisa menolaknya. Kecuali Gisel. Ya, dia muak dengan mawar putih. Semua koleksi mawar putih yang ada di kamarnya adalah pemberian Ryan—cowok yang sangat dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gisel nyengir tak iklas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mawar putih kesukaan kamu.” Ryan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, suara Ryan selalu terbata-bata. Wajahnya penuh jahitan dan luka tonjolan. Berdirinya pun pincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku selalu mau kasih kamu mawar putih karena kamu suka mawar putih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ryan!” Gisel membuat Ryan tersentak. Cowok itu terkejut. Kentara sekali dia kaget. ”Cukup. Aku muak. Aku minta maaf. Kecelakaan itu karena salahku. Tapi, cukup dengan semua ini. Aku mohon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kecelakaan?” Ryan seperti orang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gisel makin larut dalam kegundahannya. Andai kata dia tak menyuruh Ryan datang cepat, hingga cowok itu ngebut di jalanan yang diguyur hujan, kecelakaan itu tak terjadi. Ryan tak mengalami benturan di kepala yang mengakibatkan memorinya cuma terpaku pada satu hal. Dan, Ryan masih akan normal seperti Ryan yang dulu, penuh canda dan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu Gisel tak pernah mau menemui Ryan lagi. Tapi, sebagai gantinya, satu tangkai mawar putih kerap kali bertengger di depan pagar rumah, saat Gisel hendak berangkat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS : cerita pendek ini merupakan hasil spontanitas ketika melihat twit dari nulisbuku (sebuah selfpublishing) yang mengajak followers-nya untuk membuat cerita sependek satu halaman~~&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-4903878989391843081?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/4903878989391843081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2011/08/ingatan-terakhir.html#comment-form' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/4903878989391843081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/4903878989391843081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2011/08/ingatan-terakhir.html' title='Ingatan Terakhir'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-5110745443093543847</id><published>2010-04-29T18:44:00.003+07:00</published><updated>2010-04-29T18:49:08.691+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Merry Go Round</title><content type='html'>Langit senja menghadirkan segurat warna pucat. Seorang pria bertubuh jangkung, dengan rambut mencuat ke segala arah—tanda ia belum menyisir hari ini dan mungkin kemarin—serta wajah kuyunya yang berantakan karena janggut yang belum dicukur berjalan lunglai di tengah keramaian. Ia mendekati sebuah arena permainan yang penuh dengan kuda-kuda plastik. Bayangan tipisnya merangkak di atas batako, mengikuti kemana si pemilik tubuh bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merry go round. Itulah namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati pagar-pagar besi yang mengelilingi merry go round, lelaki yang bernama Devon itu menekankan perutnya ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya matanya redup. Kosong. Hampa. Namun, bola mata berbentuk biji almond itu terus mengarah ke salah satu kuda plastik bewarna putih. Dan siapapun yang melihatnya, bisa menduga kalau lelaki itu sedang berusaha untuk tegar. Memang begitulah keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini penuh kenangan. Sulit sekali menginjakkan kaki di sana. Namun, demi mendapat jawaban dari apa yang selama ini ia cari, Devon menguatkan hatinya. Dan nyatanya, ia bisa sampai di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devon menunggu. Meski tidak tau apa yang ditunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, merry go round berputar. Sebuah iringan musik lembut, menyertainya. Devon masih termangu menatap kuda putih tadi. Kuda yang begitu disukai Biyan. Kuda yang sangat mengingatkannya pada sosok gadis tomboy itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bi…apa yang membuatmu menyukainya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan merry go round itu berputar, seluruh kenangan Devon pun ikut berkelebat di kepala. Berputar dengan sangat mulus, sehingga tidak satu menit pun hilang dari ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tentang Biyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, Devon tidak pergi ke rumah sakit. Ia sedang ambil cuti. Di dalam kariernya sebagai seorang dokter bedah umum, Devon memang cukup sibuk. Oleh karena itu, Devon harus bisa mengatur waktu untuk menemani istrinya, Biyan, yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari itu, Devon ingin mengajak Biyan pergi ke taman wisata. Tapi ketika ia bangun, hanya secarik kertas dan secangkir kopi yang ia temukan di samping tempat tidur. Tulisan di atas kertas itu adalah tulisan Biyan, yang mengatakan kalau Biyan sedang pergi ke pasar dan akan segera kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menanti istrinya, Devon menyibukkan diri dengan membuat sarapan untuk Biyan. Sepiring nasi goreng dan segelas coklat hangat yang masih mengepul. Setelah meletakkan di atas meja makan, Devon mengisi waktu dengan menonton acara televisi.&lt;br /&gt;Ketika beranjak siang dan Biyan masih belum kembali, Devon mulai tidak sabar. Di tengah perasaan yang galau, ponselnya berbunyi kencang. Ia segera menyambar dan menempelkan benda itu ke telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenit kemudian, tangan Devon langsung gemetar. Napasnya tertahan. Dan jantungnya seakan berhenti berdenyut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mengabari bahwa Biyan mengalami kecelakaan parah bersama sepeda dan barang belanjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponsel terjatuh. Devon pun melesat meninggalkan rumah dan berlari seperti orang kesetanan menuju rumah sakit. Perasaan galaunya berubah menjadi tidak menentu. Keringat dingin membanjir. Dan otaknya seperti mengalami pembekuan. Air mata yang mengalir di sudut, terbang bersama angin yang menerpa wajahnya kala ia berlari sekuat tenaga. Tapi satu hal yang diharapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ia masih bisa melihat Biyan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah sakit, Devon bertemu dengan Frans, rekannya sesama dokter. Setengah emosi dan terkejut, ternyata mampu membuat Devon hilang kendali. Ia merenggut ujung jubah Frans dan menuntut dokter berkacamata itu untuk memberikan kabar baik. Sayang, raut wajah Frans tetap menyiratkan adanya berita buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sulit sekali Devon. Istrimu banyak mengeluarkan darah dan aku menduga ada kerusakan parah pada kepalanya karena dalam kecelakaan itu kepala Biyan yang pertama kali membentur jalanan,” kata Frans tidak merasa tidak enak memberitau kenyataan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula Devon mengira kalau perkataan Frans hanyalah dugaan sementara. Tetapi melalui hasil pemeriksaan, kenyataannya memang begitu. Batang otak Biyan rusak cukup parah. Batang otak adalah sumber semua saraf. Dan jika batang otak mengalami kerusakan…, sungguh Devon tidak tau lagi harus bagaimana. Devon ingin sekali berteriak, memaki Frans, atau menghantam dinding. Tapi dia tidak berdaya. Baru kali ini dia merasa begitu lemah, seolah semua tenaga sudah habis tersedot perasaan sedihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devon hanya bisa menangis pilu di sisi tempat tidur Biyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiga bulan pun berlalu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ada perkembangan dari diri Biyan. Gadis itu masih tergeletak lemah tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit. Selang-selang infus dan peralatan lain menempel di tubuh Biyan. Hanya melalui selang-selang itulah hidup Biyan bisa bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Devon selalu berharap kondisi Biyan membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, kondisi Biyan masih koma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, Devon menunggui Biyan. Barangkali saja tiba-tiba tangan dingin Biyan bisa bergerak. Dan jika itu terjadi, Devon harus ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pemeriksaan Biyan pun harus dilakukan oleh Devon dengan bantuan Frans. Semua obat yang masuk melalui selang infus, selalu berada di bawah pengawasan Devon. Tapi tetap saja belum menampakkan hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah pekerjaannya, Devon juga selalu menyempatkan diri mengunjungi Biyan dan membawakan sekuntum bunga chrysanthemum berwarna pink sebagai penghias tempat tidur Biyan. Setiap hari, satu kecupan di kening diberikan pada Biyan, dengan harapan gadis itu akan bangun karena tau ada seseorang yang menantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua kedua belah pihak datang bergantian. Mereka paham betul dengan perkembangan Biyan. Mereka juga berharap sama dengan Devon, namun kenyataan tidak seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, di dalam lorong rumah sakit yang sepi, saat menginjak empat bulan Biyan terbaring tak berdaya, Ibunya Biyan berdiri di hadapan Devon. Keduanya sama-sama tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama, tidak tega melihat putri Mama seperti ini terus, Dev,” sebulir air mata jatuh saat wanita tua itu memulai apa yang ingin diutarakannya. “Mama pikir, kalau ada satu cara yang bisa menghilangkan sakitnya Biyan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devon menelan ludah dengan susah payah. Agaknya ia mengerti maksud Ibu mertuanya itu, tapi hatinya menolak untuk percaya. “Maksud Mama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita tua itu menyerosot ingusnya. “Apapun caranya, Devon… Mama ingin penderitaan Biyan berakhir,” ia terdiam sejenak dan menatap Devon dalam-dalam. “Kau tau, Nak.”&lt;br /&gt;Tangan Devon mengepal kuat-kuat di kedua sisi jubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, Devon marah dalam hati. Namun dia menahannya. Sekuat tenaga menahannya, hingga seluruh energi tersalur pada telapak tangan yang tertancap kuku-kukunya. Sepicik itukah pikiran Ibu mertuanya? Semudah itukah dia menyerah? Devon benci pikiran wanita itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapanpun, Devon tidak akan melepaskan Biyan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak! Dia tidak akan membiarkan keinginan Ibunya itu tercapai! Biyan akan hidup. Biyan akan bangun dari koma. Karena itu, Devon akan berusaha keras lagi untuk pengobatan Biyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan memang sulit sekali disesuaikan dengan keinginan menusia. Sekuat apapun Devon berusaha, namun kondisi Biyan tetap tidak membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan pun berganti, tanpa sesuatu yang berarti. Beranjak pertengahan tahun, Biyan masih tetap berbaring koma. Kondisinya malah menurun sehingga beberapa selang harus ditambahkan ke tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan Biyan terlihat mengenaskan. Tidak ubahnya dengan seorang mayat. Kulitnya pucat, tubuhnya kurus dan cekungan di pipinya kian tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya semakin sering menangis ketika melihat keadaan Biyan. Wanita tua itu pun semakin bertekad untuk menghilangkan penderitaan Biyan. Dengan meminta persetujuan keluarga, Devon kembali dibujuk. Hanya ini satu-satunya cara agar Biyan bisa bebas dari penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Devon masih bersikeras menolak. Ia masih yakin pada kemampuannya untuk bisa menyembuhkan Biyan. Apalagi, ia sangat tidak rela kalau harus kehilangan Biyan, secepat ini. Biyan sungguh berarti bagi hidupnya. Hingga kalau harus kehilangan gadis itu, Devon tidak tau lagi pada hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di hari itu, Devon sedang duduk di sisi Biyan. Ia baru saja mengganti sejumlah bunga berwarna pink lembut itu dengan bunga yang baru. Harum segar merebak di ruangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menatap wajah kuyu Biyan yang mulai cekung, Devon menggenggam tangan Biyan. Pikirannya berkutat dengan kejadian belakangan ini. Tentang semua desakan keluarga akan masalah Biyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku…tidak akan melepaskanmu, Biyan,” gumam Devon begitu lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setetes air mata kembali jatuh di pipi Devon. Tapi pria itu tidak peduli. Yang diperhatikan hanya gadis yang tampak begitu tak berdaya di hadapannya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja, air mata lain menetes dari sudut matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut mata Biyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devon terperangah. “Bi…kau mendengarku?” Hening. Tak ada jawaban. “Apa…air mata itu, tanda bahwa kau begitu menderita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya suara denyut jantung dari mesin yang terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devon menundukkan kepala sambil memejamkan matanya kuat-kuat. Hatinya terasa dirajam. Begitu perih. Tapi, apa pun yang terbaik akan dilakukannya untuk Biyan. Apa pun, untuk membuat gadis itu tidak menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Devon menyerah. Ia menyerah pada keadaan, Biyan dan juga desakan keluarga. Tidak dipungkiri, hatinya pun lelah dengan semua beban. Hari itu, euthanasia akan dijalankan, sesuai dengan permintaan Ibunya Bian dan juga ijin keluarga. Euthanasia, kini hanya cara itulah yang bisa membebaskan Biyan dari segala sakit yang dideritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devon bersikeras melakukan euthanasia itu dengan tangannya sendiri. Dia yang begitu menjaga Biyan, karena itu dia juga yang akan melepas Biyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jubah putih kebangsaannya, Devon berdiri di sisi tempat tidur Biyan. Devon menatap wajah Biyan beberapa menit. Kemudian ia meraih jemari-jemari Biyan yang dingin dan menggenggamnya supaya hangat. Setelah itu, dikecupnya kening Biyan dengan begitu lembut. Satu bulir air mata menetes di kening Biyan dan mengalir ke sisi mata gadis itu. Tampak seolah Biyan yang menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah semua itu, Devon mulai melepaskan satu per satu selang yang menempel di tubuh Biyan. Tangis kedua orang Ibu meledak di kamar itu begitu Devon menyelesaikan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Devon duduk di sisi Biyan. Ia kembali menggenggam tangan Biyan. Kini, Devon hanya bisa menunggui Biyan menanti ajalnya. Dan Devon benar-benar menungguinya. Sampai jantung Biyan tidak menunjukkan denyutnya dan napas Biyan sudah tidak terdengar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir kali, Devon kembali mengecup kening Biyan dengan tubuh gemetar. Lalu mengusapnya, seolah mengijinkan Biyan pergi dengan tenang. Tidak ada air mata di wajah Devon. Ya, ia tidak akan menangis untuk kali itu. Tidak di saat ia menemani Biyan untuk terakhir kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Merry go round itu perlahan mulai berhenti. Devon masih bergeming di tempatnya. Matanya masih terarah pada permainan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Devon tertegun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuda putih itu tidak berhenti tepat di hadapannya. Kuda putih itu hilang. Dan Devon tidak bisa melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Devon lemas. Pandangannya pun kabur karena air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia mengerti!. Ia sudah tau alasan kenapa Biyan begitu menyukai merry go round, bersamaan dengan menguapnya air mata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu alasan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Biyan tau, Devon akan selalu menantinya di sisi yang sama. Menanti untuk melihat lambaian Biyan, menanti untuk melihat tawa Biyan dan menanti untuk membiarkan Biyan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut bibir pria itu mencuat sedikit. Ia tersenyum getir, seolah mengejek dirinya sendiri atas semua keterlambatan pikirannya dan apa yang sudah ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku, Biyan…Sungguh, maafkan aku…” gumam Devon perlahan dengan suara sendu.&lt;br /&gt;Devon menelungkupkan kepalanya ke atas kedua tangannya yang berpegangan pada besi-besi pagar merry go round. Tiba-tiba tangisnya meledak di sana. Tangisan putus asa dan kekecewaan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Devon tidak tau harus bagaimana menghadapi hidup. Sungguh, ia bagai orang yang terlunta-lunta sendirian. Tanpa istri, tanpa karier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya telah menghilang, tanpa pernah bisa untuk kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit senja beranjak gelap. Orang-orang mulai meninggalkan tempat wisata itu. Hanya Devon yang masih tetap di tempat. Masih tetap bergumul dengan tangis dan semua pikiran masa lalunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sampai kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Sebuah tulisan usang yang terbengkalai di gudang data.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-5110745443093543847?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/5110745443093543847/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/04/merry-go-round.html#comment-form' title='45 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5110745443093543847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5110745443093543847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/04/merry-go-round.html' title='Merry Go Round'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>45</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-5533691069264847907</id><published>2010-04-08T14:55:00.002+07:00</published><updated>2010-04-08T15:48:55.786+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Bye, Mr. Always Yesterday</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Bahwa hari ini aku akan kembali pada sang ‘Bunda’…, akankah kau hadir di sini untuk terakhir kaliku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Hari sudah semakin malam, saat aku masih tetap terjaga, berdiri di antara belaian angin yang mengusap lembut wajah dan rambutku. Aku letih. Bahkan hampir menyerah. Tapi, hatiku terlalu kokoh seperti pilar hingga tetap membuatku berpijak pada bumi dimana bukan tempatku seharusnya berdiri. Dingin malam membuat aku merapatkan cardigan putihku. Aku berdoa, agar—setidaknya, kau segera keluar dari rumahmu, sekedar untuk mencari makanan ringan pengganjal perut atau mengecek apakah pintu pagarmu sudah terkunci rapat. Tapi, doaku terkunci selama setengah jam—lebih. Tidak ada jawaban. Kau…, tetap tidak menampakkan sosokmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Tubuhku semakin dingin. Doaku semakin kencang. Tapi, radarku tidak cukup kuat untuk mengirimkan sinyal jeritan hati ini kepadamu. Juga kepada Tuhan. Hingga semuanya tetap terasa hening, semakin sayup dan hampa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Hanya satu kata yang ingin ku kirimkan—rindu, namun aku terpekur sendirian. Aku memenjarakan kata itu dan menikmatinya seorang diri. Tapi, ini untuk terakhir kali. Dan, sudah saatnya ‘kata’ itu bebas dari sarangnya, menghampiri sang penerima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Hanya saja, kau masih tetap berada di dalam sana. Sibuk. Sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: courier new;"&gt;&lt;br /&gt;Karena…, kau memang tidak pernah tahu keberadaanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Aku menarik napas dalam-dalam. Begitu kutengadahkan kepalaku, mataku langsung menangkap sosokmu yang bergerak keluar dari dalam rumah sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku sweater. Kau berjalan menunduk seolah ingin melindungi wajahmu dari tatapan lima meterku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Hatiku mencelos.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Perlahan, kau bergerak keluar pagar. Apa yang kau cari di malam selarut ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Doaku terjawab sudah. Kini, aku menarik napas kuat-kuat, mengumpulkan kekuatan di dalam diri. Lalu, dengan kaki yang terbungkus boot putih dengan sisinya berbulu, aku pun melangkah mantap di belakang punggungmu yang lebar. Terlihat begitu hangat jika aku berada di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;“Ngng…,”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Entah bagaimana, suara pelanku bisa merambat ke telingamu. Kau menoleh. Wajahmu tampak begitu bingung, dengan kening yang berlipat dan alis menyatu. Namun, aku tau kau tetap menyelipkan seulas senyum untukku. Senyum yang begitu hangat. Senyum yang sangat ramah. Hingga aku yakin, kau adalah pria yang sangat baik dan terbuka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;“Ya?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Aku menunduk. Dengan tangan bergetar—antara dingin dan gugup, aku mengeluarkan sebuah botol kaca dengan gulungan-gulungan foto di dalamnya. Fotomu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;“Selamat ulang tahun.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Wajahmu semakin menunjukkan kebingungan. Sampai-sampai kau lupa bahwa tanganku terjulur untuk memberikan hadiah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;“Sori…, apa aku kenal kamu?” tanyamu berusaha sehalus mungkin. Aku tau, kau tidak ingin menyakiti perasaanku. Tapi aku juga tau, bahwa kau memang tidak mengenalmu. Jika bukan bayangan mimpiku yang menunjukkan sosokmu, aku tidak akan mencarimu dan menjadi seorang bayangan yang terus memendam rasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Aku tersenyum. Kaku. “Nggak. Tapi, aku kenal kamu. Dan pagi ini, usiamu tepat bertambah. Jadi aku ingin memberikan hadiah ini.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Akhirnya, kau mau menerima hadiah dariku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;“Thank’s. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Kau hanya terdiam. Aku tau, saat itu, kepalamu hanya penuh dengan berbagai pertanyaan. Sayang, aku tidak bisa menjawab semuanya. Aku harap kau bisa mengerti bahwa sesuatu akan lebih berharga ketika dia menjadi sebuah rahasia yang tak terungkap wujudnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Lalu, aku segera membalikkan badanku, bergerak ringan dan pergi dengan meninggalkan jejak secara perlahan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: courier new;"&gt; Apa kau penasaran?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Hari ini, subuh masih mengurung bumi dan langit masih menampakkan rona keunguannya. Tapi, aku sudah muncul. Aku berbias pada langit dan memamerkan keindahan warnaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: courier new;"&gt;Hanya untuk melihatmu yang sudah sibuk dengan pakaian rapih, siap bergegas menuju kantor. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-5533691069264847907?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/5533691069264847907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/04/bye-mr-always-yesterday.html#comment-form' title='23 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5533691069264847907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5533691069264847907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/04/bye-mr-always-yesterday.html' title='Bye, Mr. Always Yesterday'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-917183592647047122</id><published>2010-03-14T21:38:00.002+07:00</published><updated>2010-03-14T22:10:13.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Memori Putih</title><content type='html'>Kamu ingat tempat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukit kecil ini, pohon besar dengan daun rindangnya, dan alas berumput. Semuanya menjadi saksi pengakuan yang meluncur dari bibirmu bahwa kamu datang dari planet mars. Masih ingat? Mungkin tidak lagi. Bahwa dulu, kita sering berbagi kisah dalam potongan-potongan yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Bahwa akan selalu ada matahari yang terbit di barat dan terbenam di timur. Begitu juga dengan kisahmu. Ratusan. Mungkin ribuan. Tidak akan pupus meski waktu itu hujan turun perlahan menjadi musik pengiring bagi kata-katamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu itu, mozaik buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepingan demi kepingan dari kata yang menjadi sebuah dunia baru bagiku. Mimpi, kodok, pulau terpencil, dan kiamat. Apa pun itu, kamu selalu bercerita dengan gaya khasmu yang penuh semangat. Hingga setiap tingkahmu selalu membuatku tak kuasa untuk tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kamu curang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu selalu tahu apa pun mengenai diriku. Kenapa aku tidak bisa mengetahui apa pun tentangmu? Padahal akulah pengamatmu. Sementara kamu selalu sibuk bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, memang kamu tidak pernah membiarkan aku membaca semua yang kamu simpan. Tentang dirimu. Karena kamu tahu aku tidak boleh berharap terlalu jauh, menggapai bintang seperti kisahmu. Tapi, kamu tenang saja. Sebelum aku berusaha mencari tangga untuk memetik bintang, aku akan menghapus langit untuk diriku. Langit kecil di ruang hatiku yang bersinar. Hingga kamu tidak perlu khawatir bahwa aku akan jatuh dari ketinggian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Aku tidak akan jatuh sakit...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat melihat kamu ternyata bersama&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-917183592647047122?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/917183592647047122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/03/memori-putih.html#comment-form' title='40 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/917183592647047122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/917183592647047122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/03/memori-putih.html' title='Memori Putih'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>40</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-3829974622443847955</id><published>2010-03-03T06:39:00.002+07:00</published><updated>2010-03-03T06:39:00.493+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Olahan Kata'/><title type='text'>Kesesakan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Kata orang : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;be yourself.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Tapi dia terus berusaha berlari, hingga jatuh tersungkur, lalu berusaha menemukan topeng milik orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dan, kemudian...lari lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-3829974622443847955?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/3829974622443847955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/03/kesesakan.html#comment-form' title='22 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/3829974622443847955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/3829974622443847955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/03/kesesakan.html' title='Kesesakan'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-3604267490528841216</id><published>2010-02-28T22:02:00.002+07:00</published><updated>2010-02-28T22:30:27.455+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Olahan Kata'/><title type='text'>Hanabi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Otousan, hanabi ga deta.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ayah, kembang apinya muncul&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dou? Hanabi ga kirei datta ne.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gimana? kembang apinya cantik, ya&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otousan, atashi hanabi ga daisuki desu. Itsuka, hanabi mitai ni naritai.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ayah, aku suka banget kembang api. suatu hari nanti, aku mau menjadi seperti kembang api&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E? Doushite, hanabi tte?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;loh? kenapa seperti kembang api?&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanabi ga atashi mitai hosokute hikari o tsukureru kara desu. Kurai sora mou kuraku narimasen. Dakara atashi mo ankoku ni de hikaritai. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;karena kembang api kurus seperti aku dan bisa menghasilkan cahaya. Langit yang gelap jadi nggak gelap lagi. karenanya aku mau bercahaya di atas kegelapan&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pria setengah baya itu menunduk menatap putri kecilnya dengan mata sipitnya yang penuh dengan rasa kagum sekaligus terharu. Pesta musim panas hampir saja berakhir dan sisa-sisa cahaya kembang api masih meninggalkan jejak di langit yang gelap. Tapi, rangkaian impian diatas kata-kata yang meluncur dari bibir mungil putrinya, seperti memberikan secercah pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin suatu hari nanti, kehidupannya--juga putrinya, terbebas dari dunia gelap berkedok kejahatan. Ya, pria itu tidak akan mendukung putrinya hidup di atas tanah bergelimpangan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Ditulis hanya untuk melatih kemampuan bahasa jepang penulis yang masih belum berkembang.&lt;br /&gt;Jika menemukan kesalahan tata bahasa, bisa berkomentar.&lt;br /&gt;Dan, masih memiliki benang merah dengan postingan kemarin.&lt;br /&gt;Semua...&lt;br /&gt;Tentang 'hitam'&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-3604267490528841216?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/3604267490528841216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/hanabi.html#comment-form' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/3604267490528841216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/3604267490528841216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/hanabi.html' title='Hanabi'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-9070144963790814571</id><published>2010-02-25T19:48:00.003+07:00</published><updated>2010-02-26T06:29:21.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Olahan Kata'/><title type='text'>Bahwa Aku dan Bukan Aku</title><content type='html'>Hingga tanpa sadar, Aku meraih cermin bundar itu.&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;......&lt;br /&gt;.......&lt;br /&gt;Bukan diriku. Bukan seorang perempuan berwajah pucat pasi yang hidup dalam kesengsaraan setelah melarikan diri dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dia. Sang monster. Buas. Liar.&lt;br /&gt;Ini bukan Aku.&lt;br /&gt;Atau Aku dalam wujud yang tidak pernah aku sadari sebelumnya.&lt;br /&gt;Atau Aku terlalu takut mengakui bahwa cermin itu telah berhasil mengangkat bentuk hatiku ke permukaan, hingga semua orang bisa melihat betapa hitam dan kelamnya Aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bukan hitam putih yang kupunya, tapi hitam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-9070144963790814571?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/9070144963790814571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/bahwa-aku-dan-bukan-aku.html#comment-form' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/9070144963790814571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/9070144963790814571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/bahwa-aku-dan-bukan-aku.html' title='Bahwa Aku dan Bukan Aku'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-3290057310114815539</id><published>2010-02-18T10:17:00.000+07:00</published><updated>2010-02-18T10:17:00.339+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Pada Satu Gerbong Kereta</title><content type='html'>Tidak ada pemandangan yang lebih menarik daripada hamparan padang rumput hijau atau sekedar warna-warni indah dari alam yang seolah bergerak cepat, seiring dengan laju kereta yang tidak bisa dihentikan. Musim semi telah tiba. Dan hanya pemandangan itu yang menarik perhatiannya. Sementara satu tangannya menopang dagu, matanya memandang jauh menembus jendela kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang kamu lihat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu membuatnya berjengit karena terkejut, lalu dia menoleh. Seorang perempuan dengan rambut terurai panjang berwarna hitam, menarik kedua sudut bibirnya hingga melengkung. Dia menyapa&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan apa-apa," katanya. Dia menegakkan tubuhnya dengan tegas, sekalian memberi ruang jika orang asing itu hendak duduk di kursi di hadapannya yang memang masih kosong. "Cuma...ada semua itu yang paling menarik untuk dilihat." Dia menunjuk pemandangan di luar yang terus menerus bergerak meninggalkannya seperti pergerakan film yang sengaja dipercepat, dengan dagunya yang kokoh dan membelah di ujungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohhh, kalau aku duduk di sini, bagaimana?" tanya suara lembut itu, mengusik daya imajinasinya. Dia belum berkata apa-apa, tapi perempuan itu sudah menentukan sendiri keputusannya. Pria itu hanya bisa mengikuti gerakan si perempuan dengan sepasang matanya yang lancip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya begitu saja. Lalu hening merambati. Membuat dia diam-diam mencuri pandang ke arah si perempuan yang berwajah pucat, kontras dengan suasana di luar sana yang penuh dengan warna ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku..." kembali suara lembut itu menggelitik telinganya. Membuat dia langsung menoleh dan mendapati perempuan itu bicara tanpa sekali pun memandangnya. "Aku sakit. Aku menderita Alzheimir. Karena itu aku selalu saja ditinggalkan oleh orang yang mencintaiku. Mereka benci karena aku melupakan mereka. Mereka bilang aku tidak pernah menghargai usaha mereka, karena aku tidak bisa mengingat apa yang telah mereka berikan." Perempuan itu menelan ludah susah payah. "Aku juga tidak berharap seperti itu. Tapi...aku juga tidak pernah tahu kalau aku akan sakit seperti ini. Aku ingin bisa mengingat semuanya sebagai kenangan, tapi aku tidak bisa..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan isakannya mengalir perlahan.&lt;br /&gt;Sementara pria dihadapannya menahan napas karena diserang oleh kata-kata yang tidak diharapankannya. Paling tidak bukan dari orang asing yang dikenalnya lima menit yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulir kristal air matanya turun dari pangkal mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanyanya. "Kenapa kamu berharap menyimpannya sebagai kenangan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena tidak ada harapan untuk masa depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu, bolehkah untuk beberapa saat ini aku menyukaimu? Hanya untuk saat ini..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu tak lantas mengangguk. Dia seperti terjebak dalam lubang yang dibuatnya sendiri. Wajahnya yang diukir garis-garis tegas menegang. Matanya berusaha membaca maksud dari perempuan itu. Tapi, tidak ditemuinya sesuatu yang membuatnya harus membekukan hatinya dari si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya untuk saat ini. Itu berarti hanya untuk tiga jam ke depan, sampai kereta itu akhirnya berhenti di tempat tujuannya. Pria itu membiarkan kepala perempuan itu memberati sisi pundaknya. Juga membiarkan ujung kaosnya basah karena air mata yang tumpah dari sosok yang baru dikenalnya itu. Tidak pernah diketahuinya kenapa dia membiarkan semua ini terjadi. Yang dia tahu, perempuan itu butuh sandaran. Dan dia memberikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa patah kata dan beberapa gerak gerik yang menunjukkan sedikit perhatian, hingga akhirnya tiga jam itu berlalu tanpa sesuatu yang benar-benar berarti. Kereta berhenti di stasiun berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin kita berfoto sebentar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu meraih kamera polaroidnya dan mulai menjepretkan sang lensa untuk mengabadikan senyum terakhir keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski tidak berguna, tapi aku akan menyimpannya sebagai kenangan." Perempuan itu bersiap pergi namun kemudian langkahnya terhenti. Dia menoleh dan menatap pria yang duduk beberapa langkah darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih, ya." Dia mengacungkan fotonya. "Karena aku pasti akan melupakanmu, jangan pernah mengingatku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia menghilang dan hanya meninggalkan jejak senyum dalam ingatan pria itu.&lt;br /&gt;Perempuan asing yang mengejutkannya telah pergi. Membawa serta kenangan singkat itu sendiri. Entah bagaimana nasibnya, dia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Kembali pria itu melamun menatap pemandangan di luar sana. Dia kembali sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, boleh aku duduk di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suara itu muncul. Pria itu menoleh dan tidak sekali pun dia bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia. Perempuan yang menyapanya. Mirip dengan perempuan tadi. Tidak, bukan mirip, tapi sama persis. Lekuk senyumnya, deretan giginya yang rapih, rambutnya yang tergerai halus layaknya sutra dan juga wajahnya yang agak pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu menelan ludah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah menyadari, dimana batas tegas antara kenyataan dan khayalan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-3290057310114815539?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/3290057310114815539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/pada-satu-gerbong-kereta.html#comment-form' title='23 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/3290057310114815539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/3290057310114815539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/pada-satu-gerbong-kereta.html' title='Pada Satu Gerbong Kereta'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-2606020147723506365</id><published>2010-02-15T17:38:00.004+07:00</published><updated>2010-02-15T18:16:07.519+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Award'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Olahan Kata'/><title type='text'>Salju yang Bercerita</title><content type='html'>Akulah sang debu kristal putih bernama salju dan aku mengukir setiap langkah yang tak terbawa jejaknya untuk kujadikan sebuah kenangan. Setiap jejak yang tertinggal adalah kisah bagiku. Besar, kecil, berlekuk. Aku menyukainya.Dan aku selalu tersenyum untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah sang putri yang membuat setitik kebahagiaan di musim yang penuh dengan kebekuan. Aku mencarinya di tiap waktu sebelum matahari membunuhku secara perlahan dan pasti. Aku yang tidak akan pernah bisa terlewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah sang bunga es yang membuat siapapun menantikan kedatanganku. Merangkaikannya, menggenggamnya, atau pun menyanjungnya. Sementara &lt;a href="http://lophli.blogspot.com/"&gt;simfoni kehidupan&lt;/a&gt; terus bergerak dengan lembut, aku akan datang kembali untuk mengiringi setiap kisah dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar rangkaian kata yang tidak begitu berarti untuk Rava yang memberikan award untuk blog yang nyaris terbengkalai ini lantaran belum ada setitik ide muncul. Trim`s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S3ksv681VRI/AAAAAAAAAdk/1Mvfl80b13o/s1600-h/heart+coffee+award.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S3ksv681VRI/AAAAAAAAAdk/1Mvfl80b13o/s320/heart+coffee+award.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438427226816468242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S3kshLDdh3I/AAAAAAAAAdc/mskth19rHqI/s1600-h/hottest+female+blogger.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 160px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S3kshLDdh3I/AAAAAAAAAdc/mskth19rHqI/s320/hottest+female+blogger.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438426973441197938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-2606020147723506365?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/2606020147723506365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/salju-yang-bercerita.html#comment-form' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/2606020147723506365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/2606020147723506365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/salju-yang-bercerita.html' title='Salju yang Bercerita'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S3ksv681VRI/AAAAAAAAAdk/1Mvfl80b13o/s72-c/heart+coffee+award.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-5155669375388146730</id><published>2010-02-09T11:30:00.000+07:00</published><updated>2010-02-09T11:30:00.218+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>(Hanya) Sebuah Kata-Kata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Hai, kawan. Ini cuma satu cara gua untuk kasih tau kejujuran. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;Well&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;, mungkin selama ini gua terlalu galak, terlalu ringan tangan dan mandang lo dengan tatapan tajam karena emosi. Kadang gua marah dan pengen banget ngusir lo, tapi gua nggak bisa. Setiap kali gua liat kedua mata lo yang memancarkan sinar yang begitu sabar dan bersahabat, justru gua merasa lo yang lebih pantas nendang gua keluar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hei, hei. Kamu meremehkan aku! Kata siapa aku marah dengan sikapmu?! Kata siapa aku pantas menendangmu keluar?! Ini rumahmu, kawan. Dan segala kata-katamu mengenai emosi, aku percaya setiap mahluk hidup memiliki emosi. Begitu juga aku. Karena itulah kita kaya akan perasaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: right;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Terkadang gua berpikir, apa gua cukup baik untuk lo?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sangat baik! Kamu tidak tahu apa-apa, kawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: courier new;"&gt;Gua nggak pernah memberikan kesenangan untuk lo. Sebagai mahluk hidup, lo butuh udara segar. Sementara yang gua lakukan adalah memenjarakan lo dari dunia. Seharusnya lo mencari kehidupan lain di luar sana bersama kawan-kawan lo yang lain. Pasti lo bakal bisa lebih bahagia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Salah, kawan. Disinilah kebahagiaanku! Aku tidak pernah merasa seperti dipenjara. Melihat semua ekspresimu adalah kekuatanku. Juga senyumku yang membuatku bertahan di sini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Apa lo sama sekali nggak bosen setiap kali hanya berada di rumah? Apa yang lo lakuin selama gua nggak ada?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kawan, kamu benar-benar tidak mengerti. Karena aku selalu menunggumu maka aku tidak pernah bosan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Ya, ya, ya, gua tau lo selalu menyambut kedatangan gua setiap kali gua pulang ke rumah. Seberapa telat gua pulang, meski dengan emosi atau pun &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;mood &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;yang baik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Aku suka itu. Aku selalu bersemangat ketika kamu pulang dan membiarkan aku menyambutmu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Persahabatan yang lo tawarkan buat gua, sungguh membuat gua nggak mampu untuk membalasnya. Segala kesetiaan dan kesabaran lo menghadapi gua, terima kasih banyak. Gua janji gua nggak akan lagi memukul elo, meski lo merusak semua sepatu gua. Benda itu bisa gua beli lagi, tapi kisah kita nggak akan bisa gua beli lagi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Asal kamu tau kawan, meski kamu memukulku, aku tidak akan pernah berhenti untuk tetap setia padamu. Meski kamu marah padaku, aku akan tetap menunggu kamu di sini, diam, duduk, tenang, dan menunggu amarahmu hingga reda. Kawan, kalau bukan kesetiaan yang kutawarkan untukmu, aku tidak akan pernah layak untuk menjadi seekor anjing peliharaanmu. Itulah kewajiban yang harus kami lakukan, melayani majikan kami sampai nyawa kami habis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dan, kemudian pria itu berdiri, mengelus kepala sang anjing kampung kesayangannya, lalu merogoh sakunya untuk melemparkan sebuah biskuit kesukaan si anjing. Dengan keempat kakinya yang gagah, anjing itu segera mengejar biskuitnya dan melahapnya dengan sukacita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karena bagaimana pun, aku akan tetap menyayangi majikanku&lt;/span&gt;....katanya, dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-5155669375388146730?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/5155669375388146730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/hanya-sebuah-kata-kata.html#comment-form' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5155669375388146730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5155669375388146730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/hanya-sebuah-kata-kata.html' title='(Hanya) Sebuah Kata-Kata'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-6783397141111070619</id><published>2010-02-03T18:02:00.006+07:00</published><updated>2010-02-03T18:12:03.982+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Award'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Mine Is 'A'</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p style="font-family: georgia;" face="arial" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk gadis dalam &lt;a href="http://cabetina.blogspot.com/"&gt;de javu&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bukan satu atau dua kali saya melihatmu. Berdiri dengan wajah penuh kekosongan, tampak sesekali tanganmu menggantungkan kuas dan menggoreskannya di sebuah kanvas. Saya tidak mengenalmu. Begitu juga dirimu. Saya percaya tidak ada takdir yang menuntun kita untuk saling mengenal. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak, kecuali sebatas angan dan imajinasi yang sepertinya sungguh nyata. Tapi, kamu sungguh berada dekat sekali dengan saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kenapa jarak terasa begitu jauh saat kita berada sungguh dekat?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bukan sekali atau dua kali saya bertanya-tanya dalam benak sendiri, apa yang membuatmu tampak seringkali melamun, padahal tanganmu bergerak dengan lembutnya seperti gerakan angin yang perlahan menyapu dedahanan? Atau mungkin nyawamu terbang mencari inspirasi untuk buah tanganmu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Wahai gadis, seandainya dirimu tahu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Terlalu lama pengharapan ini terpendam. Melangkahkan kaki untuk mendekatimu, rasanya seperti melangkahkan kaki menuju kematian. Lebih dari sekedar sulit. Juga lebih dari sekedar pengecut. Karena bagi saya, kamu gadis dengan julukan A adalah milik saya seorang yang hanya bisa dirasakan melalui satu tutupan mata. Hanya bisa disentuh melalui sapuan angin yang mengelus telapak tangan yang sengaja dilebarkan ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Karena...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Meski kita dekat, kamu adalah transparan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gadis de javu bernama A.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tangan ini tidak akan bisa memetik setiap senar gitar, tanpa kehadiranmu. Bibir ini tidak mungkin bersuara ketika kamu tidak datang untuk memberikan satu sentilan ide. Dan, tidak akan ada nada-nada indah yang saya perdengarkan pada banyak orang, jika bukan dirimu yang menguasai setiap sel otak saya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekali lagi, kamu gadis bernama A.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A untuk segala inspirasi saya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" face="arial" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;font-family:georgia;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;font-family:georgia;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;font-family:courier new;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-family: georgia;"&gt;Memajang award yang diberikan Aulawi Ahmad. Semoga ide saya bisa terus lancar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S2lX8h2bAwI/AAAAAAAAAcE/1i0bgrbQ3Kk/s1600-h/awards+from+aulawi+.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S2lX8h2bAwI/AAAAAAAAAcE/1i0bgrbQ3Kk/s320/awards+from+aulawi+.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433971122789614338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-family:arial;" &gt;NOTE: Maaf, lama sekali nggak update blog cerpen ini. Beberapa minggu belakangan sedang nggak bisa mencari ide yang sederhana untuk bisa dituliskan ke dalam bentuk cerpen. Tapi, saya harap saya masih bisa mencari ide lain. Huhuhu~ Saya nggak mau blog saya ini terbengkalai...*halah bahasamu nduk*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-6783397141111070619?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/6783397141111070619/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/mine-is.html#comment-form' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/6783397141111070619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/6783397141111070619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/02/mine-is.html' title='Mine Is &apos;A&apos;'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S2lX8h2bAwI/AAAAAAAAAcE/1i0bgrbQ3Kk/s72-c/awards+from+aulawi+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-7114663482051496175</id><published>2010-01-15T21:16:00.001+07:00</published><updated>2010-01-15T21:24:29.200+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita bersambung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Her Wedding Dress part 5</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CUSER%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Jam baru saja menunjukkan pukul setengah satu saat aku kembali ke butik. Ah, seharusnya aku tidak buru-buru kembali bekerja. Masih ada setengah jam tersisa untuk jatah &lt;i style=""&gt;break lunch &lt;/i&gt;yang memang menjadi peraturan di usaha kecil-kecilanku ini. Bukan untukku saja, tapi juga untuk sejumlah karyawan yang bekerja di sana. Tapi ya sudahlah, kembali lebih awak ke kantor juga bukan hal yang buruk dimana aku adalah pimpinan mereka dan sudah sewajarnya kalau aku memberikan contoh yang baik, kan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku mendorong pintu kantor. Ruangan kosong penuh hawa dingin dari hembusan AC langsung menyapa. Segera kuhampiri meja tempat biasanya aku berkutat dengan &lt;i style=""&gt;sketch book&lt;/i&gt;ku. Ada sekelibat ide yang rasanya harus cepat-cepat kutuangkan dalam buku gambarku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Namun, aku mendapati beberapa kertas berisikan gambar yang secara &lt;i style=""&gt;skill&lt;/i&gt; jauh dari sempurna, atau katakan saja gambar ini hanya dibuat oleh seorang pemula yang bahkan tidak tau menahu tehnik &lt;i style=""&gt;design&lt;/i&gt;. Keningku berkerut seraya memperhatikan satu per satu gambar tersebut. Bukan gambar yang rapih, tapi aku tau si pembuatnya pasti telah berusaha keras untuk membuat siapapun mengerti apa yang dia buat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Wedding dress&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ya, beberapa potong gaun pengantin. Yang masih bengkok-bengkok. Berantakan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;”Ah...itu...”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Suara itu! Suara yang sangat kukenal dan belakangan selalu mengitari kehidupanku bagai sebuah atmosfer baru. Bak nafas kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kualihkan pandanganku dari kertas-kertas tersebut ke arahnya. Seorang pria berdiri dengan senyum khas yang menggambarkan sisi nakalnya. Senyum hangat yang begitu lembut tapi juga jenaka. Dan aku selalu menyebutnya sebagai &lt;i style=""&gt;baby smile.&lt;/i&gt; Dia menggaruk-garuk belakang kepalanya, seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang mencuri permen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;”Jangan diledek. Gambarnya jelek.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Senyumku seketika mengembang. Dia, selalu mampu membuatku seperti ini. Membuatku bangkit dari segala keterpurukkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tapi...dia bukan seorang &lt;i style=""&gt;designer&lt;/i&gt;. Dia bahkan tidak bisa menggambar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;”Ini untuk apa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kulihat dia masih saja tersenyum simpul, seakan sedang menyimpan sebuah rahasia yang tidak ingin dia beritahu padaku. Matanya bergerak jenaka. Ah, mungkin matanya sedang berusaha bicara padaku. Tapi...aku tidak tau apa maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dan dia mulai mendekat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Masih dengan mata yang menatapku sama persis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;”Aku mau kamu memilih gaun mana yang mau kamu pakai saat pernikahan kita nanti.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Aku terkejut bukan main. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jantungku langsung berdegup begitu cepat, seakan sebuah roller coaster sedang membawanya bergerak. Mungkinkah aku mengalami gangguan pendengaran? Dan masih belum sepenuhnya aku menerima sebaris kalimatnya itu, dia segera mengulurkan sebuah cincin sederhana namun berkilau indah ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;”Itu...kalau kamu mau menikah denganku.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Semua kejadian itu kembali berputar di benakku kala Ethan memintaku untuk kembali padanya. Lalu silih berganti dengan perlakuan bejat Ethan padaku. Namun aku tau apa jawabanku. Aku tau apa keputusanku. Dan aku yakin dengan semuanya. Aku malah bersyukur karena dijauhkan dari pria seperti Ethan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku memperhatikan pandangan Ethan yang kini beradu dengan Naya. Seumur aku mengenalnya, belum pernah aku melihat tatapan Naya berkilat penuh kemarahan. Sementara tangannya masih terus menggenggam tanganku dengan erat, seakan memberitahuku untuk tidak berpihak pada Ethan. Sekaligus memberitahu Ethan, bahwa sudah ada seseorang yang mau dengan tulus dan penuh cinta menggenggam tanganku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;”Dia...akan menikah denganku.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hanya itu kata-katanya. Begitu tenang, begitu dalam, dan begitu menyejukkan untukku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 115%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-7114663482051496175?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/7114663482051496175/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/01/her-wedding-dress-part-5.html#comment-form' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/7114663482051496175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/7114663482051496175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/01/her-wedding-dress-part-5.html' title='Her Wedding Dress part 5'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-8063432632260513343</id><published>2010-01-07T19:58:00.006+07:00</published><updated>2010-01-07T20:34:00.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Award'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Pohon Dalam De Javu</title><content type='html'>by : Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit menggantungkan semburat keoranyean, yang semakin lama semakin tertelan oleh kegelapan. Hingga sang pangeran cahaya berubah menjadi seorang dewi malam yang bercahaya pucat. Menerangi redup-redup jalanan setapak yang dilaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu. Seorang diri. Di dalam balutan gaun tidurnya yang berwarna putih. Rambutnya tergerai, dibelai hembusan sang angin malam yang dinginnya menggerogoti setiap kulitnya yang tampak. Kakinya yang telanjang merasakan kelembapan tanah setiap kali dia melangkah. Namun, dia sama sekali tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putus asa menggelayut di sepasang matanya yang bulat. Putus asa memayungi kepalanya selama dia terus berjalan, menyisiri jalanan setapak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa dia berada di sana?&lt;br /&gt;Untuk mencari. Sesuatu.&lt;br /&gt;Dan dia tetap melangkah, mulai memasuki daerah yang dipenuhi oleh pepohonan rindang. Dia tidak takut sedikit pun. Kakinya masih mantap, hatinya masih terus mendesak dan pandangannya masih sama. Putus asa. Ada bekas-bekas air mata yang membasahi pipinya yang tirus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelibat bayangan itu muncul. Dia yakin merasa begitu familiar dengan tempat ini. Sekilas, bayangan &lt;a href="http://cabetina.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;De Javu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; itu hadir. Memperlihatkan hal yang sama dengan yang berada di hadapannya saat itu. Hingga dia semakin ingin menembus hutan itu hingga ke dalam. Jauh lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai berlari. Perlahan. Lalu sedikit lebih cepat. Akar-akar besar menghambat langkahnya. Tapi dia tidak peduli. Dia terus berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga dia menemui&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Di sana, di dalam bola matanya, di ujung hutan itu. Sebuah&lt;span style="font-size:180%;"&gt; &lt;a href="http://pohonkusepisendiri.blogspot.com/"&gt;Pohon&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; tegak berdiri sendiri. Tampak begitu kesepian. Dan bayangan yang seperti de javu itu kembali melintas. Kali ini lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dia tau. Dia ingat.&lt;br /&gt;Karena pohon itu, dulu tidak sendiri.&lt;br /&gt;Karena dulu, dialah yang menemani pohon itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;NOTE:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini hanya selingan &lt;a href="http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/01/her-wedding-dress-part-4.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;her wedding dress&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; karena nggak enak nunda lama-lama majang award, hehehehe. Habis ini masih lanjut lagi kisahnya, kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini hanyalah fiksi, tetapi penulis sengaja membuatnya untuk memberikan rasa terima kasihnya atas award yang diberikan oleh kawan sesama blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Award dari Aulawi Ahmad di Dejavu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S0XhGhuqnYI/AAAAAAAAAYU/Pl4Gt--1zkk/s1600-h/aulawi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 292px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S0XhGhuqnYI/AAAAAAAAAYU/Pl4Gt--1zkk/s320/aulawi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423988828487196034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Award dari Pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S0XhmCSI4XI/AAAAAAAAAYc/5CJ0Kcv1nuc/s1600-h/Friendship+Chain+Award+and+Interesting+Blog+Award.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 158px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S0XhmCSI4XI/AAAAAAAAAYc/5CJ0Kcv1nuc/s320/Friendship+Chain+Award+and+Interesting+Blog+Award.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423989369801859442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-8063432632260513343?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/8063432632260513343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/01/pohon-dalam-de-javu.html#comment-form' title='28 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8063432632260513343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8063432632260513343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/01/pohon-dalam-de-javu.html' title='Pohon Dalam De Javu'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/S0XhGhuqnYI/AAAAAAAAAYU/Pl4Gt--1zkk/s72-c/aulawi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>28</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-1193085440937834120</id><published>2010-01-05T20:32:00.003+07:00</published><updated>2010-01-05T20:40:19.311+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita bersambung'/><title type='text'>Her Wedding Dress part 4</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Sekarang bulan apa? Coba kutebak. Hmmm, November? Benar? Oke. Aku nggak mengalami gangguan ingatan meski hidupku selama—coba kuingat, tiga bulan? Ya tiga bulan kemarin sudah seperti berada dalam kungkungan penjara dalam rumah. Aku nyaris tidak keluar rumah. Aku malu. Karena aku sama sekali tidak merawat diri. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Aku urakkan. Bahkan aku nggak tau kenapa sekarang rambutku sulit sekali disisir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Dan diatas segalanya, aku berhenti membuat sketsa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Aku menarik diri dari butik terutama dari rutinitasku merancang pakaian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Aku benci &lt;i style=""&gt;design&lt;/i&gt;. Tiga kata itu cukup mewakili perasaan terdalamku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Tapi hari ini...hari pernikahannya. Apa yang kupikirkan sehingga ide gila itu muncul? Ide untuk menghadiri pernikahannya di gereja! Ya. Katakan aku gila! Aku ternyata tidak sanggup menahan rasa penasaran akan gaun yang sudah kubuat dengan susah payah, berminggu-minggu hanya untuk menemukan bahan yang cocok untuknya, dan aku sendiri tidak bisa mengenakannya untuk hari paling bahagia dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Aku bahkan sudah dicampakkan oleh orang yang paling kucintai!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Dengan perasaan kacau balau, aku pun bergegas bersiap-siap, memilih gaun simpel dari bahan sifon berwarna salem. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Lalu, berangkat menuju gereja tempat pemberkatan dengan kaki yang sudah terbungkus &lt;i style=""&gt;stilleto&lt;/i&gt; putih. Namun, langkahku terasa begitu berat ketika berada di depan pintu gerbang megah tersebut. Sebuah keinginan perlahan menguak di dalam pikiranku, tanpa bisa kukendalikan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Bisakah aku bertemu empat mata dengannya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Bisakah aku menuntut hutang penjelasan atas keputusannya mencampakkanku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Kenapa?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Hanya satu kata itu yang terus mengisi benakku selama tiga bulan belakangan, menghias di setiap roda kehidupanku yang memasuki ruang kehampaan. Tetapi, bahkan hingga jarak diantara kami hanya beberapa meter, satu pertanyaan terbesarku itu tidak bisa kudapatkan jawabannya. Aku lelah. Aku ingin mundur, namun aku bertahan. Aku ingin menutup mataku, tapi rasanya berat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Senyum yang terulas saat dia keluar dari gereja dihantar oleh ratusan tamu. Sorot mata yang hangat saat dia menatap sang mempelai wanita yang menggamitkan lengannya. Aku ingin menikmati semua itu sekaligus membiarkan daya khayalku terbang, menggantikan posisi si wanita. Ya, aku menikmatinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Karena aku merindukannya...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;DEG!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Jantungku mencelos. Dia menoleh ke belakang. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Tepat ke arahku yang menatapnya kosong. Pandangan kami bertemu diantara keramaian tamu yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berusaha menjadi dinding pemisah selain jarak yang terbentang tak terlalu jauh itu. Aku bagai sebuah mendung di antara riak keceriaan. Aku seperti patung yang kosong dan tak bernyawa yang berdiri diam diantara sekumpulan manusia. Dan aku seperti sebuah warna hitam pekat yang berada di antara puluhan warna-warni berkilauan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Senyumnya hilang. Sorot matanya pun berubah drastis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Tapi tetap tidak ada jawaban atas pertanyaan &lt;i style=""&gt;kenapa&lt;/i&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Hingga tetesan air mata ini, kembali mengiringinya masuk ke dalam sebuah kendaraan mewah dan berkelas yang akan mengirim pasangan baru itu menuju tempat baru mereka. Juga kehidupan baru yang akan mereka mulai.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Mungkinkah harta telah menyilaukannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Namun aku hanya bisa menunggu untuk hadirnya sebuah penjelasan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Hingga dua tahun itu datang,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;secepat petir dan tidak terduga seperti maut....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;”Aku...menghamilinya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Aneh. Harusnya aku marah. Harusnya aku sakit mendengar pernyataan itu. Harusnya hatiku perih bagai tertikam puluhan tombak. Entah sudah berapa lama dia mengkhianatiku. Tapi hatiku beku. Tepatnya kini telah beku hanya untuknya. Aku seperti roh halus yang tidak mampu merasakan apa-apa saat dia menjelaskan perihal keputusannya meninggalkanku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Sebaliknya, aku hanya bisa menatapnya. Lama. Sangat lama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;”Aku minta maaf,” katanya lagi. ”Tapi aku sudah menceraikannya. Dan aku berharap, kita bisa kembali seperti dulu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Aku masih termangu. Kembali seperti dulu? Maaf? Semudah itu dia mengucapkan semuanya? Demi Tuhan, dia sama sekali tidak punya perasaan! Aku curiga hati di dalam tubuhnya mungkin adalah plastik. Tidak mampu merasakan apapun!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Lidahku kelu. Dan aku membiarkannya tetap kelu. Aku tidak berusaha untuk mencari kata-kata sebagai pembalasan. Aku memilih diam. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Benar-benar seperti manusia yang tidak mengerti apa yang sudah dikatakan lawan bicaraku saat itu. Meskipun sejuta umpatan berbaris rapi di otakku menunggu pintu berupa bibirku ini mengeluarkan mereka satu per satu dari sangkarnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Dan dorongan itu semakin kuat. Dorongan untuk meluncurkan cacian, kata benci dan semua emosi yang pernah kurasakan dulu. Aku ingin dia tahu betapa sakitnya aku waktu dicampakkannya begitu saja. Aku ingin dia tau semua luka-luka yang pernah dia torehkan untukku. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Aku ingin berteriak tepat di depan wajahnya yang seperti tidak melakukan kesalahan fatal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Gigiku sudah bergemeletuk karena emosi yang sudah beberapa bulan belakangan tertidur pulas, kini bak singa yang kelaparan dan siap menerkam mangsanya. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Tapi...semua itu redam seketika. Semua itu hilang entah kemana. Amarahku bak disiram oleh air yang menyejukkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Ya, semua itu karena dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Dia yang menahanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Dia yang kini menggenggam tanganku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Bukan Ethan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-1193085440937834120?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/1193085440937834120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/01/her-wedding-dress-part-4.html#comment-form' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1193085440937834120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1193085440937834120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2010/01/her-wedding-dress-part-4.html' title='Her Wedding Dress part 4'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-8814455775765350080</id><published>2009-12-27T09:24:00.000+07:00</published><updated>2009-12-27T09:24:00.327+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita bersambung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Her Wedding Dress part 3</title><content type='html'>Menurut orang, butikku ini cukup sukses. Aku bersyukur untuk semua itu. Mungkin memang banyak orang yang menaruh minat terhadap design yang lahir dari jemari yang memeluk pensil ini dan kemudian menuangkan sebentuk bayangan dalam kepala, pada sebuah kertas putih. Dan itu memang keahlianku. Juga kesibukanku hampir sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di dalam ruangan, berpikir mengenai potongan-potongan baju yang sedang trend, memperhatikan fashion, kembali membuat sketsa, berpikir mengenai bahan berkualitas baik dan juga membuat sebuah contoh pada patung. Kehidupanku hampir selalu berkutat dalam rutinitas yang sama. Hanya dia—Ethan, yang membuat putaran hidup itu terasa lebih bergairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, aku sengaja mempersingkat waktu kerjaku. Alasannya? Ethan. Dia. Laki-laki itu. Aku akan dinner dengannya. Dia setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menutup buku yang penuh dengan sketsa baju-baju yang akan segera dimulai pengerjaan jahitnya. Tanganku merogoh tas dan meraih beberapa poto yang sudah kucetak dan rencana akan kuberikan padanya saat makan malam. Poto kami berdua. Kemarin, saat fitting. Kami berpura-pura latihan untuk pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, itu sepertinya dia datang! Suara langkah sepatu terdengar semakin mendekat. Buru-buru kumasukkan kembali tumpukan poto itu ke dalam tas. Namun, belum baru saja aku akan bergerak keluar dari balik meja, dia sudah lebih dulu muncul dari balik pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyumku melebar.&lt;br /&gt;Begitu cepat.&lt;br /&gt;Secepat saat senyum itu kembali pudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesosok perempuan muncul dari balik punggungnya. Dengan mesra dia menggandeng lengannya. Satu reaksi pertamaku : bingung! Lalu berangsur jantungku berdegup. Apa-apaan ini? Apa sedang dalam permainan April’s mop? Tapi aku mengingat-ingat, saat itu bahkan bukan bulan April!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku nggak bisa menikah denganmu.” Suaranya segera memecah keheningan yang seperti membuat lorong kematian. ”Aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku lebih mencintainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu bersahabat dengan kejujuran. Sungguh, tapi saat itu entah kenapa aku mendadak menjadi musuh besar sebuah kejujuran. Aku benci. Aku ingin muntah. Aku ingin berteriak. Dan semua itu kutujukan untuknya. Dan juga dia—perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa yang bisa kulakukan? Hanya menangis.&lt;br /&gt;Semua makian itu tertelan.&lt;br /&gt;Semua kebencian itu hanya menjadi pengiring tangisku.&lt;br /&gt;Dan rasa sakit hati yang akhirnya menjalar di sekujur tubuh, akhirnya malah mengekang suaraku untuk keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamparan tidak akan mengembalikan semua keadaan.&lt;br /&gt;Permohonanku pun hanya semakin merendahkan harga diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu hal akhirnya kulakukan.&lt;br /&gt;Aku beranjak dari hadapan dua orang yang sangat kubenci itu. Menanggalkan segala pertanyaan kenapa yang hanya dijawab olehnya dengan begitu semu. Membiarkan semua kebencian membuntut di belakang dan sakit hati terus menjadi benalu di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hingga kini, poto itu hanya bisa menjadi saksi bisu anganku yang sudah pupus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu air mata kembali mengalir saat aku menatap senyum kami berdua yang terekam oleh jepretan lensa. Senyum yang akan selalu abadi di atas hati yang sudah retak. Senyum yang selalu abadi mengisi harapan kosong yang tidak pernah terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, aku melempar poto itu ke dalam kobaran api yang langsung melahapnya dengan ganas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-8814455775765350080?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/8814455775765350080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/her-wedding-dress-part-3.html#comment-form' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8814455775765350080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8814455775765350080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/her-wedding-dress-part-3.html' title='Her Wedding Dress part 3'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-8559253219404411951</id><published>2009-12-24T09:23:00.000+07:00</published><updated>2009-12-24T09:23:00.589+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita bersambung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Her Wedding Dress part 2</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CUSER%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;“Menurutmu, gaun pengantin ini bagus?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Aku kembali mematut diriku yang ada di cermin. Meski dengan wajah polos yang hanya berlapis bedak tipis dan rambut panjang yang dijepit asal, tapi mataku mampu menangkap ada sesuatu yang berbeda saat mengenakan gaun putih bersih yang memamerkan kedua bahu jenjangku ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Rasa bangga seketika itu juga menyelinap masuk ke dalam tiap rongga dadaku. Angan yang senantiasa ku bangun sejak memulai hubungan dengannya, seperti tengah menanti di pelupuk mata. Rasanya, ingin sekali aku berteriak bahwa aku akan menikah. Dan taukah dunia, siapa perancang pakaian pengantinnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Aku sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”Wow,” sahutnya dengan sorot mata yang menyiratkan kebahagiaan sekaligus sebuah kekaguman. Seulas senyum terlukis di bibir tipisnya. ”Sungguh, kamu cantik banget!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Aku berdecak ke arahnya, menyimpan semua perasaan malu mendapat pujian semacam itu dari laki-laki yang sudah setahun ini menjadi kekasihku. Dan akan menjadi suamiku—kelak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”Kamu bisanya gombal,” celetukku sambil kembali memandangi gaun hasil kerja kerasku selama beberapa bulan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Dia tertawa. Tawa yang membuat sudut matanya berkerut. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="FI"&gt;Tawa yang selalu melukiskan kejenakaannya. Tawa yang selalu menggetarkan hatiku. Tawa yang membuatku jatuh cinta padanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”’Than, aku bener-bener bahagia,” kataku sambil memandang ke arah mata Ethan melalui pantulan kaca. ”Aku bener-bener bahagia karena akan menikah denganmu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Dia....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;hanya terdiam. Sementara aku, mencoba membaca hatinya, melalui senyuman penuh makna itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Namun, terlalu dalam. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Pelataran Gereja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Siang hari...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Air mata itu tumpah lagi. Untuk kesekian kalinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Aku sudah tidak tau bagaimana kondisi dandananku saat ini. Yang pasti sangat berantakan. Aku tau itu. Tapi aku tidak bisa mengendalikan air mata ini. Aku tidak bisa menghentikan otakku yang terus menendangku kembali pada masa-masa bersama laki-laki brengsek itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Aku hanya seperti sebuah pena yang ketika tintanya habis hanya tinggal menjadi sampah!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Laki-laki itu brengsek!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Dan aku teramat bodoh. Seharusnya aku menyadari sikapnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="FI"&gt;Seharusnya aku menyadari keberadaan satu-satunya wanita di hatinya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Dan seharusnya aku tau bahwa wanita itu bukan aku. Tapi dia. Perempuan yang sekarang berada bermeter-meter dari tempatku sekarang mengasihani diri sendiri, sedang berdiri di samping laki-laki yang kucintai, dan tersenyum bahagia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="FI"&gt;Hatiku kembali merasakan sakit itu. Sakit yang begitu menyiksa, bahkan membuatku harus menekan kuat-kuat ke arah dada. Sakit ini bahkan menjalar ke seluruh tubuh. Membuat tenggorokanku tercekat. Juga membuatk kesulitan bernapas. Dan mata ini, terlalu pedih untuk bisa meneteskan air mata lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="FI"&gt;Tidak hanya dicampakkan, tapi hakku sebagai seorang &lt;i style=""&gt;designer&lt;/i&gt; pun seperti dikoyak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="FI"&gt;Ya. Gaun pengantin itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="FI"&gt;Seharusnya. Milikku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-8559253219404411951?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/8559253219404411951/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/her-wedding-dress-part-2.html#comment-form' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8559253219404411951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8559253219404411951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/her-wedding-dress-part-2.html' title='Her Wedding Dress part 2'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-8517251101448349871</id><published>2009-12-22T06:05:00.000+07:00</published><updated>2009-12-22T06:05:00.577+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Award'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Bunda dan Seragam Anyin</title><content type='html'>Gadis kecil itu gugup. Di satu tangannya, dia memegang sehelai seragam putih yang sudah pudar warnanya. Dengan langkah pelan, hingga tidak menimbulkan bunyi, Anyin--gadis kecil itu, mendekati Bunda yang sedang melipat pakaian kering di ruang tamu rumah kecil mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bun," panggil Anyin dengan suara kecil. Jantungnya berdegup kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda pun menghentikan pekerjaannya sejenak. Dengan tatapan sedikit jengah, Bunda menoleh. "Kenapa, Nyin?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyin mengulurkan seragam yang sedari tadi hanya berada di dalam pegangannya. Bunda mengernyitkan kening, namun hanya bergeming. "Seragam Anyin, Bun. Sudah terlalu lusuh dan kuning warnanya. Anyin malu pakenya. Soalnya temen-temen Anyin banyak yang ngeledek Anyin di sekolah," jelasnya agak takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda masih terdiam dengan pandangan yang kali ini turun ke atas seragam di tangan Anyin itu. Wajah letihnya semakin memperjelas kerut-kerut tua di bagian kening dan sudut matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau bagaimana lagi, Nyin," sahut Bunda setelah menghela napas. Bunda kembali bekerja. "Bunda nggak punya uang untuk beli seragam baru. Lagipula, dibeli berapa kalipun seragam mu akan tetap terlihat kuning. Yang salah air yang kita gunakan. Sudah dari sananya berwarna kekuningan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyin mengatupkan bibirnya. Dia ingin sekali bicara, bahwa seragam adiknya masih bisa terlihat bagus. Paling tidak, tidak berwarna kuning seperti kepunyaannya. Seragam adiknya mendapat perlakuan khusus dari sang Bunda. Setiap saat, Bunda selalu mencuci seragam adiknya dengan air yang mereka beli khusus untuk dimasak sebagai minuman karena jelas mereka tidak mungkin menggunakan air keran yang berwarna kekuningan itu untuk minum. Sehingga sampai kini pun, seragam adiknya masih tampak bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyin menelan semua protesannya itu ketika melihat keletihan di wajah Bunda. Dengan hati yang kecewa, Anyin memilih kembali ke kamar. Berpikir, bagaimana dia bisa mendapatkan seragam baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara diam-diam, Anyin membantu Ibu kantin sekolahnya untuk bersih-bersih kantin selama beberapa hari. Dari pekerjaan itulah, Anyin mendapatkan sedikit uang yang dia kumpulkan hingga paling tidak cukup untuk membeli seragam seharga lima puluh ribu. Dengan dorongan untuk menepis semua rasa malu yang diterimanya dari hinaan kawan-kawan sekolahnya, Anyin pun segera bergerak menuju pertokoan yang menjual seragam. Dia harus membeli seragam itu, supaya tidak ada satu pun orang yang menghinanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatinya kini dipenuhi semangat yang menggebu-gebu. Bayangan Bundanya yang bangga akan hasil jerih payah Anyin berusaha mendapatkan uang untuk membeli seragam baru, bayangan teman-temannya yang akan tutup mulut saat Anyin menggunakan seragam baru, dan juga bayangan si adik bahwa Anyin juga bisa memiliki seragam sebagus kepunyaannya. Namun, semua bayangan itu luntur, ketika Anyin melintasi sebuah toko perhiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda ingin sekali punya perhiasan. Kalau sewaktu-waktu kita butuh, kita bisa jual perhiasan itu. Jadi nggak perlu lagi ada kesulitan ekonomi seperti sekarang. Emas itu kan harganya terus naik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Bunda dulu, terngiang di telinga Anyin. Kata-kata dengungan dalam kepala yang akhirnya membuat Anyin justru melangkah masuk ke dalam toko perhiasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anyin mau beli perhiasan," kata Anyin pada seorang penjaga toko. "Tapi...Anyin hanya punya uang segini." Dikeluarkan semua harta bendanya itu dari saku seragamnya. Semuanya hanya berjumlah lima puluh lima ribu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah kalau segini nggak bisa beli apa-apa, dik." Penjaga toko itu berpikir sejenak. "Tapi kalau adik mau yang imitasi, bisa dapet, nih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu penjaga toko itu menyodorkan sebuah kalung perak berbandul hati yang tampak sama berkilaunya tapi tentu saja berbeda jauh kualitasnya. Anyin langsung menyukai kalung tersebut. Dia tidak mengerti dengan imitasi atau bukan, tapi dia suka kalung itu. Dan Anyin hanya berpikir bahwa Bunda pasti akan menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa pada akhirnya Anyin memilih untuk menggunakan uangnya bukan untuk membeli seragam. Anyin sendiri tidak tau. Dia hanya memikirkan Bunda, meskipun perlakuan Bunda terhadapnya sedikit tidak adil. Tapi Anyin tau, Anyin sangat sayang pada Bunda. Dan Anyin juga tau, pengorbanannya tidak sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyin kehilangan seragam impiannya, namun Anyin tidak akan pernah kehilangan senyum Bunda yang terekam dalam memori hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Note:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika terjadi kesamaan nama tokoh, adalah kesengajaan penulis yang ingin berterima kasih kepada ANYIN atau &lt;a href="http://nindalicious.blogspot.com/"&gt;pemilik dari Nindalicious &lt;/a&gt;yang kini blognya juga kekuningan (hihihihi...) atas AWARD yang diberikan untuk blog cerpen. Pesannya supaya saya semangat menulis lagi. Karena itu juga, saya sudah berencana untuk membuat lanjutan dari &lt;a href="http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/her-wedding-dress.html"&gt;Her Wedding Dress&lt;/a&gt;. Mudah-mudahan nggak terganggu sama penyakit andalan saya : &lt;em&gt;moody&lt;/em&gt;. Hehehe... (kepikiran besok buat blog namanya moodilicious kali ye :P *dijitak Anyin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/Sylym3GKHlI/AAAAAAAAAS8/j6-KUKjJivY/s1600-h/ding.png"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; DISPLAY: block; HEIGHT: 250px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415986038840106578" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/Sylym3GKHlI/AAAAAAAAAS8/j6-KUKjJivY/s320/ding.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dan terakhir, pesan dari author&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;Selamat Hari Ibu&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-8517251101448349871?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/8517251101448349871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/bunda-dan-seragam-anyin.html#comment-form' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8517251101448349871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8517251101448349871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/bunda-dan-seragam-anyin.html' title='Bunda dan Seragam Anyin'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/Sylym3GKHlI/AAAAAAAAAS8/j6-KUKjJivY/s72-c/ding.png' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-1230260973096119852</id><published>2009-12-13T20:00:00.000+07:00</published><updated>2009-12-13T20:00:01.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Her Wedding Dress</title><content type='html'>Aneh. Biasanya aku bisa berjalan dengan tegak dan kaki yang kuat menunjang tubuhku di dalam stiletto putih ini. Namun, hari ini aku tidak seperti itu. Dengan jantung yang terus berdegup kencang karena gugup, aku melangkah masuk ke dalam sebuah gereja tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuedarkan pandangan melihat seluruh tamu yang sudah duduk rapih di sana. Mungkin, hanya aku yang sendiri, berdiri di sini dengan hati yang kacau dan mata bengkak yang sudah kulapisi counselor lebih banyak dari biasanya. Kebimbangan menyergapku, hingga aku masih bergeming di pintu gereja. Sementara mataku terpaku lurus pada altar yang tertata rapih penuh bunga di ujung sana. Aku menundukkan kepala. Aku ingin memutar tubuhku, tapi semuanya mendadak kaku. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri. Lagipula, aku sudah disini, kenapa aku harus pulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala kekuatan yang kupunya, akhirnya kakiku bisa kugerakan dan melangkah gontai untuk memilih tempat duduk—di sisi pinggir. Sekilas, kurasakan kelembutan bunga mawar segar berwarna putih susu, yang menghias di sudut bangku kayu. Cantiknya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku pun mulai disekap oleh sebuah rasa iri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelibat bayangan akan tawa yang masih sempat mengisi hari-hariku beberapa bulan lalu, melintas dengan cepat bagai kereta api. Mataku kembali panas. Tidak. Aku tidak boleh lemah. Terutama saat aku sudah memantapkan hatiku untuk berada di sini. Ya, aku yang membuat keputusan untuk berada di sana!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lonceng berbunyi.&lt;br /&gt;Tanda upacara pernikahan akan dimulai.&lt;br /&gt;Semua hadirin berdiri. Aku? Tidak mungkin hanya duduk membatu saja, bukan? Tapi, kakiku begitu lemah. Sungguh. Aku merasa seluruh energiku kembali terserap oleh sesuatu. Hingga aku harus berpegangan pada satu sisi bangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mars pernikahan mulai berdenting, melalui sebuah alunan grand piano yang begitu indah dan lembut. Aku menelan ludah, susah payah. Aku menahan emosi yang membludak di dada, sekuat tenaga. Dan aku, berusaha untuk tidak menumpahkan air mata getir itu di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku menangkap dua sosok mempelai yang melangkah. Sang pengantin laki-laki tampil begitu rapih dan gagah. Dia mengenakan tuxedo yang membuatnya begitu percaya diri. Apalagi dengan satu tangan dari si pengantin perempuan yang menggamit lengan pasangannya. Keduanya berjalan dengan senyum beredar. Penuh kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miris sekali. Tapi memang pemandangan itu sangat kontras dengan keadaan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpaku menatap gaun pengantin si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaun itu….&lt;br /&gt;Indah.&lt;br /&gt;Tapi terlihat tidak begitu pas di tubuhnya.&lt;br /&gt;Karena, lingkar pinggangnya jelas berbeda denganku.&lt;br /&gt;Karena, gaun pengantin itu milikku.&lt;br /&gt;Aku yang membuatnya dan aku yang menyocokkannya dengan ukuran tubuhku. Aku yang kala itu berharap bisa mengenakan gaun pengantin tersebut di dalam pernikahanku nanti. Dengannya. Si laki-laki yang memakai tuxedo itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, harusnya aku yang ada di sana!&lt;br /&gt;Aku yang berjalan di sebelahnya. Bukan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, dia meninggalkanku setelah mencuri design, hasil kerja kerasku akan impian yang sudah kubangun selama satu tahun menjalin hubungan dengannya. Dia mencampakkanku! Dengan mudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku kembali berdenyut.&lt;br /&gt;Tapi, aku kuat. Aku harus kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan tatapan kami bertemu. Dia mengerutkan keningnya. Pasti heran dengan kehadiran tamu tak diundang ini. Faktanya, aku memang berdiri di sini, untuk perayaan pernikahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat buah karyaku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci ini, tapi air mataku justru turun disaat yang tidak diinginkan. Dengan segara kuseka pipiku. Dan ketika kedua mempelai itu tiba di altar suci, aku tidak mampu bertahan. Kakiku langsung melangkah keluar gereja dan menanggalkan sebait ucapan selamat atas pernikahannya, yang jelas tidak akan pernah bisa kusampaikan secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga sisa-sisa dari hati ini, bahwa aku...&lt;br /&gt;Masih mencintainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-1230260973096119852?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/1230260973096119852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/her-wedding-dress.html#comment-form' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1230260973096119852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1230260973096119852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/her-wedding-dress.html' title='Her Wedding Dress'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-458611309771531626</id><published>2009-12-10T21:02:00.003+07:00</published><updated>2009-12-10T21:51:07.046+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Award'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Let's Making Friend</title><content type='html'>"Kamu percaya persahabatan dalam dunia maya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu pernah dia tanyakan padaku. Entah apa yang membuatnya mendadak mengajukan pertanyaan tersebut. Tapi yang jelas, tanpa menunggu atau pun berfikir lebih jauh, aku langsung mengiyakannya. Memangnya kenapa dengan persahabatan dunia maya? Apa ada sesuatu yang salah dengan media tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku percaya," kataku tegas.&lt;br /&gt;Aku percaya bahwa persabatan ada dimana pun, dalam bentuk apa pun, tanpa mengenal media yang mendasarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku meraih sesuatu dari dalam tasku. Kukeluarkan sebuah buku dengan gambar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;spongebob&lt;/span&gt; di bagian depannya. Si kuning dengan mata bulat yang tampak ceria itu, seolah menatapku sambil nyengir. Berikutnya, aku menggeser buku tersebut hingga dia bisa melihatnya dengan sangat jelas. Keningnya berkerut. Kemudian dia menatapku dengan matanya yang bening dan dipenuhi aura kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum sejenak. "Kamu tau? Ini hadiah dari sahabatku di dunia maya. Kami belum pernah bertemu tapi dia memberiku hadiah ini sebagai tanda persahabatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terpana menatapku. "Aku tetap tidak percaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela napas. Susah memang menasehati seorang keras kepala. Jadi, aku hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu punya hak untuk nggak percaya. Mungkin memang kamu belom merasakannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak berharap dia memaksakan diri untuk sependapat denganku. Dia temanku, tapi dia juga punya hak untuk tidak mendukungku. Aku tau, sulit dijelaskan dengan akal sehat bagaimana persahabatan dalam dunia maya itu. Tapi aku selalu percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NOTE:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Postingan cerpen ini saya buat untuk &lt;a href="http://tiananana.blogspot.com/"&gt;tealovecoffee&lt;/a&gt; yang bersedia melirik blog cerpen yang agak-agak terlantar karena saya jarang update cerpen ini, untuk diberikan sebuah award.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/SyEKa85_bJI/AAAAAAAAARQ/LjKAjLNS1Os/s1600-h/SpongeBob-SquarePants-p35-1-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 223px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/SyEKa85_bJI/AAAAAAAAARQ/LjKAjLNS1Os/s320/SpongeBob-SquarePants-p35-1-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413619685218282642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-458611309771531626?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/458611309771531626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/lets-making-friend.html#comment-form' title='28 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/458611309771531626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/458611309771531626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/lets-making-friend.html' title='Let&apos;s Making Friend'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/SyEKa85_bJI/AAAAAAAAARQ/LjKAjLNS1Os/s72-c/SpongeBob-SquarePants-p35-1-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>28</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-2142057818922776117</id><published>2009-12-04T22:46:00.006+07:00</published><updated>2009-12-04T23:08:05.873+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>All For You, Guys!</title><content type='html'>&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CUSER%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;“Lo yakin?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Tanyanya sekali lagi memastikan kondisi gue yang mungkin dimatanya gue udah seperti vampire—pucat. Gue mendangak, lalu mengangguk. Memberikan seulas senyum penuh keyakinan agar keempat orang cowok yang sedang menatap gue dengan pandangan khawatir itu bisa sedikit lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Mereka sobat gue. Mereka peduli sama gue. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Dan mereka tau gue nggak dalam keadaan yang sangat &lt;i style=""&gt;fit &lt;/i&gt;sekarang. Mereka tau berapa derajat suhu badan gue. Mereka tau ketika selesai makan malam kemaren, gue langsung muntah-muntah. Mereka tau gimana nggak tenangnya gue melewati tidur sebelum hari ini tiba. Tapi gue juga nggak bisa berhenti. Mereka juga nggak bisa menghentikan gue. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Hari ini, &lt;i style=""&gt;performance &lt;/i&gt;kita harus tetap dilaksanakan. Nggak ada alasan apa pun, meskipun gue lagi nggak enak badan. Ribuan orang yang berharap banyak bisa melihat kita sore ini, sudah menunggu dan berteriak-teriak di depan panggung. Gaungnya kedengeran sampai ke sini—&lt;i style=""&gt;backstage&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Dan gue melakukan ini, semata-mata bukan demi popularitas gue sebagai salah satu anggota &lt;i style=""&gt;boyband&lt;/i&gt; yang namanya sedang naik daun. Semua ini gue lakuin demi sobat-sobat gue dan demi orang-orang di luar sana yang berteriak-teriak memberi kita &lt;i style=""&gt;support&lt;/i&gt;. Semua pemberian kasat mata itu nggak mungkin gue bayar dengan keegoisan gue.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Oh, lima menit lagi kita tampil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Gue segera beranjak, sedikit terhuyung, tapi buru-buru menyeimbangkan diri. Jangan sampai sobat-sobat gue melihat gue yang kayak orang mabok. Bisa-bisa mereka lebih mikirin cara ngebatalin &lt;i style=""&gt;perform &lt;/i&gt;yang udah di depan mata itu daripada ngebiarin gue sekarat di &lt;i style=""&gt;stage&lt;/i&gt;. Yeah, gue juga nggak mau sekarat di depan puluhan orang yang mendukung gue dan teman-teman gue. Gimana pun juga, gue harus tetap berjuang memberikan yang terbaik. Perjuangan mereka dan perjuangan gue, nggak boleh cuma jadi hal yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Oke. Musik udah mulai diputar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Mengikuti irama, satu per satu dari kita mulai konsentrasi dengan &lt;i style=""&gt;blocking &lt;/i&gt;dan pembagian masing-masing dalam bernyanyi juga &lt;i style=""&gt;dance&lt;/i&gt;. Sesekali, gue melihat sobat-sobat gue melemparkan lirikan khawatir, tapi gue yang udah ngerasa mau muntah ini, tetep bertahan. Gue coba pasang senyum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Shit&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;! Kepala gue, makin berat rasanya. Tapi gue nggak mungkin berhenti di tengah-tengah! Apa yang gue usahakan, sepertinya semakin nggak maksimal. Tenaga gue lama-lama semakin menghilang, kayak ditiup angin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Jangan... &lt;i style=""&gt;please&lt;/i&gt;, jangan sampe gue gagal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Brengsek! Perut gue mual, diaduk-aduk tiap koreo yang membuat gue harus lompat sesekali. Gue pengin muntah!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Eh....abis ini gue &lt;i style=""&gt;blocking &lt;/i&gt;ke mana? &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Ya ampun! Hampir aja gue lupa! Cuma karena nahan rasa nyeri di kepala dan mual yang semakin ngajak gue untuk berantem. Bisa. Gue harus bisa!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Ya. Gue pasti bisa menyelesaikan tugas gue ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Bagian musik ini gue harus ke....&lt;i style=""&gt;Damn&lt;/i&gt;! Kok bisa-bisanya gue kepeleset?! Iya! Gue baru aja jatoh! Di depan puluhan orang yang melihat kita! Yang memberi dukungan melalui kata-kata dalam spanduk kecil yang mereka bawa. Tapi tenang, gue harus tenang. Gue buru-buru bangkit perlahan, dengan ekspresi datar. Tau, kan? &lt;i style=""&gt;I’m on stage&lt;/i&gt;, masa’ gue masang ekspresi meringis. Nggak akan, deh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Gue langsung menyamakan koreo dengan sobat gue yang lain, yang sempat memberikan lirikan kaget sekaligus cemas akan keadaan gue yang terlalu memaksakan diri. Gue tau, kalo mereka bisa, mereka pengin langsung melupakan soal &lt;i style=""&gt;perform &lt;/i&gt;dan segera menolong gue. Tapi, sebagai penyanyi yang dilatih untuk bersikap profesional, tentu aja masalah seperti kepeleset tadi bukanlah pertanda bahwa &lt;i style=""&gt;perform &lt;/i&gt;kita selesai. Detik itu juga. Ya, saat di panggung, semua harus fokus pada apa yang harus mereka tampilkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Bukan pada gue yang sakit!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Ah...musik memasuki &lt;i style=""&gt;ending&lt;/i&gt;nya. Syukurlah. Gue hanya perlu berpose untuk yang terakhir. &lt;i style=""&gt;Applause &lt;/i&gt;meriah bergaung. Teriakan-teriakan pendukung kami bergema kembali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;”Kak, tetap semangat!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;”Kami mencintaimu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;”Semoga kamu baik-baik saja.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;”Kami selalu mendukungmu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Kira-kira itulah kata-kata yang gue denger. &lt;i style=""&gt;See&lt;/i&gt;? Itulah alasan kenapa gue sangat nggak pengin mengecewakan mereka. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Karena mereka terlalu sayang pada gue dan juga ke-empat sobat gue yang lain. Dan gue menyesal karena apa yang gue tampilin bukanlah sesuatu yang terbaik. Dengan kata lain gue sudah mengecewakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Gue dan yang lain membungkukkan badan, memberi hormat sekaligus mengucapkan terima kasih atas dukungan-dukungan yang terasa sangat tulus itu. Dan begitu kita bergerak menuju &lt;i style=""&gt;backstage, &lt;/i&gt;tiba-tiba aja, sobat-sobat gue langsung merangkul gue dan membantu gue yang berjalan tertatih-tatih!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;”Kan gue udah bilang, harusnya kita ngomong sama manager supaya &lt;i style=""&gt;cancel &lt;/i&gt;jadwal kita hari ini.” Satu sobat gue yang bernama Jio memprotes. Dia bukan yang tertua dan juga bukan &lt;i style=""&gt;leader &lt;/i&gt;tim ini, tapi perhatiannya sangat luar biasa. ”Paling nggak, manager bisa &lt;i style=""&gt;cancel &lt;/i&gt;jadwal lo!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;”Gue nggak mau lo sekarat, tauk!” Kini giliran si &lt;i style=""&gt;leader&lt;/i&gt;, Seung Ho.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Satu per satu rekan gue meluapkan rasa sayang mereka dengan memarahi gue. Sementara gue, yang baru aja muntah-muntah, cuma bisa melongo. Tersentuh, tapi gue punya pendapat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;”Gue maksain diri, untuk kalian juga mereka.” Gue menunjuk ke bagian panggung. Maksudnya siapa lagi kalo bukan para pendukung kita. ”Karena gue pengin selalu tampil bersama kalian dan juga gue nggam mau membuat mereka kecewa.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Meski kenyataannya, gue telah mengecewakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Arial;font-size:13.5pt;"  lang="FI" &gt;Note:&lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Cerpen ini dibuat untuk : MBLAQ - Lee Joon yang ternyata terserang virus H1N1 dan sempat melakukan &lt;i&gt;perform &lt;/i&gt;nya dengan kondisi yang tidak &lt;i&gt;fit&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Get well soon, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jonnie ya!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-2142057818922776117?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/2142057818922776117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/all-for-you-guys.html#comment-form' title='23 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/2142057818922776117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/2142057818922776117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/all-for-you-guys.html' title='All For You, Guys!'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-5488231096901339312</id><published>2009-12-01T12:04:00.000+07:00</published><updated>2009-12-01T12:05:00.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Girl Next Door</title><content type='html'>Buat gue, dia adalah perempuan yang unik.&lt;br /&gt;Dia—perempuan itu, suka banget yang namanya makan es krim. Pertama kali bertemu, dia sedang menyantap ’makan siang’nya yang adalah sekotak es krim vanila. Wajahnya lucu dan matanya bulat. Pipinya kemerahan.&lt;br /&gt;Dia—perempuan itu, selalu mengenakan pakaian serba hitam. Mungkin seluruh koleksi pakaiannya memang berwarna hitam.&lt;br /&gt;Dia—perempuan itu, suka sekali dengan kegelapan. Baginya, di dalam kegelapan, dia bisa menemukan dunia lain yang jauh lebih luas.&lt;br /&gt;Dia—perempuan itu, selalu menganggap bulan adalah Ibu Peri, matahari sebagai Ksatria, dan bintang sebagai dewi-dewi yang menari.&lt;br /&gt;Ya, dia adalah perempuan yang tinggal di kamar sebelah kamar gue, di rumah susun yang sederhana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia perempuan ceria yang memiliki kehampaan. &lt;br /&gt;Gue senang memanggilnya Kiara, tapi dia menganggap dirinya adalah Canis (minor). Dan dia kerap kali memanggil gue dengan sebutan Angkasa, tanpa pernah mencari tau siapa nama gue. &lt;br /&gt;”Karena aku bisa melihat langit di matamu.”&lt;br /&gt;Begitu katanya. Gue sama sekali nggak keberatan. Bagi gue, apalah artinya sebuah nama kalau memang Kiara menyukainya, gue nggak akan keberatan. Dan mungkin juga begitulah menurut Kia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia perempuan bertubuh mungil yang memiliki pandangan jauh hingga luas tak terbentang. Dia—Kiara, sangat mencintai teropong bintangnya dan selalu mengintip di balik lensa, supaya malam itu bisa dilaluinya dengan bergurau bersama para dewi yang menari-nari. Begitulah Kiara, perempuan yang tinggal di sebelah kamar gue. Yang pada akhirnya membuat gue ingin merengkuhnya ke dalam dunia yang lebih dekat dengan gue. &lt;br /&gt;Ya, terkadang, Kiara seperti salah satu dari para dewi itu, begitu jauh untuk dijangkau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun belakangan ini, gue bisa melihatnya begitu gigih bermain-main dengan lensa teropongnya. Setiap malam, dia berusaha keras mencari sesuatu di langit sana. Entah apa. Toh, biasanya Kiara juga selalu mengintip kerlip para penguasa langit. Gue nggak begitu memperdulikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika gue melihatnya menangis malam itu, sementara keputusasaan mengisi wajahnya yang memerah, gue begitu penasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Canis, kamu kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ang, bisa kamu tolong aku? Aku harus menemukannya. Aku merindukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benak gue bertanya-tanya, siapakah yang dirindukan sang anak langit ini? Bukankah setiap malam dia bisa menyapa Ibu Perinya? Bukankah dia bisa tersenyum kala melihat dewi-dewi mengerling nakal ke arahnya? Lalu siapa yang dia rindukan? Siapa yang tidak hadir di kala dia mengintip dunia luas di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa? Kamu rindu siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata nanar, Kiara, oh bukan, Canis. Maksud gue Canis, karena begitulah dia mau gue memanggilnya. Ya, dia memandang gue dengan matanya yang bulat tetapi penuh kebimbangan dan kesedihan. Ya Tuhan, apa yang membuatnya begitu pilu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue mencoba mendekatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Orion.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue tergelak. Orion. Gue? Apa maksudnya? Ah benar, gue melupakan hal itu. Dia bahkan belum mengetahui siapa nama asli gue. Dia hanya tau bahwa gue adalah Angkasa. Angkasa-nya. Tapi di balik Angkasa yang melekat pada diri gue, Orion adalah gue yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maksud kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Orion-ku meninggal. Dia pergi dari aku dua tahun lalu. Sekarang aku rindu padanya. Aku ingin menemukan Orion-ku. Tapi dia sama sekali tidak tampak. Kenapa? Kemana dia? Aku kangen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi...Orion-nya itu? &lt;br /&gt;Orion-nya yang telah meninggal itu. Gue nggak menyadarinya. Dia pasti merindukan Orion-nya, kekasihnya dulu. Bukan gue. &lt;br /&gt;Dan dia harus menemukan Orion-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue nggak tau harus berbuat apa. Gue hanya mengenal Orion-nya melalui kisah-kisah yang diceritakan Kiara. Gue nggak tau wujudnya. Dan bagaimana Orion-nya bisa gue temukan di langit? Gue hanya bisa bergeming dan memperhatikannya kembali berusaha keras, seperti orang gila, mengintip di balik lensa dengan penuh keliaran. Mungkin dia marah karena Orion-nya tidak muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Canis.” Gue merengkuh pundak perempuan itu. Gue nggak tega melihatnya seperti ini. Dia perempuan yang ceria, yang senang tertawa dan makan es krim, meski harus berbalut pakaian yang selalu mendukung kekosongan dirinya. ”Lihat aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue memaksanya untuk melihat ke arah gue. Dia melihat ke mata gue, tapi ternyata matanya semakin sembab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu nggak pernah sadar? Setiap malam, Orion-mu selalu menemanimu. Dia selalu memperhatikanmu.”&lt;br /&gt;Kiara hanya terbengong-bengong menatap gue. Sama sekali nggak percaya. Mungkin dia pikir gue gila. &lt;br /&gt;”Orion mu selalu berharap kamu melihat ke arahnya. Bukan ke dalam langit di sana. Orion mu selalu berharap bisa kamu panggil sebagaimana mestinya. Dan Orion-mu itu selalu berdiri di sini.”&lt;br /&gt;Air mata Kiara meleleh. &lt;br /&gt;”Aku adalah Orion.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir Kiara bergetar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Coba lihatlah ke arahku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiara mematung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah Orion yang sekarang menggantikan Orion-nya yang dulu? Bisakah dia melihat gue sebagai Orion?&lt;br /&gt;Karena Orion yang kini sejajar dengan sang Canis, berharap penuh bisa menampilkan cahaya bahagianya bersama. &lt;br /&gt;Karena gue—Orion, mencintainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-5488231096901339312?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/5488231096901339312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/girl-next-door_1959.html#comment-form' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5488231096901339312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5488231096901339312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/12/girl-next-door_1959.html' title='Girl Next Door'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-820843671457908888</id><published>2009-11-30T11:25:00.001+07:00</published><updated>2009-11-30T11:27:00.726+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percikan kisah'/><title type='text'>S.I.G.N</title><content type='html'>by : Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang kematian itu indah. Benarkah?&lt;br /&gt;Bagaimana kalau justru berada diantara kematian dan kehidupan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lelah. Sungguh.&lt;br /&gt;Seluruh tenagaku telah larut bersama emosi yang telah kuluapkan. Habis. Puas? Tidak. Aku belum puas. Aku masih mencari apakah masih ada saksi bisu yang mengawasiku dengan tatapan mereka yang dingin, yang bisa kuhancurkan, untuk mengakhiri amarahku yang tersisa? Satu per satu mataku menjelajah ke seluruh ruangan bernuansa serba putih ini, dengan tatapan nanar. Semua terlihat porak poranda, tanpa menyisakan satu pun keutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong…&lt;br /&gt;Suara lolonganku yang seperti anjing kesakitan, tetap hanya tertinggal sebagai suara rintihan yang tidak akan didengar oleh siapapun. Suaraku hanya memunculkan gelembung-gelembung yang bisa didengar oleh mahluk bersirip di dunia yang berbeda denganku. Bahkan suaraku tidak bisa merambat sampai ke ujung ponsel yang tergeletak lesu, beberapa meter dari gapaianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengirimkan sinyal-sinyal hampa.&lt;br /&gt;Tapi bisakah kau merasakan sinyal dariku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong…&lt;br /&gt;Aku kesakitan. Aku menderita. Aku ingin bernafas.&lt;br /&gt;Dan aku berpacu dengan waktu, menuju kematiankukah? Atau sekali lagi aku harus kembali pada semua kenyataan pahit yang menimpaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau duduk di sebuah bangku, dengan kaki yang menyilang begitu angkuhnya, serta pandanganmu yang merendahkanku, seolah aku ini adalah perempuan berpenyakit kusta yang harus kau hindari. Bibirmu yang menyunggingkan senyum sinis. Senyum yang tajam dan menggores hatiku. Kau diam seribu bahasa hanya untuk menghakimiku dengan tatapan membunuhmu.&lt;br /&gt;Kau mencampakkanku!&lt;br /&gt;Hanya untuknya. Demi dia.&lt;br /&gt;Haruskah aku memohon seperti budak yang membutuhkan makanan di kala sang majikan tidak memberinya makan?&lt;br /&gt;Haruskah aku mencium ujung kakimu hanya supaya kau tidak berpaling padanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau berbahagia di atas penderitaanku.&lt;br /&gt;Kau menginjak seluruh tubuhku hingga kesakitan dengan sikapmu.&lt;br /&gt;Kau menganggapku hanya, ya, seperti perempuan hina yang kotor yang telah berbusuk badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah siapa yang lebih kotor?&lt;br /&gt;Aku yang perempuan hina ini, yang mencintaimu secara tulus, ataukah dia, yang seorang laki-laki yang mencintaimu karena kamu juga sakit?&lt;br /&gt;Dan sungguhkah? Kau akan mengusirku seperti anjing betina liar yang bulunya rusak tapi sudah mengabdi bertahun-tahun, hanya demi dia, anjing jantan yang melenggok dengan bulunya yang berkilau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergilah…&lt;br /&gt;Setelah kau puas dengan membuat luka di hatiku.&lt;br /&gt;Setelah lebam di tubuh ini juga kau tinggalkan sebagai kenangan atas kekejian sikapmu yang seperti binatang.&lt;br /&gt;Setelah sesuatu yang paling berharga dari dalam diriku kau rampas penuh nafsu bejat dan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tik … tok … tik … tok …&lt;br /&gt;Aku masih berpacu dengan waktu. Tanganku semakin terkulai, juga semakin dingin seakan-akan ada yang memberikan es batu ke dalam tempatku berendam. Mataku masih terbuka sedikit, bersama dengan harapan itu. Aku ingin kau mendengar sinyal dariku. Aku ingin kau berada di sini sekarang. Apakah ponselku tak cukup mengirimkan sinyal-sinyal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lelah. Sungguh.&lt;br /&gt;Aku ingin memejamkan mata.&lt;br /&gt;Aku membiarkan darah menetes perlahan, membuat nada indah yang merambat pelan ke telingaku, dari pergelangan tangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong…&lt;br /&gt;Apakah kau tidak mendengat sinyal-sinyal dariku?&lt;br /&gt;Tik. … tok … tik … tok …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Note&lt;/span&gt;: Percikan kisah ini ditulis karena terinspirasi oleh lagu SIGN by Brown Eyed Girls dan sama sekali tidak ingin menyinggung siapapun&lt;br /&gt;Just enjoy ^^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-820843671457908888?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/820843671457908888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/sign.html#comment-form' title='25 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/820843671457908888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/820843671457908888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/sign.html' title='S.I.G.N'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>25</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-9164523876463196911</id><published>2009-11-26T05:50:00.005+07:00</published><updated>2009-11-26T06:28:37.870+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percikan kisah'/><title type='text'>Harum yang Abadi</title><content type='html'>Lihat hujan turun lagi dengan derasnya!&lt;br /&gt;Uhhh, rasanya badanku kaku. Aku sama sekali tidak ingin beranjak dari tempat tidur. Aku ingin tetap berada di balik selimut. Aku malas pergi ke sekolah. Lagipula, hujan kali ini, entah kenapa terasa begitu memilukan. Aku tidak suka. Sepertinya dia sedang menangisi seseorang. Siapa hujan? Siapa yang kau tangisi sampai terasa begitu pilu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda membuka pintu kamarku.&lt;br /&gt;Dengan tegasnya, beliau segera menyuruhku berangkat sekolah. Buatnya, tidak boleh ada kata membolos. Apapun alasannya. Termasuk waktu aku demam.&lt;br /&gt;"Ah, cuma demam 37 derajat saja. Kamu juga masih bisa bergerak, kan? Sebaiknya sekolah. Jangan sia-siakan ilmu." Begitulah kata Bunda. Intinya dia paling anti dengan sesuatu yang menyebabkan aku tidak berangkat ke sekolah. Kadang aku merasa keterlaluan, kadang aku merasa Bunda benar. "Karena setiap harinya akan ada ilmu yang bisa berguna untuk hidupmu kelak. Kalau kamu membolos, kamu melewatkan satu kesempatan emas." Itulah alasan Bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun segera teringat dengan seorang guruku. Beliau sudah memasuki usia lanjut, tapi aku suka sekali cara mengajarnya yang sabar dan terlihat selalu tulus mendidik setiap muridnya untuk bisa menguasai materi Bahasa Indonesia yang begitu dicintainya. Oh, guruku. Hanya untukmulah, akhirnya aku menanggalkan selimut ini dan bertarung dengan udara dingin yang menggerogoti kulitku perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku pun bergegas bersiap-siap dan ternyata Bunda sudah merapihkan semua kebutuhanku pagi itu. Mulai dari sarapan hingga payung yang harus kugunakan untuk menempuh jarak ke sekolah yang selalu kulewati dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari rumah menuju sekolahku tidak terlalu jauh. Hanya cukup menempuh beberapa meter melalui jalan tembus, pematangan sawah. Tapi aku selalu suka dengan suasananya. Saat banyak bapak Tani mulai sibuk dengan pekerjaannya menanam pagi. Biasanya aku menyapa mereka. Hanya saja kali ini hujan menghentikan semua kegiatan rutin yang aku lihat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung sekolahku sudah mulai kelihatan!&lt;br /&gt;Akhirnya, aku bisa bebas dari jalanan becek yang membuat kakiku kotor. Untung aku mengikuti saran Bunda untuk mengenakan sandal alih-alih sepatu hitam butut yang biasanya selalu menjadi pasangan setia dari seragam putih merahku. Sampai di kelas, aku merapihkan sandalku dan segera memakai sepatu itu. Hingga tak berapa lama bel berbunyi. Ahhh, aku sudah tidak sabar bertemu dengan guruku. Pak Harum namanya. Ya, namanya memang benar-benar harum karena beliau selalu menebar serbuk kebajikannya. Tanpa pernah sekalipun mengharapkan ada balasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, hari ini, Pak Harum akan mengajarkan apa ya?&lt;br /&gt;Mungkin tentang bagaimana membuat kalimat yang baik? Atau adakah pelajaran mengarang lagi dari beliau? Aku selalu rindu dengan pelajaran mengarangnya.&lt;br /&gt;Suatu ketika, aku mendapat pujian dari beliau, karena katanya tulisanku membuatnya tersentuh. Aku yang hanya seorang anak kecil, pastinya merasa bangga mendapat pujian seperti itu. Padahal aku menyusun kata-kata dengan kacau. Dan hanya bercerita apa adanya tentang Ayahku yang meninggal di perantauan negri orang. Namun, rupanya Pak Harum menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru tergopoh-gopoh masuk ke dalam kelas.&lt;br /&gt;AKu langsung mendesah. Bukan Pak Harum. Apa karena beliau terlalu tua untuk menembus hujan yang cukup deras mengguyur pagi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru itu berdiri di depan kelas. Dengan wajahnya yang tampak lelah.&lt;br /&gt;"Anak-anak, Pak Harum baru saja meninggal. Subuh tadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar itu seperti petir di siang bolong! Aku langsung shock!&lt;br /&gt;Pak Harum, guru kesayanganku yang selalu memiliki dedikasi yang tinggi untuk sekolah bobrok ini beserta seluruh anak muridnya yang senantiasa berharap bisa menjadi lebih pintar dari waktu ke waktu. Pak Harum tidak pernah mengeluh baik panas terik membakar kulitnya atau pun hujan deras mengguyur tanah. Ya. Dia melewati semua rintangan itu hanya untuk memberitau pada kami mengenai apa arti dari kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini guru dengan tawa khas yang hangat itu telah tiada.&lt;br /&gt;Selamat jalan Pak Harum.&lt;br /&gt;Namamu terlalu berharga untuk dicampakkan begitu saja.&lt;br /&gt;Selamat jalan guruku sayang.&lt;br /&gt;Jasamu akan selalu membekas di hatiku. Dan ilmu yang telah kau berikan, akan selalu kupakai di kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang. Ketika kesuksesanku sebagai seorang sastrawati telah mendampingiku.&lt;br /&gt;Pak Harum adalah penanam benih dari semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Note: Selamat Hari Guru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kisah tak seberapa ini dihadiahkan untuk kawan-kawan dan mungkin juga blogger yang berprofesi sebagai guru&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-9164523876463196911?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/9164523876463196911/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/harum-yang-abadi.html#comment-form' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/9164523876463196911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/9164523876463196911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/harum-yang-abadi.html' title='Harum yang Abadi'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-5175283776914459089</id><published>2009-11-21T19:30:00.003+07:00</published><updated>2009-11-22T08:06:09.000+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Award'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percikan kisah'/><title type='text'>Hadiah Dari Sang Guru</title><content type='html'>Laki-laki itu duduk terdiam, di atas kursinya. Dia menatap keluar jendela, meskipun setumpuk buku berada di hadapannya. Senyum yang tak lekang dari wajahnya, membuat siapapun tau bahwa dia adalah seseorang dengan dedikasi tinggi atas sebuah kata bernama pendidikan. Dia rela bangun pagi, hanya untuk membagi ilmu dengan murid-muridnya. Dia bahkan tak mengeluh ketika harus tidur terlalu larut, ketika harus memeriksa tulisan murid-murid didikannya. Dia tau, apa yang terbaik untuk murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya menoleh ketika enam belas orang siswa, masuk ke dalam kelas. Dia masih mengukir senyum itu, dan melontarkannya kepada para siswa. Tidak ada yang tidak membalas senyum itu. Mereka tau, laki-laki yang sedang duduk itu adalah guru sekaligus sahabat yang tidak akan bisa digantikan dengan apapun. Terlalu berharga, lebih dari apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari ini ladang saya panen," guru itu memulai percakapan kepada enam belas siswa ini. "Karena itu," dia merogoh kolong mejanya dan mengeluarkan sekeranjang apel merah yang begitu ranum. "Sebagai lambang persahabatan yang tak lekang oleh waktu dan tak terbatas hanya karena profesi, saya ingin membagi apel yang saya petik sendiri ini untuk kalian."&lt;br /&gt;Dengan perasaan penuh haru sekaligus bangga yang membuncah, satu per satu siswanya mulai maju dan menerima apel itu. Apel istimewa yang diberikan oleh orang yang memiliki jasa begitu besar dalam memberantas kebodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu dari siswa itu, saya juga mau memamerkan 'apel ranum' yang diberikan oleh guru bernama &lt;a href="http://smp3lembang.blogspot.com/2009/11/5-2-posting-award-di-sela-rasa-sakit.html"&gt;Bang Munir&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://alkatro.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Award backlink" src="http://1.bp.blogspot.com/_RCYaNaIoU-I/SwIlchwmhWI/AAAAAAAAANc/Q2cPThxR-Fg/s320/Award+backlink.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://alkatro.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Heartfelt Blogger Award" src="http://2.bp.blogspot.com/_RCYaNaIoU-I/SwInnD75-lI/AAAAAAAAANk/cnYLNF3bN5I/s320/Heartfelt+Blogger+Award.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://alkatro.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Blogger Award Comunity" src="http://2.bp.blogspot.com/_RCYaNaIoU-I/SwIpu8aqckI/AAAAAAAAANs/o07fzQuTPf4/s320/Blogger+Award+Comunity.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk award terhadap blog cerpen ini ^^&lt;br /&gt;semoga dengan award yang diberikan, bisa membuat saya tetap berkarya dalam membuahkan imajinasi-imajinasi lainnya yang masih tertinggal di dalam kepala&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-5175283776914459089?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/5175283776914459089/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/laki-laki-itu-duduk-terdiam-di-atas.html#comment-form' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5175283776914459089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5175283776914459089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/laki-laki-itu-duduk-terdiam-di-atas.html' title='Hadiah Dari Sang Guru'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RCYaNaIoU-I/SwIlchwmhWI/AAAAAAAAANc/Q2cPThxR-Fg/s72-c/Award+backlink.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-1415424563555649454</id><published>2009-11-15T16:47:00.000+07:00</published><updated>2009-11-15T16:49:05.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>One Shoot!</title><content type='html'>Rambut panjang perempuan itu berkibar-kibar tertiup angin, sehingga tampak seperti helaian sutra yang beterbangan lembut. Mata sipit itu menatap sinis laki-laki yang ada di hadapannya, menambah aura dingin yang terpancar dari gurat wajahnya yang tirus. Langit gelap yang membungkus padang rumput dimana ia berpijak, bukan halangannya untuk beradu pandang, seolah saling menghujam pisau hanya dengan tatapan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu misi terakhirmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahang laki-laki itu menegang. Kini, seluruh isi bola matanya hanya terpusat pada perempuan itu. Ia mengangguk, menurut perintah si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak suasana menegang. Angin malam yang bertiup tiada ampun, membuat suasana semakin terasa seperti es. Beku. Juga dingin. Tidak ada tanda-tanda bahwa salah satu diantara mereka harus menjadi penghangat ditengah-tengah. Seolah-olah, sekat kebencian telah menjadi jendela bagi keduanya untuk berhadapan. Padahal hati mereka berkata sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si laki-laki mempererat pegangan senjata apinya yang berada di samping pahanya yang kokoh menopangnya berdiri. Ia siap dengan misi apa pun yang diperintahkan si perempuan!&lt;br /&gt;Diluar perkiraan si laki-laki, alih-alih memberi perintah perempuan berlapis tank top hitam itu melangkah maju, mendekatinya. Dengan tatapan yang masih sama. Menghujam! Tapi tunggu…mata itu berkata sebaliknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu berjinjit sedikit saat sudah berada di dekat si laki-laki. Bibirnya di dekatkan pada telinga laki-laki itu, dan suaranya mendesisi membisikkan perintah yang harus dilakukan. Tidak boleh dilanggar, atau ditawar. Misi ini adalah pekerjaannya. Membunuh adalah tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Kill yourself&lt;/em&gt;,” desisnya. Tajam. Penuh kebencian. Sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hembusan nafas perempuan itu membuat bulu kuduk si laki-laki merinding. Bukan hanya pada nafasnya yang begitu dekat dengan tengkuknya, tapi juga karena perintah itu…begitu sulit!&lt;br /&gt;Laki-laki itu menelan ludah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kau mencintaiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menyeringai. Bahkan kau sudah membunuhku dengan tatapanmu! Batin laki-laki itu memberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini misimu.” Perempuan itu mundur beberapa langkah dan berkata dengan suara yang lebih lantang, namun dalam. “Kau perlu membuktikan loyalitasmu pada Ayahku. Bukankah kau sudah terbiasa membunuh orang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak laki-laki itu diliputi ketakutan. Membunuh orang tidak sama dengan membunuh diri sendiri. Bahkan adrenalinnya pun berbeda. Laki-laki itu tertawa dalam kegetirannya. Haruskah ia melepaskan perempuan itu dengan cara yang seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menatap si laki-laki semakin jauh lebih dalam. Seakan bisa menghipnotisnya.&lt;br /&gt;Angin semakin berhembus kencang. Menggoyangkan rumput-rumput setinggi betis yang tumbuh liar di sana, membuat suara-suara gesekan halus. Bersamaan dengan itu, tangan si perempuan yang jarinya kebiru-biruan karena menahan dingin, menyentuh pipi laki-laki itu. Menyapunya dengan sentuhan penuh hasrat. Namun juga membius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu jari laki-laki itu menekan &lt;em&gt;hammer &lt;/em&gt;senjata rakitannya sendiri. Bunyi &lt;em&gt;klik&lt;/em&gt;, membuat perempuan itu melebarkan seringaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang perempuan itu yang mengharapkan jenazahnya, ia tidak boleh takut. Kalau perempuan itu bisa berbahagia dengan nyawanya yang melayang, ia harus melakukan perintah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bunyi letusan membahana di padang rumput itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tadi berdiri dengan tubuh kaku, seolah-olah dialah yang mati. Seluruh wajahnya terkena cipratan darah merah yang membuat hidungnya bisa merasakan bau anyar. Dan bersamaan dengan itu, air mukanya berubah drastis. Kakinya perlahan seperti tidak bertulang. Ia pun terjatuh berlutut di depan laki-laki itu. Dengan air mata yang menetes satu-satu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-1415424563555649454?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/1415424563555649454/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/one-shoot.html#comment-form' title='25 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1415424563555649454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1415424563555649454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/one-shoot.html' title='One Shoot!'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>25</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-6942604373538899184</id><published>2009-11-13T14:40:00.001+07:00</published><updated>2009-11-13T14:40:26.235+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Kapan Kamu Besar, Nak?</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CUSER%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="1026"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Bola mata wanita itu bergerak awas di dalam bingkai yang digelayuti kantung berwarna kelabu kusam, sesekali memandangi anaknya yang masih tergeletak di sebuah sofa, sesekali pula mengawasi sekeliling. Giginya yang rata dan putih, menyeringai, membentuk senyuman yang sama sekali jauh dari ramah. Satu per satu nada serak dari tenggorokannya mengalir dengan tersendat, mendendangkan lagu nina bobo. Bocah itu tidur. Tenang. Begitu tenang, hingga desahan nafas memburu wanita itu tidak dihiraukannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Beberapa kali ia menepuk pantat sang anak dengan begitu lembut penuh keibuan. Dan ia tidak sekali pun beranjak dari sana. Tetap dengan daster batiknya yang terus menempel sejak beberapa hari terakhir. Tapi guratan cantik itu masih bisa terlihat, meskipun wajahnya pucat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;”Kapan kamu besar, Nak?” gumamnya pelan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Sekali lagi, didendangkannya lagu nina bobo. Ia tidak ingin anaknya terbangun karena ia berhenti menyanyikan lagu tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;”Mama...” suara bocah perempuan yang lain muncul dari balik pintu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Mata wanita itu langsung liar sebagaimana seekor binatang buas siap menerkam siapa saja yang mengganggu tidurnya, berkilat tajam dan meruncing di sudutnya. Anak itu tersenyum lugu, lalu berhambur masuk dan mendekat sang Bunda. Namun wanita itu segera berlutut di sisi kursi dan menelungkupkan tangan serta kepalanya ke atas kursi—ke atas bocah yang sedang tertidur. Ia berusaha untuk melindunginya, supaya si anak perempuan tidak mengambil adiknya. &lt;i style=""&gt;Aku tidak mau kejadian lalu terulang&lt;/i&gt;, gumamnya. &lt;i style=""&gt;Aku tidak ingin anakku jatuh hingga menangis keras gara-gara dia&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Namun, si anak perempuan tidak sadar dengan kesalahan sebelumnya. Dengan tangan kecilnya yang tak seberapa terisi tenaga, ia berusaha menarik Ibunya untuk mau memperlihatkan apa yang sedang disembunyikan sang Ibu. Anak perempuan itu tertawa-tawa kala sang Ibu tetap menolak untuk menyingkir. Baginya ini hanya sebuah permainan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Ya, ini hanya permainan, bukan? Anakku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Dengan gerakan kasar, wanita itu mendorong tubuh anak perempuan itu hingga terjerembab ke samping, sedangkan wanita berambut pendek yang berantakan, langsung melesat ke belakang dengan langkah terseok-seok—penuh ketakutan. Anak perempuan itu hampir saja menangis kalau ia tidak menemukan mainan baru yang selama ini disembunyikan Ibunya. Ia sangat menginginkan mainan baru itu. Harta ibunya. Dengan senyum sumringah, anak perempuan tadi mendekati sosok yang sedang terlelap itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Ia mengangkat tubuhnya ke atas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Dengan senyum lebar. Inilah mainan barunya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Si anak perempuan tampak begitu senang. Hingga tak sadar bahwa ia bisa saja menjatuhkan apa yang ada di tangannya itu. Juga tak sadar bahwa di belakangnya wanita tadi sudah membelalak ketakutan, dengan satu pisau dapur teracung di udara. Matanya melebar, hingga garis-garis ototnya terlihat kemerahan. Ia luar biasa takut. Seakan sedang berada di bawah cekaman seorang pembunuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;”Jangan sentuh!” serunya galau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Si anak menoleh kaget, dan kejadian itu kembali terulang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Tanpa berpikir lagi, wanita itu segera menarik tangan kurus si anak perempuan supaya menjauhi anaknya yang sudah menangis karena terbentur lantai. Di dorongnya tubuh yang hanya setinggi pahanya itu, dan membentur dinding. Si anak perempuan meringis. Dan berujung pada tangisan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Bising. Sungguh memekakkan telinga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Wanita itu harus menutup kedua telinganya karena mendengar kedua anaknya menangis. Dan emosi itu pun membuncah, naik ke ubun-ubun. Mendidih, hingga titik tertinggi. Mengendalikan seluruh urat syaraf dan mencegah bergeraknya arus logika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Tangan wanita itu kembali terangkat, mengacungkan benda tajam berkilau yang dibawanya. Tidak ada perasaan khawatir, bingung, atau bersalah. Yang ada hanyalah luapan emosi yang berbondong-bondong meledak dan mengeluarkan kemarahan yang dasyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Tapi ia belum puas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Tangannya masih bergerak-gerak memainkan pisau, di atas tubuh sang anak. Ia sangat menikmati setiap gerakannya. Memotong bagian ini, lalu meotong bagian itu. Sudah selesai. Wanita itu menjilati darah yang masih menempel di tangannya, sambil menatap sinis bocah yang kini sudah tidak berbeda dengan puzzle. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Pintu menjeblak terbuka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Seorang lelaki penuh keringat dan nafas satu-satu, muncul di ant&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="FI"&gt;ara daun pintu. Matanya melotot—kaget. Tapi juga panik dan marah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="FI"&gt;”Kau gila!” sentaknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="FI"&gt;Wanita itu tak peduli. Ia hanya memikirkan anak dalam pelukannya—masih menangis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 115%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="FI"&gt;*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="FI"&gt;Laki-laki itu duduk di samping ranjang, dengan senyum tanpa sinar mata. Ditatapnya anak satu-satunya yang kini terbaring lemah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;”Kapan kamu besar, Nak?” tanyanya datar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Dibelainya rambut bocah itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Ada bau busuk yang mengisi ruangan itu. Kerumunan lalar hijau pun tak jarang mampir ke dalamnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="FI"&gt;Tapi laki-laki itu sama sekali tidak terganggu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Ia tetap duduk tenang di sana, sambil menatap anaknya yang sudah nyaris tidak bisa dikenali. Beberapa bagian tubuhnya pun sudah hancur termakan usia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="FI"&gt;Sesekali laki-laki itu membasuh anaknya yang terbaring. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 115%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="FI"&gt;*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Seorang wanita sedang menggendong bayinya di dalam kamar serba putih. Didendangkan lagu nina bobo, lagu kesukaan anak itu. Kalau ia berhenti, ia takut anaknya akan bangun. Maka ia nyaris tidak pernah berhenti. Kecuali untuk mengajak anaknya bicara, ”kapan kamu besar, Nak?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="FI"&gt;”Sudah setahun dia terus saja menyanyikan lagu itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;Tidakkah sadar bahwa anaknya hanyalah boneka?” begitulah orang-orang berbicara mengenai dirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-6942604373538899184?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/6942604373538899184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/kapan-kamu-besar-nak.html#comment-form' title='24 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/6942604373538899184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/6942604373538899184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/kapan-kamu-besar-nak.html' title='Kapan Kamu Besar, Nak?'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>24</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-2276688868163870621</id><published>2009-11-07T10:23:00.001+07:00</published><updated>2009-11-07T10:26:47.912+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Kidung Surga Sang Pengantin</title><content type='html'>&lt;div&gt;Kau…berdiri di sana. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Seperti mimpi, aku menatapmu dari jarak terbentang. Alas beludru berwarna me&lt;a href="http://www.trudysbrides.com/images/Bride7.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 170px; FLOAT: right; HEIGHT: 146px; CURSOR: hand" border="0" alt="" src="http://www.trudysbrides.com/images/Bride7.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;rah darah yang melambangkan kebahagian, siap ku lintasi, hanya demi menggapai sosokmu. Tinggi tegap, tersenyum dengan begitu tulus. Sinar matamu berkata padaku bahwa kau tidak sabar menungguku, berdiri di sampingmu. Untuk selamanya. Dengan janji yang akan mengikat kita, dalam lambang sebuah benda berkilau yang akan kau sematkan pada jari manisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau dan aku, akan selalu bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghirup dalam-dalam aroma menyegarkan dari rangkain bunga berwarna-warni dalam genggamanku. Ya, aku tidak sedang bermimpi. Aku bisa mendengar dengan jelas kidung merdu selembut nyanyian surga, bergaung di dalam ruangan bergaya roma itu. Nyanyian indah para malaikat mengiringi langkahku untuk maju. Dengan senyum yang tidak akan bisa luntur, aku melangkah mantap di atas high heels putih bersih yang sangat kau sukai. Aku berjalan di belakang sepasang mungil malaikat cinta, yang sibuk menaburkan kerlap-kerlip cinta kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katamu, aku sangat pantas berdiri dalam rengkuhan atribut serba putih yang menempel di tubuhku. Katamu, aku seperti peri kecil yang dikirim untuk menjagamu dengan kedua sayapku. Dan, katamu, supaya aku menjadi peri kecilmu untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengiyakan, waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, aku masih mendengar suara-suara kidung itu. Menjamah manis telingaku, dan juga telingamu. Menebarkan serpihan manis kebahagiaan, tidak hanya pada kita, tapi juga pada seluruh manusia yang bersedia tersenyum untuk kita. Pada diriku yang merasakan seluruh getar cinta surgawi, inilah hari dimana surga bisa menjadi milik kita, kaum duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau…berdiri di sana. Semakin tampak jelas di mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kau, bahwa buket bunga warna-warni dalam genggaman tanganku yang berlapis sarung tipis berbahan spider ini juga memberikan ucapan selamat? Mereka turut berbahagia, hingga warna mereka merekah lebih indah daripada ketika hanya tumbuh di dalam tempatnya, tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyumku, senyummu, semakin merekah. Kau menjemput satu tangan yang kuulurkan padamu, dengan begitu lembut. Kau mengajakku untuk bersanding denganmu di atas puncak surga. Hei, mataku nyaris tidak bisa berkedip karena tidak ingin melewatkan satu detik momen penting ini dalam hidupku. Kau benar-benar membiusku, jauh dan semakin jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersediakah kalian menjadi pasangan suami istri untuk selamanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, kau dan seluruh umat manusia seolah-olah menghentikan napas sesaat, hanya untuk menanti sebuah kata ‘iya’ yang meluncur dari mulut kita. Dan kini janji itu sudah tersemat manis di dalam jariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau dan aku. Bersama selamanya.&lt;br /&gt;Dan aku, tidak akan pernah melepaskanmu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-2276688868163870621?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/2276688868163870621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/kidung-surga-sang-pengantin.html#comment-form' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/2276688868163870621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/2276688868163870621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/kidung-surga-sang-pengantin.html' title='Kidung Surga Sang Pengantin'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-3923259717894059729</id><published>2009-11-02T16:19:00.004+07:00</published><updated>2009-11-02T16:36:13.960+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Piano Dalam Sebuah Lukisan</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.encore-editions.com/artists/Renoir/thumbs/thm_The_Piano_Lesson_1889.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 113px; FLOAT: left; HEIGHT: 166px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399436612895418642" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/Su6m_fLeqRI/AAAAAAAAAO0/qVI2AFgXX4s/s320/thm_The_Piano_Lesson_1889.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ia hanyalah seorang anak perempuan biasa, dengan seulas senyum yang selalu tersaji di wajah manisnya yang bulat kecil. Dan akan selalu tersenyum dalam keheningan meskipun ujung matanya yang sedikit meruncing, mengeluarkan sebuah kristal bening yang tidak kunjung tumpah. Bibirnya akan selalu tertutup rapat, sementara hatinya menjerit meminta sebentuk perhatian kecil atas ketidakmampuan jari-jarinya menari di atas tuts-tuts hitam putih piano. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ia hanyalah seorang anak kecil, yang mampu memindahkan alam nyata menjadi sebuah bentuk goresan kuas yang begitu indah. Satu-satunya kemampuan yang ia miliki dan juga ia cintai dengan sepenuh hati, tetapi seolah mendapat penolakan dari seseorang yang telah mengirimkannya ke dunia. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak mampu menguasai not balok, meskipun otaknya sudah mati-matian bekerja keras mendalami alat musik yang dinilai orang begitu indah lantunan nada-nada suaranya.&lt;br /&gt;Anak kecil itu terdiam memandangi seorang yang seusia dengannya, namun, jari-jari tangan mungil itu mampu bergerak lincah di atas piano dan menghasilkan suara yang memabukkan seorang wanita yang duduk di sisinya. Pandangan wanita itu begitu menyakitkan hati sang anak, tetapi ia tetap tersenyum. Dengan jarak yang terbentang, anak perempuan itu berdiri dari kejauhan hanya untuk merekam semua momen indah itu ke dalam memori otaknya yang penuh. Setelah ia menyimpan setiap detail apa yang dilihatnya, kemudian anak itu kembali memutarnya di dalam alam khayalnya sendiri. Ruang hampa yang tidak akan terjangkau oleh siapapun, dimana ia bisa menjadi segala yang ia harapkan namun tidak terwujud di dalam dunia nyata. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dan ia begitu menikmati semuanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Senyuman Ibunya untuknya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada lagi celaan karena bakat musik yang tidak ada dalam dirinya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan itu senang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit saja, cukup baginya untuk meraih semua kenikmatan kosong itu. Kini ia sudah siap menuangkannya ke dalam kanvas kosong, yang seperti lembaran baru dalam hidupnya yang siap ia jalani. Tangannya bergerak dengan lincah, memainkan kuas dan tinta-tinta minyak yang tersedia dalam palet. Matanya dengan jeli mengukir semua kejadian yang telah direkam dalam otaknya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai pada hasil akhir, anak perempuan itu tersenyum puas. Meski ia bukan pelukis terkenal yang akan mengadakan sebuah pameran, tetapi kali itu ia merasa benar-benar puas dengan kerja kerasnya yang dilalui hanya dalam beberapa jam. Hatinya tidak sedang dalam kondisi baik, tapi mengerjakan lukisan itu, ia seperti tengah mengobati luka hatinya sendiri.&lt;br /&gt;Tidak tahu harus berbuat apa dengan lukisan itu, ia membawa hasil karya yang dianggapnya hasil yang paling baik ke dalam ruangan yang tadi digunakan si pemain piano memamerkan kemampuannya pada Ibu si anak perempuan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Matanya meneliti seluruh ruangan, namun hanya tertumbuk pada satu tempat. Diletakkan dengan hati-hati lukisan kanvas itu di atas sebuah piano hitam metalik, seolah khawatir kalau-kalau ujung kanvasnya mampu melukai sang piano yang berdiri gagah. Lalu ia pergi membawa senyuman yang sudah ia simpan untuk dirinya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, sang Ibu masuk dan mendapati lukisan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lama, dipandanginya goresan tangan anak yang ia lahirkan sepuluh tahun yang lalu itu. Ada sesuatu yang seperti berlarian di kepalanya. Momen dalam lukisan itu, wajahnya, dan juga wajah anaknya yang sedang bermain piano, alih-alih wajah si pemain piano yang bukanlah anak kandungnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba air matanya meleleh. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dan wanita itu sadar bahwa anaknya sampai kapan pun tidak akan mampu mewujudkan obsesinya untuk bisa menjadi pianis. Anak perempuannya telah menentukan jalan dengan pikirannya sendiri. Yaitu menjadi seorang pelukis, bukan pemain piano. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-3923259717894059729?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/3923259717894059729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/piano-dalam-sebuah-lukisan.html#comment-form' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/3923259717894059729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/3923259717894059729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/11/piano-dalam-sebuah-lukisan.html' title='Piano Dalam Sebuah Lukisan'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WuAuW31MdTw/Su6m_fLeqRI/AAAAAAAAAO0/qVI2AFgXX4s/s72-c/thm_The_Piano_Lesson_1889.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-9004320347870130868</id><published>2009-10-26T16:36:00.001+07:00</published><updated>2009-10-26T17:03:18.682+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Bulan di Ujung Labirin</title><content type='html'>Paras wanita itu pucat, terlukis dalam sebentuk wajah oval. Matanya yang bulat dan dinaungi bulu mata lentik, tidak menampakkan sinar kehidupan, telah reduplah semangat untuk bisa memikirkan kejutan apa yang akan menanti di hidupnya esok, tengah memandang hampa ke satu-satunya ventilasi yang ada di ruang tersebut. Dia seperti boneka mati yang teronggok terlupakan di sana. Di ruangan persegi yang sempit, dengan keempat sisi berupa dinding bambu reyot yang lapuk, dipenuhi udara pengap dan angin memain-mainkan sekumpulan titik debu hingga menari di udara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah rasanya menjadi seekor burung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu yang selalu melintas di benak yang saraf-saraf otaknya telah rusak karena terlalu lama dikubur dalam kehampaan yang begitu lama. Lima belas tahun. Terpasung. Dalam ruangan dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang kakak, seorang laki-laki yang dikenal wanita itu sebagai seorang pangeran yang baik hati karena hanya dialah yang selalu mengantarkan makanan untuknya, selalu berdenyut hatinya ketika melihat keadaan adik satu-satunya. Kasihan. Namun, adiknya itu selalu dianggap gila oleh orangtuanya hingga berujunglah pada keputusan pemasungan tersebut. Padahal wanita itu tidak gila. Jiwanya hanya terperangkap dalam dunia kosong, sehingga selalu merasa ketakutan dan akan panik begitu melihat orang banyak, sehingga timbullah penyerangan-penyarangan kecil terhadap orang sekitar. Hanya karena dia takut, lalu berusaha melindungi diri sendiri. Namun hal ini justru memicu rasa malu orangtuanya karena ulah wanita itu yang sejak kecil selalu membuat para tetangga merasa was-was. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada satu keputusan lain yang dibuat sepihak oleh sang kakak laki-laki. Pria berusia dua puluh delapan tahun yang rela tidak menikah karena pandangan miring mengenai adiknya itu memastikan kalau di hari ulang tahun adiknya yang ke-25, dia akan mendapat sebuah kejutan yang tidak akan pernah dia duga. Kejutan yang bahkan tidak pernah datang, karena bagi wanita itu, harinya seperti sebuah ruang hampa. Hatinya pun sama. Tidak pernah ada sejumput harapan tersempil di kepalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh menjalang. Sang adik masih terlelap dalam mimpi yang entah apa isinya, sementara sang kakak diam-diam membuka pengunci rantai besi yang melilit di pangkal kakinya yang kecil. Digendongnya tubuh mungil itu ke punggung si pria. Pelan-pelan sekali, hingga nyaris tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan sang adik dari dunia bunga tidur. Tubuh itu terasa ringan, hingga sang kakak yakin, berapa jauh pun melangkah, dia akan sanggup menopangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki panjang dan berotot kokoh itu terus melangkah, melewati pematangan sawah yang licin, sungai-sungai kecil, hingga sampailah mereka pada sebuah padang rumput yang luas. Banyak sekali bunga buntut kucing yang menari dengan gemulai karena tertiup angin segar pagi hari. Semburat keunguan gradasi dari biru pekat mulai tampak di langit, menggantikan kegelapan yang diterangi oleh sang putri malam. Dengan lembut ditepuknya pipi sang wanita yang masih tenang di pundak pria itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata itu bergerak berat. Namun udara lembut yang membelai setiap kulit wanita itu, akhirnya ikut membuat wanita itu benar-benar terjaga dari tidur lelapnya. Sekali lagi matanya mengerjap, ketika kepalanya terangkat dan biji mata berbentuk almond itu menangkap siluet keindahan alam yang tidak pernah dia temukan dalam hidupnya. Bibir yang tidak meluncurkan kata-kata itu, tertarik ke samping kanan dan kiri. Senyum lebarnya, memamerkan gigi yang berantakan dan agak kekuningan. Matanya…mata kosong itu kini memancarkan satu percikan cahaya gairah kehidupan yang tidak pernah tampak. Pesonanya lumer bersama dengan mlai munculnya matahari di ufuk barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direntangkan kedua tangannya seperti seorang burung yang siap terbang, dihirup dalam-dalam aroma kebebasan yang ada di hadapannya itu. Dia menengadahkan kepala. Sekelompok burung tampak berenang di langit, mengepakkan sayap dengan semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, wanita itu mulai memahami menjadi seekor burung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-9004320347870130868?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/9004320347870130868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/10/bulan-di-ujung-labirin.html#comment-form' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/9004320347870130868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/9004320347870130868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/10/bulan-di-ujung-labirin.html' title='Bulan di Ujung Labirin'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-5981482742682983034</id><published>2009-10-24T16:48:00.000+07:00</published><updated>2009-10-24T16:49:17.757+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Surat Untuk Seseorang (Dalam Kenangan)</title><content type='html'>SURAT UNTUK SESEORANG DALAM KENANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menyadarinya, semua sudah terlambat. Dan setiap detik yang kulalui, penyesalan itu terasa menyesakkan. &lt;br /&gt;Berjuta kata maaf, apakah sanggup membuatmu memaafkanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebodohanku, adalah melepasmu. &lt;br /&gt;Tapi aku bukan keledai yang akan mengulang kesalahan yang sama. Ketika perasaan itu kembali datang, bolehkah aku mengulang semuanya sekali lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aneh. Aku begitu naïf telah menyangkal perasaanku sendiri. Mati-matian berkata tidak, sementara hati begitu menginginkanmu kembali untukku. &lt;br /&gt;Bolehkah kamu menemani hari-hariku lagi? Bolehkah kamu yang menjadi bayangan di saat aku berjalan tegak maupun di saat aku jatuh? Bolehkah hanya kamu yang menopang diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika satu bulir air mata ini jatuh, semua karena usahaku menahan rasa cinta yang ingin kusampaikan, namun tak kunjung terucap karena ketidakmampuanku. &lt;br /&gt;Jika satu senyuman ini mengembang, semua karena teringat akan kebersamaan denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bisakah kita bersama lagi? Selamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu menantimu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-5981482742682983034?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/5981482742682983034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/10/surat-untuk-seseorang-dalam-kenangan.html#comment-form' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5981482742682983034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/5981482742682983034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/10/surat-untuk-seseorang-dalam-kenangan.html' title='Surat Untuk Seseorang (Dalam Kenangan)'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-2675699374912679140</id><published>2009-09-25T21:13:00.001+07:00</published><updated>2009-10-24T17:19:09.883+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fan Fiction'/><title type='text'>Kisah Sepasang Mata bag 1</title><content type='html'>By : Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan&lt;br /&gt;Noona: panggilan cowok yang lebih muda untuk cewek yang lebih tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROLOG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katamu, bagaimana kebebasan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengepalkan tangan dengan sangat kuat. Hingga buku-buku jarinya terasa perih dan memerah. Ujung-ujung kukunya pun menancap kuat di telapak tangan. Otot-ototnya turut menegang. Seolah semua emosi dan tenaga mengalir ke satu titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun, dia bersumpah, akan dilakukan demi terbebas dari himpitan yang telah menekan setiap aliran darahnya. Bahkan menekan hampir setiap detak jantung dan napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat kebebasan itu hampir menyapa, bukan keinginannya untuk berlalu dari semua itu. Keadaan mendesaknya. Begitu kuat, hingga kepalanya terasa sakit. Bahkan tidak ada lagi akal sehat yang bisa membantunya berpikir dua kali dalam membuat keputusan. Tidak ada yang akan menghalanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sudah bersumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebuah kesalahan itu terjadi, keterpurukannya ternyata mampu membawa kepada dua hal : kebebasan dan kebahagiaan orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kekalutan yang bahkan uang pun tidak mampu membayarnya, dia berlari seperti orang kesurupan. Dia membiarkan keremangan malam merayapi kesendiriannya, dia juga membiarkan angin malam yang menerpa wajah, mampu membawa pergi seluruh penderitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia tau, bukan angin malam yang akan menghapus semua sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dengan wajah memelas, dia hanya bisa memohon pada laki-laki itu. Dia hanya bisa berharap kalau laki-laki itu bersedia membantunya. Meski semua telah diaturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Separuh sudut bibirnya terangkat, menghadirkan senyum penuh misteri. Antara kesedihan dan kebahagiaan yang begitu tipis. Tapi dia sungguh berterima kasih pada orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, aku tau apa arti bebas yang sesungguhnya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki berlapis sepatu sport yang sudah kusam itu, berhenti mendadak di depan sebuah rumah yang tampak tidak terawat. Mata sipitnya memicing kala menatap bangunan di hadapannya - menghadirkan sebuah sorot keengganan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu menelan ludah. Pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya ada pilihan lain, tentu dia tak ingin kakinya bergerak memasuki rumah tersebut. Rumah kecil yang bahkan halamannya begitu kotor dengan timbunan daun-daun kering. Sejenak langkahnya kembali tertahan, saat dia menangkap suara-suara tawa ringan dari dalam ruangan. Namun, berpura-pura tidak menyadari apa yang sedang terjadi, dia melangkahkan kaki ke dalam ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei! Hong Gi!!” seru seorang wanita dengan begitu tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan malas, cowok bernama Hong Gi itu menolehkan kepalanya. Tapi ekspresinya datar dan cenderung dingin. Tidak ada kata-kata yang meluncur dari bibir tipisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei…kenapa kau?! Apa kau bahkan tidak mau menyapa Ibumu sendiri? Apa aku tidak pernah mengajarimu sopan santun?” sindir wanita itu sambil melirik penuh maksud ke arah seorang pria tengah baya di sebelahnya. “Dia yang akan jadi Ayahmu…! Setidaknya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah belagak pernah mengajariku,” potong Hong Gi acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong Gi baru saja hendak melangkah ketika paras wanita yang penuh dengan bedak dan gincu itu memerah karena marah. “Hei!! Anak sial kau!! Jangan harap aku sudi mengakuimu sebagai anak!” Wanita itu hampir saja bertindak seolah kesetanan, seandainya pria tadi tidak mencegahnya. Sementara Hong Gi, berlalu tanpa merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja Hong Gi melewati kamar kakak perempuannya, sudut matanya menangkap sesuatu. Hal yang membuat kepala Hong Gi tak tahan untuk menyembul dari balik pintu. Yang akhirnya menyentakkan dirinya hingga ke titik paling bawah. Kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Nae, kakak satu-satunya yang sangat Hong Gi sayang, saat itu sedang meringkuk di sudut ruangan. Wajahnya putih pucat, rambut panjang hitamnya berantakan, dan dia tampak menikmati setiap suntikan yang menembus kulit mulusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Hong Gi seakan menegang. Matanya terbelalak hingga terasa perih. Rahangnya pun bergemeletuk menahan emosi yang merayap di seluruh tubuhnya. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya sakit dan kukunya menancap di telapak. Napasnya mendadak tersengal, seakan-akan baru saja menahan napas untuk beberapa menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergesa-gesa, Hong Gi segera keluar rumah melalui pintu samping dan melompati pagar yang cukup tinggi. Kemudian, Hong Gi berlari. Terus berlari hingga keringat mengucur dan jantungnya berdetak begitu kuat. HIngga Hong Gi merasa seluruh tenaganya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia berhenti di sebuah pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong Gi mengatur napasnya. Mengatur detak jantungnya. Pundaknya naik turun karena kelelahan dan paru-parunya sedang memompa udara lebih banyak untuk bisa bernapas normal. Setelah cukup tenang, Hong Gi menatap ujung laut. Tangannya masih mengepal. Perkiraannya salah. Emosi Hong Gi belumlah hilang. Karena itu Hong Gi berteriak seperti orang kesetanan, memaki-maki dalam gumaman tak jelas, dan kakinya bergerak seperti menendang sesuatu ke segala penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh ku katakan, sungguh aku membenci kalian. Apakah kalian pantas ku sebut keluarga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saat malam tengah merayap, langkah Hong Gi terseok seperti tidak tentu arah. Otaknya memerintahkan, kemana saja, asal tidak kembali lagi ke rumah. Paling tidak untuk saat itu. Selebihnya, kepala Hong Gi sama sekali tidak mau berpikir. Sudah cukup otaknya berdenyut kesakitan karena dipaksa bekerja begitu keras. Membuat Hong Gi tampak seperti zombie yang sedang bergerak. Pandangan matanya sayu dan tidak ada semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, kaki itu kembali berhenti. Namun kali ini di depan sebuah undakan di dalam lorong kecil, yang menuju ke sebuah gerbang kayu dimana sebuah rumah mungil yang sangat tradisional berdiri kokoh. Hanya ini satu-satunya harapan. Hanya dia. Hong Gi sungguh tak tau lagi harus berharap pada siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, begitu buku-buku tangannya beradu dengan gerbang kayu, Hong Gi mengurungkan niat. Dia menatap ujung sepatunya dan mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, entah kenapa, saat itu aku merasa begitu malu bertemu denganmu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, Hong Gi memilih untuk duduk di undakan ke dua. Disenderkan kepalanya ke sisi lorong batu. Tampak begitu pucat dan putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hong Gi?” suara itu bagai sangkakala yang bergema merdu. Sungguh, Hong Gi begitu senang bisa mendengarnya. Meski terasa berlebihan pun, Hong Gi tidak mau peduli. Yang dia peduli hanyalah suara itu. Suara lembut yang bayangan pemiliknya terasa semakin mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong Gi mengangkat kepalanya. Wajah datar itu, sedikit banyak menampakkan reaksi penuh syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong Gi tak kuasa melemaskan otot wajahnya. Bagai bertemu seorang peri, ingin sekali Hong Gi menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. “Noona…Boa noona…” suara seraknya hilang timbul karena udara dingin yang menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hong Gi…” perempuan bernama Boa itu sepertinya langsung sadar apa yang sedang terjadi, hanya dengan melihat ekspresi Hong Gi. “Bukankah di sini dingin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noona…” Hong Gi bangkit berdiri. Tanpa banyak kata lagi, dia langsung menarik tubuh Boa hingga menabrak dadanya yang bidang. Dipeluknya kuat-kuat perempuan di hadapannya itu, sesuai dengan keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boa tidak berani bergerak. Dia mengerti apa yang terjadi. Karena itu dia membiarkan tubuh besar itu mendekapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tau? Aku selalu suka memelukmu. Karena aku suka mencium aroma rambutmu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun akhirnya Hong Gi harus kembali merepotkan Boa dengan menginap di rumahnya, bukan berarti bahwa Boa harus menyiapkan sarapan untuknya. Kebalikan dengan itu, Hong Gi justru sengaja bangun pagi-pagi buta untuk membelikan sarapan dan menyiapkannya untuk Noona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua buah roti isi kacang merah dan dua gelas susu hangat, berkumpul menjadi satu dalam sebuah kantong plastik, yang kini sedang bergelayut di tangan Hong Gi. Memang bukan makanan mahal, tapi Hong Gi tau, Noonanya itu sangat menyukai roti isi kacang merah. Karenanya, meski Hong Gi tidak begitu suka kacang merah, dia tetap memilih menu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan bahwa Boa akan menikmati sarapan bersama dengannya, mendadak sirna begitu Hong Gi melintasi pinggir jalan, yang merupakan arah menuju rumah Boa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapannya -perempuan yang di mata Hong Gi memiliki aura yang hampir mirip dengan SI Nae, kakaknya- sedang bersama laki-laki lain. Dan orang itu adalah Jong Hoon, seseorang yang selama ini selalu dianggap musuh oleh Hong Gi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah Hong Gi mendidih, ketika melihat Boa menarik tangan Jong Hoon yang hendak berbalik dan saat laki-laki itu menghentikan langkahnya, Boa langsung merangkul punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kali ini kemarahan Hong Gi langsung meledak. Dijatuhkannya kantung berisi makanan itu, sebelum akhirnya dia menghampiri Jong Hoon dan dengan membabi buta memukuli laki-laki itu. Hong Gi seperti kerasukan sesuatu. Dia terus saja menghadiahkan tinju pada Jong Hoon yang kewalahan karena mendapat serangan mendadak. Sementara di belakang sana, Boa menjerit histeris dan sedikit panik. Berharap pertolongan orang-orang di sekitar yang mulai ramai menonton, namuan tidak satu pun yang berusaha melerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hong Gi!! Hentikan!” jerit Boa. “Aku bisa menjelaskan semuanya. Ini sungguh bukan salah Jong Hoon….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Boa bergerak-gerak di udara, seperti sedang menangkap angin, padahal dia ingin menarik Hong Gi dan menyingkirkan anak itu dari Jong Hoon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hong Gi….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, berkali-kali pun Boa memanggil, berkali-kali pula suara merdu itu terabaikan. HIngga akhirnya, ketika Boa berhasil menarik baju Hong Gi, laki-laki itu malah menyodorkan sikunya ke dada Boa dan membuat perempuan itu terpental ke belakang. Boa meringis nyeri. Namun, kakinya terserimpat dan menyebabkan Boa kehilangan keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya sungguh terjadi dengan begitu cepat. Tidak ada yang menyadari antara Hong Gi dan Jong Hoon, kecuali orang-orang yang ada di sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu begitu keras. Seperti sesuatu yang terhantam besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu Hong Gi menoleh, semuanya sudah terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia buta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kata dokter yang menangani Boa. Dua kata yang langsung membuat Hong Gi dan Jong Hoon yang mendengarnya, seakan membeku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya ada satu cara, yaitu operasi apabila ada pendonor mata yang bersedia menyumbangkan mata untuk gadis itu,” kata pria berjas putih itu lagi. “Sayang, hanya orang yang sudah meninggal yang bisa menyumbangkan dan biayanya akan sangat mahal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noona, apakah kau bisa memaafkanku, noona?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dokter itu berlalu. Meninggalkan kedua remaja yang tampak sebaya dalam kekalutan pikiran masing-masing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-2675699374912679140?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/2675699374912679140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/kisah-sepasang-mata-bag-1.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/2675699374912679140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/2675699374912679140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/kisah-sepasang-mata-bag-1.html' title='Kisah Sepasang Mata bag 1'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-7357480967630389641</id><published>2009-09-25T21:11:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T21:12:52.314+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fan Fiction'/><title type='text'>Kisah Sepasang Mata bag 2</title><content type='html'>Entah apa yang merasuk ke dalam tubuh Hong Gi sehingga dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Langkahnya lebar-lebar, meniti setiap jalanan beraspal dan menembus angin musim gugur, dengan langkah lebar. Tampak tergesa-gesa. Wajahnya tampak diliputi kekalutan. Matanya pun bergerak liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya Hong Gi di rumah, dia segera melesat menuju kamarnya. Seperti orang yang sedang kalap, Hong Gi membongkar seluruh perabotan kamarnya. Dia tampak mencari-cari sesuatu. Wajahnya diliput kepanikan, kemarahan serta penyesalan yang menjadi satu. Sesekali dia mendesah berat kala tidak mendapatkan apa yang dia inginkan di satu tempat, hingga dia harus mencari ke tempat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIngga akhirnya, ruangan persegi itu pun tampak begitu berantakan dengan segala benda yang terlepas dari tempat asal. Hong Gi terduduk pasrah di sisi tempat tidur dalam diam. Dia menjambaki rambutnya sambil mengerang kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tau, meski aku sungguh ingin menangis untuk melepas emosi, namun aku tidak bisa menangis. Air mata itu tidak akan tumpah. Tapi noona, bukan aku tidak mengkhawatirkan mu. Sungguh….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong Gi baru saja membeli sekaleng bir. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia sangat sangat ingin mencicipi minuman keras tersebut. Dan sekarang, Hong Gi merasakan satu kepuasan ketika kaleng bir itu berada di tangannya. Meski tenggorokannya terasa panas dan kepalanya agak pusing. Dia tidak sadar kalau pipinya sudah mulai memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja Hong Gi memutuskan untuk pulang, ketika kakinya melewati sebuah pub. Beberapa orang tampak hilir mudik keluar masuk dari tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong Gi terpana di tempat, dengan tangan kanan memegang kaleng bir dengan posisi hendak meneguk minuman itu. Perlahan dia menurunkan tangannya dan seolah terpanggil oleh seseorang, kaki Hong Gi bergerak ragu memasuki tempat itu. Karena dia dianggap sudah dapat menunjukkan kartu identitas, maka Hong GI bisa masuk dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan reaksi pertamanya adalah : kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tau siapa yang memulai, siapa yang menghampiri, atau siapa yang pertama melemparkan senyum menyapa, seorang perempuan berpakaian seksi segera mendekati Hong Gi. Dibimbingnya Hong Gi yang sedikit lebih pendek dari perempuan bersepatu hak tinggi itu, menuju sebuah meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau…mau mencoba peruntungan? Atau sekedar bersenang-senang dengan kami?” Tanya perempuan itu dengan suara menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong Gi terpana menatap wajah mulus berlapis make up tebal milik perempuan itu. “Aku hanya ingin mendapat uang banyak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menyunggingkan senyum terselubung sambil membalas tatapan Hong Gi dengan tajam. Kemudian dia meraih tangan Hong Gi dengan mesra dan membawanya ke sebuah meja lain yang ramai dikelilingi orang-orang. Asap rokok mengepul dari kerubungan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peruntunganmu dimulai dari sana,” kata perempuan itu, menyuruh Hong Gi untuk bergabung dengan pria-pria tengah baya yang sedang terhipnotis dengan permainan Roulette, yaitu sebuah piringan berbentuk bulat yang berputar kencang dan menggunakan dua buah dadu yang dikocok untuk menentukan kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Hong Gi ragu akan hal tersebut, namun entah kenapa, tidak ada bagian dari dirinya yang memilih untuk mundur dari tempat itu. Sungguh di luar dugaan, ternyata di sanalah memang peruntungan Hong GI. Dalam setengah jam saja, Hong Gi sudah berhasil meraup setumpuk uang. Dan kini, seperti sudah terbiasa bermain Roulette, Hong Gi tampak begitu antusias. Tawa dan teriakannya membahana kala dia memenangkan sejumlah uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tadi menggelayutkan tangannya yang mulus di leher Hong GI saat dia berdiri karena terlalu bahagia bisa memenangkan permainan yang baru sekali itu dimainkan. Sekejap Hong Gi terkejut dengan sikap mendadak si perempuan tak dikenal itu. Hong Gi bahkan hampir menyingkirkan tangan itu dari lehernya, namun entah kenapa dia mengurungkan niatnya dan berusaha menikmatinya. Hong Gi memberikan senyuman kaku pada perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tau kenapa, tapi aku hanya ingin melupakan kenyataan siapa diriku sebenarnya. Paling tidak untuk beberapa saat itu. Karena anehnya….aku merasa begitu bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, Hong Gi baru keluar dari pub. Dia terlalu menikmati suasana di dalam tempat itu, yang benar-benar bisa membuat dirinya lupa akan segala beban. Hong Gi lupa diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kebahagiaan di dalam pub itu, berangsur-angsur menguap ketika Hong Gi tiba di rumahnya. Banyak orang berkerumun di depan sana. Semuanya tampak menjulurkan kepala, seperti ingin tau apa yang terjadi di dalam sana. Hong Gi mengedarkan pandangan. Sebuah mobil patroli polisi terparkir tidak jauh dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali tidak ada bayangan apa yang telah terjadi di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, Hong Gi berusaha menerobos orang-orang yang menutupi jalan masuk ke rumahnya. Namun, belum sempat Hong Gi sampai di dalam rumah, dua orang polisi muncul dari dalam sambil menyeret seorang perempuan berambut panjang dengan kulit putih pucat. Perempuan itu berontak, namun tampak lemah. Dia menjerit histeris dan matanya sembab, tanda dia menangis. Tak lama berselang, sepasang pria dan wanita muncul. Dengan wajah panik, dia mencoba menahan polisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong GI langsung membeku di tempat. Tidak mungkin, Si Nae, kakak satu-satunya, akhirnya harus masuk ke dalam sel tahanan. Apa penyebabnya, Hong Gi tak perlu mencai tau. Dia sudah sangat mengerti keadaan SI Nae yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Hong Gi mengepal kuat-kuat hingga memerah. Kemudian, dia membalikkan badan dan segera berlari dari sana. Kali ini bukanlah pantai yang menjadi tujuan Hong Gi. Tapi dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membencinya. AKu benci Si Nae. Dia bukan kakakku. Aku benci keluargaku. Apa aku masih tetap harus bertahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jong Hoon!!” seru Hong Gi seperti orang kesetanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tau dimana biasa Jong Hoon menghabiskan waktu. KAlau bukan perpustakaan sekolah, pastilah taman belakang sekolah itu. Dan dugaannya benar. Jong Hoon ada di sana, sedang membaca buku dengan pandangan mata kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong Gi mendekati Jong Hoon. DAlam keadaan emosi, Hong Gi langsung menarik leher kaos Jong Hoon hingga laki-laki itu berdiri dengan terpaksa. Buku bacaannya terjatuh begitu saja. Didorongnya tubuh Jong Hoon hingga punggunya menghantam sebuah pohon besar. Namun, wajah Jong Hoon tetap datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KAtakan sejujurnya,” ancam Hong GI tajam. “Apa kau sungguh menyukai noona?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon terdiam. Ekspresinya masih sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KAtakan!!” seru Hong Gi mulai berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon menarik napas. “Kalau kukatakan yang sejujurnya, apa kau akan percaya? Apa kau juga mau mendengar penjelasannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini giliran Hong Gi yang terdiam. “Katakan…” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku benci mengakui ini karena pasti aku akan menjilat ludah sendiri, tapi…” Jong Hoon menatap dalam Hong Gi, “…aku masih mengharapkan Sun Ye kembali padaku. Aku minta maaf, karena telah melukai perasaan noona-mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegangan tangan Hong Gi mengendur dan tertahan di dada Jong Hoon dengan posisi tangan mengepal. Hong Gi membungkukan sedikit badannya dan menundukkan kepala, menatap sepatu. Dia menggeram dan lama-lama, geraman itu terdengar memilukan. Begitu terasa menyakitkan, hingga akhirnya sedikit air mata tumpah dari kedua bola matanya yang jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong…” kata Hong Gi serak. “Bunuh aku…” ucapnya dengan hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau gila!” refleks Jong Hoon sambil mendorong Hong Gi. “Jangan bercanda dengan nyawamu sendiri, apalagi hanya karena kau merasa menyesal telah salah paham!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Hong Gi masih terbungkuk. Namun, matanya mendongak melirik Jong Hoon dengan tatapan mengerikan. “Kau pikir kau tau semuanya, hah? Kau pikir hanya karena menyesal lantas aku mau mati? Apa yang bisa kau lakukan kalau kau tidak bahagia? Apa yang akan kau lakukan kalau kau terperangkap dalam beban?” Hong Gi menegakkan tubuhnya. “Hanya ada satu kebahagiaan di hidup ini, mencintai dan dicintai. Kalau kau bahkan tidak bisa melakukan keduanya, apa kau tetap ingin hidup? Aku bahkan tidak bisa mencintai noona dengan tulus. Aku hanya teringat pada Si Nae onni ketika bersama noona. Dan kini…dia bahkan bukan kakakku lagi!!” kemudian Hong Gi menggeram. Dia kembali menerjang Jong Hoon dan memukulinya tanpa ampun, seolah Jong Hoon lah yang bertanggung jawab atas semua kejadian yang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong…bebaskan aku,” pinta Hong Gi sekali lagi saat dia sudah merasa letih memukuli Jong Hoon yang tak menggubris. “Serahkan mataku, untuk noona. Kumohon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong Gi menyodorkan sebilah pisau pada Jong Hoon sambil tersenyum licik. Mata itu berkilat penuh kemenangan, ketika Jong Hoon akhirnya menerima pisau tersebut dengan tangan bergetar. Ujung pisau itu sudah terarah pada Hong Gi. Tepat pada jantungnya. Masih dengan senyum mengerikan, Hong Gi meraih tangan Jong Hoon dan membantu menghunuskan pisau tersebut ke jantungnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon membeku. Wajahnya pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya cairan kental berwarna merah dan berbau anyar itu perlahan mengalir, Hong Gi mendorong tangan Jong Hoong. Dia menghapuskan jejak tangan Jong Hoon dalam pisau dan tersenyum senang. Tampak sedikit binar di mata jenakanya yang belakangan seolah tertutup kabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berikan noona kebahagiaan,” kata Hong Gi pelan sesaat sebelum terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, akhirnya aku bisa menjangkau kebebasan. Inilah kebahagiaanku. Noona, selamat tinggal. Maaf, kuharap di kehidupan mendatang, aku bisa mencintaimu dengan tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis berdiri di depan sebuah nisan. Dia mengenakan pakaian serba putih dan kacamata hitam bertengger manis di tulang hidungnya. Sepasang mata di balik pelindung berwarna gelap itu, menatap nama yang tertoreh di nisan dengan sorot sedih dan kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hong Gi….maaf,” kata gadis itu dengan bibir bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulir air mata, jatuh ringan di salah satu pipinya. Ada perasaan menyesal yang secara tiba-tiba begitu menyesakkan seluruh rongga dadanya. Perasaan yang sulit diungkapkan, namun terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tanpa di sadari, Boa sangat membutuhkan keberadaan Hong Gi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-7357480967630389641?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/7357480967630389641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/kisah-sepasang-mata-bag-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/7357480967630389641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/7357480967630389641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/kisah-sepasang-mata-bag-2.html' title='Kisah Sepasang Mata bag 2'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-9052182654025976041</id><published>2009-09-25T21:10:00.002+07:00</published><updated>2010-03-28T22:01:27.647+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fan Fiction'/><title type='text'>Satu Bintang Yang Terlupa (Re-Posting)</title><content type='html'>By : Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang siswa SMA, Jong Hoon bukanlah cowok yang suka belajar. Jong Hoon juga bukan cowok yang menyukai keramaian. Jong Hoon lebih menyukai suasana sepi sambil membaca. Dan untuk itu Jong Hoon harus mempunyai sebuah tempat persembunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat itu berada di sudut perpustakaan sekolahnya. Tempat yang tenang dan jauh dari jangkauan hingar bingar kawan-kawan. Tidak ada yang tau soal kebiasaan Jong Hoon ini. Tidak ada, karena Jong Hoon pun nyaris tidak memiliki teman dekat. Sikapnya yang pendiam serta sedikit canggung dan kaku, membuat Jong Hoon popular hanya karena wajah putihnya yang tampan. Karena itu, tidak akan ada yang tau kemana Jong Hoon pergi, jika dia tidak ada di bangku kelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia, cewek yang setahun ini selalu bersamanya dan sedang berada dalam kepala Jong Hoon, saat ini—saat tangannya sibuk melipat-lipat kertas berkilauan warna warni, menjadi sebuah bentuk bintang yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aja ada anak perempuan yang ngeliat apa yang aku lakuin waktu itu, pasti mereka bisa ketawa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon tersenyum. Bintang-bintang buah tangannya sudah terkumpul sangat banyak di dalam sebuah toples plastik. Yah, target Jong Hoon memang membuat seribu bintang. Katanya, dengan seribu bintang yang kita kerjakan, bisa mengabulkan sebuah permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Jong Hoon punya permintaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua untuk cewek itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun Ye…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bel pulang berbunyi, Jong Hoon keluar dari persembunyiannya. Tadi pelajaran Biologi dan Jong Hoon sudah membolos karena tidak suka dengan pelajaran ilmiah tersebut. Jong Hoon lebih memilih sibuk dengan bintang-bintang hasil tangannya, yang ternyata begitu rapih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memandangi toples plastik berpita merah muda di tangan kanannya, Jong Hoon melangkah menuju kelas Sun Ye, di lantai dua. Senyum mengembang, membayangkan Sun Ye akan menyukai hadiah kejutan yang sederhana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatu sneakers Jong Hoon berhenti tepat di depan pintu kelas 11.3. Namun, Jong Hoon urung untuk masuk ke kelas, apalagi menghampiri seorang cewek berambut hitam pendek, yang sedang berdiri sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Dia membelakangi pintu masuk kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau menuduhku menyukai Jong Hoon?! Aku dan Jong Hoon tidak pernah lebih dari sekedar teman dan kalian tau untuk siapa aku melakukan ini, kan? Won Bin...teman kalian juga. Orang yang paling kusayang…,” suara lembut itu terdengar sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum Jong Hoon mendadak sirna. Matanya yang sipit berkilat kecewa. Ada rasa marah yang menyeruak di dada. Tangan kirinya mengepal kuat-kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon masih tetap berdiri di balik pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tentu saja kalau Jong Hoon tidak memukuli Won Bin hingga babak belur, aku tidak akan sudi berkenalan dengan Jong Hoon…Ok, aku mengerti…Rencana kita pasti berhasil…Ok, kalian tunggu saja…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum percakapan itu usai, Jong Hoon buru-buru meletakkan toples plastiknya di depan pintu. Setelahnya, Jong Hoon memilih pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya kacau. Hatinya baru saja tersayat begitu perih. Kini dalam kepalanya, masa lalu itu seolah kembali terbuka. Dia harus menenangkan diri. Dan setelahnya, berpura-pura tidak ada yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hanya mimpi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mungkin pengecut, tapi cukup jelas kalau aku bodoh karena bisa tertipu kamu, Sun Ye. Ah….salah, rasanya aku terlalu bodoh karena kamu satu-satunya yang nggak bisa ku benci...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FLASHBACK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu hujan cukup deras mengguyur kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah lapangan, tampak enam orang cowok berdiri berhadapan dengan seorang cowok lain, tanpa peduli tetesan air yang membasahi seluruh tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sisi kubu yang sangat bertolak belakang. Mereka saling menghujam dengan sorot mata yang tajam dan penuh dengki. Seorang cowok yang berdiri sendiri, mengepal kuat-kuat tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yang akan bertanggung jawab,” katanya dengan suara dalam yang tertelan bunyi gemuruh hujan. “Kau harus mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku...Oh Won Bin tidak mungkin mati hanya karena satu orang seperti kau,” jawab seorang cowok berambut lurus, yang berdiri paling depan di kubu yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok yang sendirian bernama Jong Hoon itu tersenyum sinis. “Satu lawan satu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Won Bin mengangguk pelan. Kemudian, sesaat dia berbalik menghadap kelima temannya dan menyuruh mereka untuk tidak mencampuri perkelahian kali itu. “Ini urusanku dengan bajingan itu,” ujar Won Bin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya, Won Bin mendekati Jong Hoon dan langsung mengarahkan satu tinju tepat ke arah ulu hati cowok itu. Jong Hoon terhuyung tapi tidak terjatuh. Air hujan membuat mata sipitnya kesulitan untuk melihat dengan jelas wajah Won Bin. Tapi Jong Hoon tidak peduli. Segera setelah serangan pertama Won Bin, Jong Hoon melemparkan sebuah pukulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Won Bin bertahan dengan satu pukulan itu dan membalas Jong Hoon dengan tinju lain di pipi Jong Hoon. Tidak mau kalah, Jong Hoon kembali membalas Won Bin. Tendangan, tinju ke seluruh bagian tubuh, semua saling dilayangkan. Hingga akhirnya sebuah celah, membuat Won Bin terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan itu digunakan Jong Hoon untuk duduk di atas perut Won Bin, memukuli wajah cowok itu dengan penuh napsu seperti binatang liar, sampai berlumuran darah dan memar, lalu menginjak-injak perut Won Bin hingga darah yang menyembur dari mulutnya tidaklah sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Won Bin berada di posisi kalah. Tubuhnya yang kedinginan sudah mulai kelelahan. Air hujan pun semakin terasa menyiksanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima teman Won Bin sudah sangat ingin membantu, tetapi Won Bin malah berteriak keras melarang mereka. Saat lengah itu juga, Jong Hoon memanfaatkan kesempatan untuk menginjak perut Won Bin dengan sekuat tenaga. Namun, Won Bin berusaha menahannya. Sayang, tenaga Won Bin sudah habis. Hanya dengan sedikit menambah kekuatannya, Jong Hoon sudah bisa membuat sisa pertahanan Won Bin hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok itu meringis saat perutnya sekali lagi terinjak. Dan kali ini, Won Bin hanya bisa terdiam. Dia meringkuk, menahan sakit. Sungguh tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu Jong Hoon melempar pandangan puas ke arah Won Bin, lalu pergi meninggalkan tempat itu, tanpa peduli dengan kelima teman Won Bin yang memakinya dan berniat mengeroyok Jong Hoon, namun tidak bisa karena Won Bin sudah tergeletak diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit kilat rasa puas di sudut bola matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, semua itu diluar kendali emosiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang sekolah, ada sebuah pohon besar dengan daun yang begitu rindang. Tempat yang sepi dan teduh. Rasanya begitu nyaman berada di sana, berlindung dari teriknya matahari siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon berdiri di depan pohon itu dengan tas terselampir di pundak kanannya. Dia tertunduk lesu menatap ujung sepatunya. Ujung sepatu itu mungkin sudah mulai kotor, tapi Jong Hoon merasa dirinya jauh lebih kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupannya dua tahun lalu, sebelum memasuki jenjang SMA, sungguh bukan sebuah lembaran hidup yang membanggakan. Sebaliknya, Jong Hoon sudah sangat menutup rapat-rapat kotak memori tentang masa lalunya. Jong Hoon selalu berharap tidak ada yang pernah membukakan kotak itu untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun Ye telah melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memori masa lalu yang begitu dibencinya itu mulai berkelebat lagi di kepala. Masa lalu yang telah membuatnya sengsara. Ayahnya pergi bersama seorang janda dengan seorang anak bernama Won Bin, meninggalkan Ibunya yang kemudian memilih untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon mengatupkan bibir tipisnya. Kedua alisnya bersatu, mengkerut. Tiba-tiba dia melayangkan satu tinju ke tubuh pohon tak berdaya itu. Berulang-ulang dan tanpa suara, sampai Jong Hoon merasa emosinya cukup reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelipisnya berkeringat dan napasnya terengah-engah. Buku-buku jarinya pun terasa perih dan terluka. Tapi dia tidak peduli. Meskipun luka itu berdenyut sakit, namun tidak sesakit perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek satu-satunya yang dia sayang, ternyata hanya memanfaatkannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon meninju pohon itu lagi untuk yang kesekian kali. Terakhir, dia terduduk lemas dengan satu kaki menopang tangannya yang terluka, sebelum ponselnya bergetar. Melihat tampilan nama pada ponselnya, Jong Hoon menelan ludah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditatapnya sejenak ponsel berwarna putih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tau, saat itu aku berpikir sebaiknya aku tidak menjawab teleponmu. Tapi aku juga berpikir, mungkin dengan berpura-pura kalau semua tidak pernah terjadi, lama-lama kamu akan lupa bahwa kamu sedang memanfaatkanku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya?” Jong Hoon menempelkan posel itu ke telinga dengan tangannya yang masih memar, sambil bersender pada tubuh sang pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jong Hoon, kamu yang memberiku seribu bintang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngng…ya. Aku…buat itu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makasih, ya. Aku suka. Bintangnya sungguh ada seribu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngng…aku rasa…” sahut Jong Hoon tak begitu semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jong Hoon? Kamu dimana? Aku…boleh pulang duluan?” suara itu terdengar agak khawatir. Entah kenapa, tidak peduli palsu atau tidak, Jong Hoon tetap menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok berambut hitam itu terdiam beberapa saat, sementara sudut bibirnya mencuat sedikit. Tenggorokannya mendadak kering. Rasanya sulit sekali mengeluarkan kata-kata larangan untuk Sun Ye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Ok,” hanya itu yang akhirnya meluncur dari mulut Jong Hoon. Agak sedikit bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jong Hoon, kamu…kenapa?” tanya orang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak apa. Kamu tak perlu cemas. Hati-hati pulangnya,” kata Jong Hoon serak. “Nanti aku telepon lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Jong Hoon menutup flip ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celana seragam sekolah. Entah kenapa baru kali ini dia merasa begitu nelangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun Ye, aku hanya ingin tau, apa benar aku sama sekali tidak berarti buat kamu? Paling tidak setelah kita dekat selama satu tahun ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya Jong Hoon tidak ingin pulang. Namun teringat Sun Ye yang selalu pulang bersamanya, Jong Hoon pun mendadak mengkhawatirkan cewek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia memutuskan untuk mengawasi jalan pulang Jong Hoon. Dengan menjaga jarak hingga beberapa meter, Jong Hoon mengikuti tiap langkah Sun Ye. Sesekali Jong Hoon bersembunyi kalau-kalau Sun Ye tampak menoleh ke belakang. Entah mengapa, yang jelas, Jong Hoon tidak ingin Sun Ye mengetahui keberadaannya. Jong Hoon hanya ingin menjaga Sun Ye, meski cewek itu telah secara tak langsung menolaknya mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pertengahan jalan, Sun Ye berbelok menuju sebuah lorong jalan buntu. Di sana Sun Ye bertemu dengan lima orang cowok yang tampak sangar di balik seragam blazer sekolah mereka yang berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon mengawasi dari tempatnya, di balik tiang. Jong Hoon tampak khawatir. Namun, baru saja hendak melangkahkan kaki bermaksud melabrak lima cowok berandal itu, otak Jong Hoon seolah memerintahkan kakinya untuk tetap diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja cowok-cowok dari sekolah lain itu adalah teman-teman Sun Ye yang dimaksud cewek itu dengan “kalian” di pembicaraan telepon beberapa saat lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat hal itu hati Jong Hoon kembali berdenyut nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusaha menyingkirkan rasa sakit hatinya, Jong Hoon mencoba berpindah tempat persembunyian supaya bisa mencuri dengar apa yang orang-orang itu diskusikan. Kali ini, dari balik tembok sebuah toko roti, cowok jangkung itu bisa mendengar samar perkataan tiap-tiap orang tak dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ponselmu?” tanya seorang cowok botak. Tampaknya seperti pemimpin di antara yang lain. Dia menyodorkan telapak tangannya yang terbuka ke arah Sun Ye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyebalkan,” gerutu Sun Ye yang setengah hati memberikan ponselnya kepada si cowok botak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It`s our plan,” kata si cowok itu. “Apa pun yang akan kita lakukan, kau harus ikut membantu. Bukan begitu, Sun Ye? Apa yang kau inginkan? Mati atau sekarat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun Ye tersenyum sengit. “Mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan jawaban itu membuat kawan-kawannya tertawa. Salah seorang cowok yang berambut panjang diikat, berkacak pinggang. “Kau gila! Won Bin hanya luka memar dan kau meminta nyawa orang?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis Sun Ye terangkat-tampak tersinggung. “Kamu kira luka Won Bin hanya memar saja? Dia hampir mati kalau si botak ini tidak berinisiatif menolongnya! Kalian sendiri hanya bisa mematung!” ujar Sun Ye sinis sambil menunjuk cowok botak tadi dengan dagunya. “Lagipula…satu ginjal Won Bin mengalami kerusakan,” tambah Sun Ye sambil menahan air mata yang mulai mendesak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengerti,” sahut si cowok berambut panjang. “Sorry.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si botak buru-buru menengahi. “Tidak ada yang perlu disesali, bukan? Semua juga kemauan Won Bin. Yang penting, kita akan membalaskan dendamnya. Demi kawan kita, Won Bin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempatnya berdiri, Jong Hoon membeku. Rupanya Sun Ye tidak hanya menyilet hati Jong Hoon dan menyirami dengan jeruk nipis, tapi cewek itu telah merajamnya hingga hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, kini Jong Hoon benar-benar putus asa, sampai-sampai dia merasa otaknya mengalami kekurangan oksigen untuk berpikir jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon mengepalkan kedua tangan. Dia mengangkat kepala dan memejamkan mata, berharap emosinya bisa mereda dan semua beban bisa terangkat dalam hitungan detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, tentu saja bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitungan menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon hanya tinggal menunggu. Begitu kawanan berandal dan Sun Ye melintas, Jong Hoon buru-buru memasuki toko roti tersebut dan mengawasi mereka sampai menghilang, dari balik pintu kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun Ye, wajar kan kalau aku takut saat menanti waktu untuk mati? Tapi aku sayang kamu. Sungguh, ini tulus…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponsel Jong Hoon bergetar. Inikah saatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Jong Hoon menatap layar ponsel dan melihat nama Sun Ye tertera di sana. Jong Hoon terdiam. Perasaan takut, benci, marah dan kecewa benar-benar telah menyihirnya menjadi seseorang yang mungkin tidak waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa semangat, Jong Hoon mendekatkan ponsel itu ke telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya?” ujar Jong Hoon dengan suara pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jong Hoon?” tanya suara di sana. Suara berat dan serak, namun penuh nada sindiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” lagi-lagi Jong Hoon menjawab singkat. Namun kali ini bernada rendah. Dan dia merasa tidak perlu bertanya karena merasa cukup mengetahui apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuberitau kau. Kekasihmu, Sun Ye…dia sedang ada bersama kami. Dan kalau kau ingin dia selamat, segeralah datang ke blok lima. Sendiri. Ingat, jangan coba-coba meminta bantuan atau Sun Ye-mu akan celaka. Aku ingin membuat perhitungan denganmu. Atas nama Won Bin!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian telepon terputus. Suara pip panjang masih terdengar di telinga Jong Hoon kala dia belum menurunkan ponselnya. Perlahan, tangan Jong Hoon bergerak turun dan ponsel itu terjatuh begitu saja, di depan toko roti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun Ye, karena kamulah, aku memilih jalan ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit tegang, Jong Hoon memasuki sebuah ruangan di blok lima, seperti apa yang dikatakan seseorang di telepon tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan itu cukup luas, namun kotor. Beberapa meja tertata asal dan di atasnya terdapat botol-botol bir. Bau keras alkohol menyapa hidung mancung Jong Hoon. Kedatangan Jong Hoon, langsung mendapat tatapan sinis dari cowok-cowok yang dilihatnya di jalan buntu dekat toko roti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah sana, Sun Ye duduk di atas kursi kayu dengan kedua tangan diikat. Jong Hoon menghela napas diam-diam. Dia tidak bicara sepatah kata. Tidak juga berbasa-basi-memohon pada mereka agar melepaskan Sun Ye. Jong Hoon sangat yakin kalau Sun Ye tidak akan tersakiti. Itu sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon benar-benar tidak mengeluarkan sepatah kata dan hanya mengamati mereka, dari sudut matanya. Dia harus bisa menguasai rasa takutnya untuk mati. Dan dia sedang melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kekasihmu ini…apa lebih baik aku menorehkan luka di wajahnya atau….?” seruan seseorang membuat suasana yang sempat membeku, berubah menjadi tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan…Jangan sentuh dia,” sahut Jong Hoon gamang. Tatapan sulit diartikan, terarah pada Sun Ye yang balas menatapnya dengan pandangan memohon yang –tentu saja- dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cih,” si cowok botak membuang ludah. “Kau akan mati, sialan!” serunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia memberikan tanda pada teman-temannya untuk menyerang Jong Hoon. Kelabakan mendapat serangan mendadak, Jong Hoon sempat terhuyung. Tapi keseimbangannya segera kembali. Dia hendak meninju cowok botak itu, namun tiba-tiba Jong Hoon berhenti dan membiarkan satu pukulan lagi menghantam perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kekuatan Jong Hoon mendadak hilang. Tidak, bukan karena benar-benar hilang, tapi karena Jong Hoon sendiri yang mempersilahkan kekuatannya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon membiarkan kelima cowok itu menyerangnya sekaligus. Jong Hoon juga membiarkan mereka memukulnya dengan kayu atau besi yang ada. Jong Hoon, bahkan membiarkan darah mengalir dari tiap lukanya dan menahan setiap memar yang begitu menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah itu yang kamu mau, Sun Ye? Paling tidak, kalau selama setahun kedekatan kita tidak berarti apa-apa untukmu, tentunya nyawaku ini bisa menjadi sesuatu yang berarti untukmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon jatuh tersungkur. Bibirnya sudah sobek, seluruh tubuhnya pun memar dan mengeluarkan darah. Jong Hoon meringis kesakitan. Tapi ekor matanya masih tetap mengamati Sun Ye. Ternyata cewek itu juga tengah mengawasinya. Namun, tidak ada kepanikan di sana. Ekspresi Sun Ye tampak begitu datar dan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima cowok tadi pun semakin membrutal. Sementara Sun Ye masih tetap diam di tempat, mengawasi namun seolah berpesta atas penderitaan Jong Hoon. Sedangkan Jong Hoon, kali ini mulai meringkuk di atas lantai semen dengan kedua tangan berusaha melindungi kepalanya. Karena, Jong Hoon masih ingin melihat Sun Ye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama, Jong Hoon pun semakin tidak berdaya. Hingga kelima cowok tadi merasa cukup puas melihat Jong Hoon yang sudah kesakitan dengan luka di sekujur tubuh. Mereka menghentikan penganiayaan itu dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai ulu hati Ben. Darah segar langsung mengalir lebih deras di sudut bibir tipisnya yang merah, menyatu dengan kotoran dan keringat yang sudah menghiasi wajah ovalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Jong Hoon merasa tidak puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh di luar dugaan, Jong Hoon merasa masih kuat kalau harus mendapat beberapa pukulan lagi hingga nyawanya melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tenaga yang tersisa, tangan Jong Hoon menjangkau sepatu si cowok botak, yang menjauh hendak melepaskan ikatan Sun Ye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau lakukan?!” bentak si cowok botak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon hanya bisa mendongak, menatap sambil menahan sakit. Tatapan pilu yang seolah menyuruh cowok itu untuk menghabisi nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sungguh ingin mati?!” ujar si cowok botak lagi. Dia lantas melirik ke arah Sun Ye. Cewek itu masih bergeming tanpa ekspresi. “Kau memang gila, tapi temanku bisa membantu menghabisi nyawamu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok botak itu kembali mengajak teman-temannya untuk mengeroyok Jong Hoon. Sekali lagi, tubuh lemah Jong Hoon harus terkena pukulan dan tendangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Sun Ye berdiri. Rupanya ikatan tali itu dibuat sengaja tidak kuat menahan dirinya. “Stop!” jeritnya kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima cowok itu menoleh menatap Sun Ye. Tak terkecuali Jong Hoon, meskipun matanya yang mungkin sudah lebih sipit karena memar dan berdarah, menghalangi pandangannya hingga buram. Sejenak Sun Ye membeku karena tatapan semua orang yang tertuju padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita pergi,” ajak Sun Ye, beberapa detik berikutnya, sambil mengalihkan pandangan dari tatapan Jong Hoon yang begitu memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si cowok botak meludah. Lalu dia bergerak keluar bersama keempat temannya. Terakhir, Sun Ye mengikuti langkah mereka. Namun, ketika melewati Jong Hoon yang terbaring tak berdaya, kaki jenjang Sun Ye mendadak membeku. Sun Ye menoleh sekilas, lalu berlalu seakan acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sun…Ye…” panggil Jong Hoon setengah meringis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun Ye kembali menghentikan langkahnya. Kelima teman premannya juga menoleh, tapi Sun Ye memberi aba-aba supaya mereka pergi lebih dahulu. Sun Ye membalikkan badan. Saat itu, Sun Ye melihat Jong Hoon sedang merangkak dengan susah payah untuk meraih tas selempangnya yang tergeletak di sisi ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Jong Hoon berhasil meraih tasnya, tangan penuh luka itu merogoh saku bagian depan. Sebuah benda berkilauan tampak dari sela jari-jari kotor Jong Hoon. Kemudian, Jong Hoon berusaha untuk menyenderkan tubuhnya ke dinding. Punggungnya sempat terasa nyeri, namun Jong Hoon berusaha bersikap seolah luka-luka di tubuhnya bukanlah masalah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon menatap Sun Ye dengan pandangan sayu yang penuh rasa kekecewaan. Susah payah, Jong Hoon menarik kedua sudut bibirnya hingga menghasilkan sebuah senyum tipis yang tampak begitu suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh…ke sini?” pinta Jong Hoon penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempatnya berdiri, Sun Ye sudah memantapkan hati untuk tidak mendekati Jong Hoon. Tapi siapa sangka syaraf otaknya tidak bisa bekerja sama dengan hatinya. Kaki Sun Ye tetap melangkah mendekati Jong Hoon dan berjongkok di sebelah cowok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada…satu bintang…yang lupa aku…masukan ke…dalam toples…” katanya sambil meringis. Lalu Jong Hoon mengangkat tangan dan melepaskan sesuatu dari dalam genggamannya. Sebuah kalung berbandul bintang warna perak, kini bergelayut pelan di tangan Jong Hoon. “Ini bintang ke-1000. Kalau kamu…tidak keberatan, aku hanya ingin…kamu memakai kalung ini…supaya bintang ini…selalu dekat dengan hatimu…” Jong Hoon masih berusaha tersenyum, namun yang tampak hanyalah segaris senyum getir, yang sedang berjuang menahan seluruh rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata almond Sun Ye menatap kosong kalung di tangan Jong Hoon. Perkataan Jong Hoon yang terbata-bata seolah masuk begitu dalam ke telinganya, hingga terasa bergaung. Dengan perasaan tak menentu dan tangan gemetar, Sun Ye menerima kalung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Hoon menurunkan tangannya dan kemudian berpaling menatap ujung sepatu. Senyumnya masih seperti semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sun Ye, setelah ini…kita tidak perlu bertemu lagi. Akan lebih baik…jika kita…seolah tidak saling mengenal. Aku…akan pergi jauh dari…kehidupanmu. Aku…tidak ingin…membuatmu menjadi pendendam karena…masalah Won Bin. Ini semua…kesalahanku juga kekhilafanku. Maaf,” Jong Hoon berusaha tersenyum lebih lebar, namun yang terjadi malah Jong Hoon meringis kesakitan. Jong Hoon tertawa kecil. Tepatnya memaksakan diri. “Sakit…Sun Ye…maaf karena aku tidak mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kalimat itu, Sun Ye berani bersumpah bahwa itu bukan keinginannya, ketika air mata itu menetes dari kedua matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergi…” ujar Jong Hoon pelan sambil memutar kepalanya menjauhi tatapan Sun Ye. Dia tidak mau melihat air mata cewek itu. “Pergi…Sun Ye…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tak mau, Sun Ye pun berdiri. Sambil tetap menatap Jong Hoon yang terkapar penuh luka, Sun Ye melangkahkan kakinya dengan berat, meninggalkan Jong Hoon sendirian di ruangan pengap tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, Sun Ye… karena aku tidak mati, sesuai dengan keiingananmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelahnya, sebulir air mata Jong Hoon menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---fin---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-9052182654025976041?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/9052182654025976041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/satu-bintang-yang-terlupa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/9052182654025976041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/9052182654025976041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/satu-bintang-yang-terlupa.html' title='Satu Bintang Yang Terlupa (Re-Posting)'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-8479113634926691667</id><published>2009-09-25T21:10:00.001+07:00</published><updated>2009-09-25T21:10:27.068+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Sayonara bag 1</title><content type='html'>By : Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan duduk termenung di meja belajarnya. Beberapa buku pelajaran terbuka lebar di hadapannya, tapi ia sama sekali tidak sedang membacanya. Matanya memandangi foto yang berdiri tegak di sudut meja. Foto itu diambil ketika dia lulus dari SMP, bersama dengan seorang cewek berambut panjang, kira-kira dua tahun yang lalu. Cewek itu tersenyum manis sambil merangkul Ardan, sementara tangan kanannya memamerkan surat tanda kelulusan. Namanya Rianda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek ini adalah sahabat Ardan sejak kecil. Ketemu pertama kali waktu di TK dan sejak itu Ardan selalu mendampingi kemana pun Rianda pergi. Soalnya waktu kecil, Rianda itu suka banget diganggu sama anak-anak bandel yang sering ngumpul di gang deket sekolahnya. Walaupun Ardan waktu itu belum bisa berantem, paling enggak dia bisa bantu teriak-teriak kalo udah kepepet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beranjak remaja, Ardan jadi cowok yang lumayan sering berantem. Banyak yang mencap dia sebagai tukang berkelahi, padahal itu nggak bener. Dia berantem kalo udah bener-bener kepepet aja. Lagipula, biarpun suka berkelahi, Ardan bisa dibilang cowok yang manis, ramah dan suka bercanda, walaupun kadang emosinya nggak bisa terkontrol. Makanya waktu SMP Ardan cuma punya dua temen baik, Rianda dan Dito, yang sampe sekarang menjadi temen deketnya di SMU. Kecuali Rianda. Soalnya ketika masuk SMU, Ardan nggak sanggup masuk SMU negri yang sama kayak Rianda karena NEM-nya jauh di bawah Rianda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya mereka masih mampu membagi waktu untuk saling ketemu di rumah salah satu dari mereka. Biasanya mereka ketemu seminggu sekali. Berbeda dengan sekarang. Setelah Rianda sibuk dengan urusan sekolahnya, waktu ketemu dengan Ardan semakin jarang. Bahkan hampir nggak pernah lagi. Terutama dua bulan belakangan ini. Hal ini yang ngebuat Ardan menjadi kelimpungan. Dia udah berusaha untuk menghubungi Rianda, tapi hasilnya nihil. Otomatis Ardan cuma bisa menunggu Rianda sendiri yang menghubunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok...tok...tok...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu mengagetkan Ardan yang sedang melamun hingga akhirnya ia tersentak kaget. Belum juga disuruh masuk, tiba-tiba pintu terbuka dan munculah seorang cewek mengenakan kaos dan celana pendek. Kulitnya putih, matanya bulat, pendek dan rambutnya dikuncir samping. Dari wajahnya bisa dilihat kalo dia adalah adiknya Ardan. Namanya Gista dan masih duduk di kelas 3 SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, makan malem `dah siap tuh,” ujarnya sambil bersender di pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm...” Ardan berpura-pura sibuk sama buku Sejarahnya, padahal jelas-jelas dia tau kalo besok nggak ada pelajaran sejarah sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang lagi sibuk banget ya?” Gista mendekati Ardan dan mencoba melihat apa yang dikerjakan kakak satu-satunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan langsung menutup bukunya dan nyengir ke arah adiknya itu. Gista memicingkan matanya. Seolah-olah nggak peduli, Ardan malah merapihkan buku-buku yang asal berserakan itu dan kemudian menarik tangan Gista untuk keluar dari kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Ardan nggak bisa tidur. Entah kenapa seharian itu dia kepikiran terus sama Rianda. Baru disadari, betapa rindunya Ardan akan sahabatnya yang satu itu. Perasaan yang sama pun juga dirasakan Rianda, malam itu. Dia merasa bersalah karena selama beberapa minggu belakangan ini nggak pernah menghubungi Ardan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rianda mengatur posisi duduknya di tempat tidur sementara menunggu telpon disambungkan dengan orang di seberang sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ardan!” seru Rianda begitu mendengar suara cowok di sebelah sana. “Ini Rian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rian?! Hai....apa kabar lo?” tanya Ardan dengan nada penuh kerinduan. “Akhirnya bisa nelpon gue juga. Sibuk apa sih? sampe kayak tiba-tiba ilang dari hidup gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngawur banget sih ngomongnya. Gue lagi sibuk latian dance terus nih, soalnya bentar lagi ada Transylvania Cup. Sekolah gue ikutan, sekolah lo ikutan nggak? Kalo nggak dance, basket atau sepak bolanya kek, biar kita bisa ketemuan di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kayaknya enggak deh, soalnya kalo ikutan gue pasti ngeliat anak-anaknya pada latihan. Ngomong-ngomong, kapan nih mau main ke rumah gue lagi? Gista sempet beberapa kali nanyain elo. Dia kira kita udah ‘pisah’.....dasar anak SMP.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehehe....gue masih belom tau nih....susah juga ya kalo beda sekolah, apalagi kita kebiasaan main bareng sama Dito juga. Tapi lo enak Dito masih sama elo, gue? Waktu masuk sini kan bener-bener seorang diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya jangan masuk negri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya elo rajin belajar biar bisa nyaingin nilai gue, terus nemenin gue masuk sekolah yang terkenal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar, nggak mau ngalah....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rianda nyengir dikatain begitu. Dia emang anak yang keras kepala dan susah untuk ngalah. Tapi dibalik itu semua, Rianda adalah seorang yang sabar, tenang dan mudah bergaul. Makanya Ardan yakin kalo Rianda nggak bakalan kesulitan menemukan temen baru di SMU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu SMU Au Revoir, sekolah Ardan kedatangan seorang murid baru. Seorang cewek. Dia emang nggak sekelas sama Ardan, tapi kelasnya ada di sebelah kelas Ardan. Namanya Aninta. Orangnya mungil banget, tampangnya manis, kulitnya putih dan rambutnya agak ikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadirannya nggak cukup menghebohkan soalnya masih banyak cewek yang lebih cantik dari dia. Yah....paling enggak begitulah menurut pendapat anak-anak Au Revoir, yang emang terkenal dengan cewek-ceweknya yang cantik dan juga tajir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu istirahat, Ardan nggak sengaja ngelewatin kelasnya Aninta. Sepi. Hampir semua anak di dalam kelas itu keluar untuk jajan. Soalnya buat anak-anak Au Revoir hari gini nggak jaman kalo harus bawa bekal makanan dari rumah, toh di kantin mereka semuanya udah tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya harga makanan di kantin bisa dibilang cukup mahal, terutama buat seorang Aninta. Makanya, di saat yang lain ada di luar, cewek itu malahan duduk anteng di kursinya di dalam kelas. Sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperhatikannya cewek itu dari balik jendela. Aninta keliatan asik dengan bekal yang dibawanya. Ardan termangu di tempatnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia putuskan untuk pergi ke kantin karena tuntutan perutnya yang kelaparan. Tepat saat itu Aninta menoleh, dan ia mengantar kepergian cowok itu dengan lirikan matanya dan wajah yang penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu terik banget. Tapi itu bukan masalah besar buat anak SMU Au Revoir, soalnya mayoritas dari mereka sudah membawa mobil dan sebagian dijemput sama sopirnya. Walaupun ada beberapa dari mereka yang juga hanya membawa motor. Ardan salah satunya. Dia sih nggak demen bawa mobil soalnya dia itu paling suka sama motor. Liat aja motor Ninja-nya yang selalu mengkilap. Itu menandakan kalo dia sering banget ngelapin tuh motor. Saking sayangnya sama Ninja-nya itu, dia rela nyuci motor itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda sama Dito, temen sekelasnya yang paling demen sama mobil. Buat Dito mobil itu pelengkap seorang cowok kalo mau ngecengin cewek cantik nan bohai. Maklum, Dito itu termasuk cowok yang malang yang sering banget ditolak sama cewek. Bukan karena Dito anak berandalan, tapi karena cewek yang Dito incer selalu yang udah punya gandengan, bahkan lebih tajir dari dia.&lt;br /&gt;Ardan mulai menstarter motornya. Sambil sesekali menggeber gas motornya, dia memakai jaket dan helm. Tapi tiba-tiba ia melepaskan helmnya lagi begitu pandangan matanya jatuh ke seorang cewek yang sedang berjalan sendirian ke arah jalan belakang, jalan kecil yang juga sebenernya merupakan rute pulangnya Ardan. Cewek itu adalah Aninta. Tas selempangnya keliatan berat sekali di badannya yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok itu hanya menatap Aninta dari motornya sampai akhirnya Aninta keluar dari gerbang sekolah dan berbelok di tikungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bengong aja lo!” seru Jason, salah seorang temen sekelasnya yang juga sama-sama bawa motor. “Ngeliatin apa sih? Setan? Mana ada setan tengah hari bolong kayak gini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan hanya tersenyum kecil sambil mengenakan kembali helmnya. Kemudian ia menepuk pundak Jason. “Gue duluan yah. Buru-buru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buru-buru tapi kok sempet bengong,” ujar Jason pada dirinya sendiri karena Ardan telah berbelok di tikungan depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Rianda, orang yang paling sering mengganggu ketenangan Ardan berisitirahat di rumah adalah Dito. Sayangnya setelah beberapa bulan absen mengganggu Ardan, kini dia hadir lagi ke tengah-tengah kamar Ardan yang nggak terlalu luas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila, udah lama nggak main ternyata kamar lo udah banyak dirombak yah?” kata Dito sambil mengamati sekeliling ruangan bernuansa abu-abu itu. Di dindingnya tertempel beberapa poster band-band rock yang cukup ternama. Di seberang tempat tidurnya ada televisi dan meja belajar.&lt;br /&gt;“Nggak banyak kok, cuma ditambah tv aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng....ngomong-ngomong, tadi itu cewek yang pake kaos pink itu siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Lo lupa ingetan ya? Cuma setaon nggak pernah ketemu sama adek gue aja langsung keder sama dia yang sekarang. Itu Gista. Anak yang dulunya lo bilang culun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gista?? Astaganaga.....mimpi apa gue semalem, setaon nggak ketemu, adek lo jadi tambah manis aja. Salah kalo gue bilang dia culun. Ternyata....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? Awas lo macem-macem sama adek gue, gue jadiin bacem lo!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang donk.....eh iya, suruh Rianda ke sini donk, gue dah lama banget kan nggak ketemu sama dia. Gimana kabar tuh anak sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sibuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sewot donk....gue tau lo pasti nggak pengen Rianda jauh dari lo kan makanya lo nggak suka kalo dia sibuk sama ekskulnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan mencibir. “Ngaco!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo masih sering ngumpul sama anak-anak motor lo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Ng....belakangan sih agak jarang. Nggak tau mungkin ntar-ntar kali yah, gue lagi nggak ada mood ngetrack.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ngebut aja kudu ada moodnya,” ujar Dito sambil menyalakan PS sementara Ardan mengganti seragam OSISnya dengan kaos putih polos. Setelah itu keduanya sibuk main game, padahal tadinya mau ngerjain tugas, tapi namanya juga anak cowok, yang penting seneng dulu. Alhasil mereka kelabakan waktu jam udah menunjukkan pukul tujuh malam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-8479113634926691667?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/8479113634926691667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/sayonara-bag-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8479113634926691667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8479113634926691667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/sayonara-bag-1.html' title='Sayonara bag 1'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-158424774918847484</id><published>2009-09-25T21:08:00.001+07:00</published><updated>2009-09-25T21:08:44.462+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Sayonara bag 2</title><content type='html'>Dito lagi jatuh cinta!! Liat aja tampangnya yang senyam-senyum sendiri. Ke kantin sambil senyum, ke toilet juga senyum, bahkan sewaktu dia mendapat angka merah untuk nilai Akuntansinya, dia tetep tersenyum. Aneh? Nggak juga sih, soalnya si Dito ini kalo lagi jatuh cinta emang suka gitu. Sampe ada satu temen kelasnya yang berpendapat kalo otaknya Dito hari itu sedang dipenuhi dengan berbagai adegan mesum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan, yang emang duduk sama Dito jadi pusing ngeliat perbedaan temennya hari itu, tapi ketika ditanya kenapa, Dito hanya menjawab, “Semua karena cinta.” Alhasil Ardan jadi merinding untuk nanya-nanya lagi. Tapi Ardan penasaran banget sama cewek yang ditaksir Dito kali ini. Kayak apa sih cewek itu sampe ngebuat Dito kleper-kleper kayak ikan yang ditaro di daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Dito nggak mau nagsih tau siapa orangnya, tapi ngeliat kegigihan Ardan yang terus mencari tau dengan mencoba menyebutkan nama beberapa cewek yang dikiranya sesuai dengan selera Dito –dimana cewek itu kudu punya bodi bohai bak gitar spanyol, muka mulus, tajir dan hidung mancung kayak Julia Roberts, terserah mau alamiah atau hasil operasi- yang ternyata nggak ada satu pun yang betul. Maka dari itulah akhirnya Dito luluh juga dan mau ngasih tau siapa cewek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo gue kasih tau, elo janji untuk jangan kasih tau siapa-siapa dulu. Gue nggak mau berita ini kesebar terus gue jadi ditanyain sama orang-orang soal kebenerannya.....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berisik lo, jadi intinya cewek itu namanya siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dito memberi tanda ke Ardan untuk mendekat. Ardan pun menurut. Lima detik kemudian, wajahnya langsung dilanda kepanikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?? Gista??? Adek gue satu-satunya akhirnya digebet cuma sama elo??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud lo? Gue aja baru nyadarnya tuh tadi malem, kalo ternyata selama ini orang yang gue idam-idamkan itu adalah Gista. Bisikan hati gue ternyata menuju ke arah Gista. Gimana donk? Namanya juga cinta, kita kan nggak bisa menghindari datangnya cinta....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sok puitis lo. Basi tau!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah, gini aja deh bro. Gue nggak minta macem-macem ama elo, gue cuma pengen elo ngerestuin hubungan gue ama adek lo, kalo udah lo restuin gue kan bisa pedekate dengan tenang. Bisa kan? Plis....demi temanmu yang selalu melajang ini.....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan menoyor kepala Dito dan meninggalkannya sendirian di kantin, sementara dia sendiri, langsung balik ke kelas. Gila juga si Dito berani ngegebet Gista, padahal dulunya dia bilang kalo Gista itu culun karena kaca matanya, tapi semenjak beberapa bulan terakhir ini Gista mencoba memakai kontak lens, penampilannya pun jadi berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruk....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia menabrak seorang cewek yang keliatannya emang lagi buru-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sory, Na.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ardan!!Elo tuh kalo jalan jangan bengong, liat ke depan donk. Ntar kalo lagi jalan di jalan raya lo bisa dicium mobil, mending kalo Mercy, kalo yang nyium bajaj, rugi berat lo.” Protes Nasya, temen sekelasnya yang agak-agak cerewet. Ardan cuma nyengir sebelum akhirnya Nasya pergi sambil tertawa. Nasya orangnya nggak gampang marah, jadi biarpun tadi dia nyerocos kayak lagi ngomel, tapi sebenernya dia itu orangnya ramah dan seneng bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Nasya menjauh, Ardan mendapati Aninta yang lagi menyender di sebuah balkon sedang memperhatikannya, tapi langsung memalingkan muka ketika Ardan tersenyum padanya. Cowok itu menarik napas sebelum akhirnya dia mendekati Aninta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai,” sapa Ardan sambil ikut bersender di balkon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng...hai juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue boleh kenalan nggak? Nama lo siapa sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo, gue Aninta. Biasa dipanggil Ninta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ninta? Yang buat nulis itu yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aninta tertawa kecil. “Itu Tinta.....ngomong-ngomong nama lo siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ardan. Biasanya anak-anak manggil gue kayak gitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang nama aslinya siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ardan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aninta keliatan bingung, tapi akhirnya dia hanya mengangguk. Dalam hati Aninta bersyukur karena pada hari keduanya di sekolah elit itu ia bisa juga mendapatkan seorang teman. Pada awalnya dia takut nggak bisa bergaul dengan anak-anak yang rata-rata borju semua itu. Dia mengira semua orang di sekolah itu nggak akan mau bergaul dengan dirinya yang hanya seorang anak yatim piatu dan bisa masuk sekolah itu karena orangtua asuhnya yang akan menanggung semua biaya sekolahnya sampe ia kuliah nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibilang Aninta adalah anak yang paling beruntung diantara temen-temennya yang ada di asrama, karena cuma dia yang mendapat orangtua asuh yang kaya raya sehingga bisa sekolah di SMU Au Revoir. Walaupun mendapat santunan biaya sekolah, tapi Aninta nggak tinggal satu rumah dengan orang tua asuhnya itu. Mereka bertemu cuma seminggu sekali untuk jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seminggu ini Ardan jadi deket sama Aninta. Mereka sering ke kantin bareng atau ngerjain PR bareng. Kedekatan Ardan dan Aninta agak membuat Dito kesel, soalnya Dito serasa dilupakan. Padahal sih Ardan enggak ada maksud kayak gitu. Ardan tuh bukan tipikal orang yang gampang ngelupain temen lamanya, cuma mungkin kali ini dia lagi ngerasa betah aja deket-deket sama Aninta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ninta....” panggil Ardan. Cewek itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara. “Pulang bareng gue yuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng....nggak usah `Dan, gue udah biasa kok jalan kaki. Lagian nanti gue juga naik bis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Apa karena gue cuma bawa motor sementara yang lain bawa mobil??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan....bukan karna itu, tapi....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aninta terdiam sejenak. Dia berpikir keras apakah dia harus memberi tahu Ardan tentang dirinya? Dia nggak mau Ardan ngejauhin dirinya cuman gara-gara status anak asrama yang nggak punya apa-apa. Tapi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo cerita aja sama gue, ada apa. Gue nggak sama kayak anak-anak yang lain, yang kalo temenan musti liat apa dia anak orang kaya atau bukan. Lagian gue sendiri juga bukan orang kaya, terus ngapain gue harus milih temen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek itu keliatan mau ngucapin sesuatu tapi dipotong sama ajakan Ardan untuk naik motornya dan mencari tempat yang enak buat ngobrol. Aninta nggak bisa menolak lagi, dan akhirnya dia udah duduk di motor di belakang Ardan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berhenti di sebuah taman perumahan yang nggak jauh dari rumah Ardan. Taman itu sering didatenginnya bareng Rianda waktu kecil buat main bareng di sana. Tempatnya enak, banyak pohon yang bikin suasana jadi teduh dan juga banyak berbagai macam permainan untuk anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana siang itu masih agak sepi, soalnya anak-anak kecil yang suka main di situ pastinya lagi asik tidur di rumah masing-masing dan baru keluar ditemenin sama pembantunya yang sekalian mejeng diantara abang-abang, kalo udah sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan dan Aninta duduk di dalam gazebo yang letaknya di tengah taman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue beda sama anak-anak Au Revoir yang lain. Gue bukan orang kaya. Gue juga udah nggak punya orangtua lagi. Sekarang gue tinggal di asrama soalnya sodara gue semuanya di luar kota, dan rata-rata dari mereka juga nggak mampu. Jadi daripada gue jadi beban mereka mending gue tetep di Jakarta dan nyari tempat tinggal yang layak buat gue. Untungnya gue bisa tinggal di asrama. Setaon yang lalu gue sempet disekolahin ke SMU negri yang kualitasnya nggak bagus. Gue nggak bisa berbuat apa-apa, toh itu pun gue juga dibayarin. Sampe akhirnya beberapa bulan yang lalu ada orangtua yang pengen ngadopsi anak kecil. Tapi nggak tau kenapa, mereka akhirnya mau jadi orangtua asuh gue, padahal mereka udah dapetin anak angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka orang kaya. Dan atas bantuan mereka juga akhirnya gue bisa sekolah di Au Revoir, bener-bener di luar dugaan dan bayangan gue. Temen-temen satu kelas gue tau kalo gue anak asuh, soalnya guru yang waktu itu nganterin gue ke kelas 11.4 bilang sama anak-anak satu kelas kalo gue itu anak asuh yang bisa masuk ke sekolah itu atas bantuan orang lain. Makanya gue menutup diri sama mereka, karna gue takut anak-anak pada ngejelek-jelekin gue. Dan karna itu juga sebenernya gue takut ngasih tau ke elo, gue takut elo bakal nggak mau temenan lagi sama gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo salah Nin. Gue bukan orang yang kayak gitu. Gue nggak peduli lo anak siapa, gimana cara bisa masuk Au Revoir, atau punya uang berapa. Itu nggak penting.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aninta menarik napas lega. “Syukur deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenernya gue udah merhatiin elo dari awal,” ujar Ardan sambil membetulkan posisi duduknya. Sekarang kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara ia bersender pada sebuah bangku dan kaki kanannya diangkat. Aninta terperanjat. “Awalnya gue cuma bingung kenapa elo sendirian, padahal gue nggak pernah liat ada anak baru yang sekolah di Au Revoir yang sendirian pas istirahat apalagi pulang jalan kaki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi sekarang elo nggak bingung lagi kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah....tapi gue yakin, kalo elo coba untuk terbuka sama mereka, nggak mikirin status lo, mungkin aja mereka masih ada yang mau main sama elo. Gue....dulunya orang yang tertutup banget. Semua itu karna gue dapet cap sebagai anak yang suka berantem. Tapi gue sadar, gue nggak bisa begitu selamanya. Gue nggak mau cuma punya dua temen seumur hidup gue. Jadi gue berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue berusaha untuk jadi orang yang lebih ramah dan yang penting terbuka sama orang lain, nggak peduli mereka tau masa lalu gue atau enggak. Tadinya gue juga sempet pesimis, tapi setelah gue coba.....gue berhasil. Sekarang gue nggak kayak dulu lagi. Gue sekarang lebih terbuka sama orang, makanya temen gue cukup banyak dibanding waktu gue SMP.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa di SMP lo nggak punya temen sama sekali?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan menggelengkan kepala kuat-kuat. “Nggak. Gue punya dua sahabat sekarang. Yang satu sahabat dari kecil. Yang satu lagi Dito. Mereka yang ngebuka mata gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sahabat dari kecil? Cewek apa cowok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan tertawa kecil. “Cewek, namanya Rianda. Sampe sekarang kita masih sahabatan, cuma jarang contact aja. Maklum dia lagi sibuk berat sama urusan ekskulnya. Tapi gue percaya dia bisa jaga dirinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oooo...” Aninta mengangguk sambil senyum-senyum. Ada satu hal yang bisa dia ambil dari percakapan panjangnya dengan Ardan siang itu. Keyakinan diri untuk berubah. Mungkin selama ini Aninta terlalu takut akan diejek dengan statusnya itu, karena itu ia bertekad mulai besok nggak akan pernah memikirkan soal statusnya lagi. Dia bakal berusaha untuk bisa membuka diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nin....” panggil Ardan perlahan tanpa menatap wajah cewek di sebelahnya. “Gue liat lo anaknya baik, kalo.....gue minta lo jadi pacar gue mau nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aninta tercengang. Dalam hati, Ardan pun bingung dengan apa yang sudah ia ucapkan. Kenapa dia bisa melontarkan pernyataan sulit semacam itu dengan mudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo...elo serius `Dan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan mengangguk pelan. “Elo mau nggak?”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-158424774918847484?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/158424774918847484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/sayonara-bag-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/158424774918847484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/158424774918847484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/sayonara-bag-2.html' title='Sayonara bag 2'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-235030389502572481</id><published>2009-09-25T21:07:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T21:08:13.674+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Sayonara bag 3</title><content type='html'>“Cie....yang besok tambah tua....” ledek Gista begitu masuk ke kamar kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan yang lagi asik nonton tv langsung menoleh kaget. Kemudian gadis kecil itu duduk di sebelah Ardan dengan posisi bersila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana? Udah mau 19 tahun masa belum punya cewek juga? Apa mau sama Kak Rianda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rianda diharepin. Tuh anak udah sibuk ama urusannya, jadi udah lupa sama gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, berarti pendapatku bener donk, kalo Mas sama Kak Rian udah pisah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan melirik Gista. “Denger ya anak SMP....Gue itu sama Rian temenan. Kalo pisah berarti orang itu pernah pacaran. Gue kan sama sekali nggak punya hubungan lebih sama Rianda. Cuma temen. Tau kan?! Sahabat....sahabat....Dan sahabat itu nggak mungkin bisa dipisahin segampang itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus buat nemenin Mas pas ulang tahun besok siapa donk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng.....elo aja deh, mau nggak? Ntar dapet first cake dari gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ogah. Aku maunya dapet first cake dari gebetan aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih kecil udah suka-sukaan. Lagian first cake dari mana wong kue tartnya aja nggak akan dibeli. Emang pernah gue ultah dirayain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gista mencibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi......” ujar Ardan mulai keliatan seriusnya. “Gue sebenernya baru aja nembak cewek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beneran Mas? Terus gimana? Diterima nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diterima donk, Ardan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Norak. Kalo gitu kenalin cewek Mas ke aku donk.....aku jadi pengen juga nih punya pacar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengen punya pacar? Sama Dito gih....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Dito?? Nggak salah tuh??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lah, emang kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak kok, Kak Dito lumayan cakep juga....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar anak kecil.....Dito bilang dia tuh suka sama elo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa sih???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan tertawa ngeliat reaksi Gista begitu dikasih tau soal Dito. Cewek itu keliatan kegeeran.&lt;br /&gt;“Malam ini....elo mau nemenin gue tidur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iih...Mas Ardan kok kayak anak kecil. Biasanya kalo aku masuk kamar, duduk di kasur aja nggak boleh.....eh....sekarang ngajakin aku tidur bareng, Mas Ardan lagi kenapa sih? Sakit ya? Aku bilang sama Ayah-Ibu ya, biar diperiksa dokter aja....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, gue nggak sakit. Gue juga nggak tau kenapa, tapi lagi pengen aja....Mau nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau, mau, mau....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gista langsung mengambil posisi tidur yang paling PW. Sementara Ardan mengamati gerak-gerik adiknya itu sambil tersenyum kecil. Nanti malam jam 12 tepatnya, ia akan berusia 19 tahun. Hal yang paling ditunggunya malam itu adalah telpon dari Rianda, yang dengan suara khasnya akan mengucapkan Selamat Ulang Tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Rianda baru aja pulang dari acara Transylvania Cup sekitar jam 9 malam. Badannya pegel-pegel banget dan rasanya mata udah nggak bisa dibuka lagi. Makanya ia cepat-cepat membersihkan diri dan kemudian ia siap-siap tidur, soalnya besok harus bangun pagi dan mulai menghabiskan hari minggunya dengan mengerjakan tugas yang udah menumpuk banget.&lt;br /&gt;Jam 12 malem....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan memandangi handphonenya yang ada di tempat tidur sementara adiknya udah tertidur pulas dengan posisi meringkuk kedinginan karna AC. Dia sengaja nggak tidur karena menunggu telpon dari Rianda. Lagian besok juga hari minggu, jadi bangun agak siangan nggak jadi masalah, toh dia juga palingan cuma jalan ke mal bentar buat ntarktir Rianda, Aninta sama Dito, selebihnya dia bakalan di rumah terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah lewat lima menit, tapi Ardan masih menuggunya. Dia bener-bener menaruh harapan besar sama Rianda. Lima belas menit pun dilaluinya dengan melamun, dan tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ardan langsung mengangkatnya tanpa memperhatikan tulisan di layarnya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Happy Birthday Ardan.....” ujar Dito. Ternyata itu bukan telpon dari Rianda. Ardan pun langsung lemes seketika. “Pasti gue jadi orang kedua lagi yang ngucapin selamat ke elo. Ya nggak? Kenapa sih gue selalu keduluan terus sama Rianda. Tuh anak sengaja nggak tidur cuma buat elo ya `Dan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, lo jadi orang pertama malam ini. Rianda nggak nelpon gue juga sampe sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“APA?? Yang bener lo? Tapi....mungkin dia ketiduran kali `Dan, kata lo kan dia lagi banyak kegiatan, mungkin besok pagi dia baru bisa telpon elo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin.” Ardan berkata lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rianda telat ngucapin aja itu udah bikin dia kecewa, karena selama dia berulang tahun, Rianda selalu menelponnya jam 12 malam dan mengucapkan Happy Birhtday. Besok pagi? Itu mah udah nggak spesial, batin Ardan. Kemudian, mengikuti saran Dito, dia pun akhirnya bersiap-siap tidur. Berharap ketika dia bangun ada sesuatu yang akan membuatnya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan akhirnya merayakan ultahnya itu dengan mengajak makan Aninta dan Dito. Cowok itu kaget banget waktu Ardan menceritakan hubungannya dengan Aninta yang sekarang udah resmi pacaran. Awalnya Dito menganggap Ardan lagi bercanda, tapi melihat keseriusan di wajah Ardan, Dito langsung setengah percaya. Dito nggak bisa percaya sepenuhnya kalo Ardan suka sama Aninta, yang bener-bener baru dikenalnya beberapa minggu aja. Dari awal Dito selalu menganggap kalo Ardan tuh sukanya cuma sama Rianda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi wajah Ardan langsung berubah setiap Dito nggak sengaja melontarkan nama Rianda. Dito sadar kalo Ardan udah kecewa sama sikap Rianda. Dia pun hampir nggak mempercayainya kalo ternyata Rianda bisa-bisanya lupa sama hari ulang tahun Ardan, sahabatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari udah hampir sore, Rianda yang masih terbenam di dalam tumpukkan PRnya tiba-tiba mengernyitkan dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun.....Bodohnya Rianda!!!” ujarnya memaki diri sendiri. “Ini hari kan Ardan ulang tahun. Bego....kenapa gue bisa lupa begini yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia meraih handphonenya dan mulai memasukkan nomor Ardan. Telpon tersambung. Rianda menunggu telpon diangkat dengan perasaan deg-degan. Dia merasa bersalah banget udah lupa sama ultah sahabatnya sendiri, dan dia yakin Ardan pasti marah dan kecewa banget sama sikapnya itu. Lama Rianda menunggu, akhirnya telpon itu diangkat juga. Nggak ada suara yang terdengar, makanya Rianda memberanikan diri untuk membuka percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A, Ardan ya?” tanyanya takut-takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” suaranya jutek banget. Di belakangnya terdengar suara bising khas mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha, Happy Birhtday ya....” suara Rianda kagok soalnya dia tau nada bicara Ardan hari itu beda kayak biasanya. Cowok itu sedang menahan kekesalan terhadap dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O,iya. Gue ulang tahun ya?!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sory `Dan....gue semalem ketiduran, soalnya gue capek banget. Abis Transylvania Cup. Elo...marah ya sama gue?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo gue nggak marah, itu namanya gue bohong sama diri gue sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sory `Dan, gue bener-bener minta maaf banget sama elo. Elo mau maafin gue?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rianda mendengar Ardan mendengus. “Gue udah kecewa sama elo, tapi....gue juga nggak bisa nggak maafin elo. Nggak tau kenapa, gue emang harus maafin elo. Yah...walaupun nggak gampang untuk ngelupain kalo elo udah ngecewain gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ardan....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rian, elo bisa ke mall nggak? Gue mau ntraktir elo makan nih, sekalian gue ngenalin elo ke pacar pertama gue. Dito juga ada di sini, dia juga pengen kan ketemu sama elo. Bisa kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rianda akhirnya menyanggupi permintaan Ardan. Dengan segera dia berangkat menuju mall yang dimaksud dan janjian untuk ketemuan di food court. Di sana Rianda dikenalin sama Aninta, yang merupakan pacar pertama Ardan. Entah kenapa ada perasaan aneh yang nggak bisa dijelaskan saat Rianda berkenalan dengan Aninta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Dito keliatan seneng banget bisa kangen-kangenan sama Rianda, yang emang udah jarang banget ngumpul bareng mereka sejak mereka masuk SMU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak malem, keempat anak itu pulang. Rianda yang bawa mobil sendiri, berpisah dengan tiga anak yang lain di tempat parkir. Dito, Ardan dan Aninta naik mobil Dito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan pulang, Rianda agak gelisah. Dia masih merasa kalo Ardan nggak sepenuhnya udah maafin dia, walaupun tadi selama bareng-bareng Ardan masih mau ketawa dan bicara sama dia. Tapi....ah, mungkin itu cuma pikiran gue aja kali, batin Rianda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau ke mana `Dan?” tanya ibunya ketika melihat Ardan mengeluarkan motornya tengah malem. “Udah malem gini masih mau pergi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku nggak enak sama anak-anak motor, udah janji kalo ultah mau ngumpul-ngumpul sama mereka. Kan aku udah lama nggak ke sana lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok kamu kan sekolah, ntar kalo besok sakit gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya enggaklah, aku udah biasa kayak gini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah. Hati-hati di jalan aja ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan pun langsung melaju menuju daerah tongkrongan anak-anak motornya di daerah Jakarta Selatan. Mereka semua keliatan seneng banget dengan kedatangan Ardan yang udah lama banget nggak pernah ngumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah tambah tua nih sekarang,” ledek Broto, salah satu mekanik motor-motor mereka, sambil mengutak-atik motor di depannya. Ardan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngerakit yang baru lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya nih, buat diturunin minggu depan, tapi mesti di tes dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang ngetes?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tau, belom ada orangnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue aja deh.” Ardan menawarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo yakin? Ini masih agak-agak bahaya sih, tapi....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sampe ntar gue berubah pikiran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Broto tertawa sebentar kemudian kembali konsen dengan pekerjaannya. Sementara Ardan menunggu, dia bercanda-canda dengan anak-anak yang lain. Setengah jam selanjutnya, Ardan udah bersiap di garis start dengan motor tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya udah siap dan begitu aba-aba mulai dibunyikan, semua motor itu melaju dengan kencangnya. Bising banget, tapi buat mereka itu adalah hal yang biasa. Sebagian motor yang nggak ikut ngebut kebagian menjaga setiap ada per-empatan untuk mencegah adanya motor tak dikenal melintasi daerah ‘sirkuit’ dadakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan menikmati angin malam dari motornya. Dia merasa suatu kenikmatan yang udah jarang dia rasain. Kalo dulu hampir tiap minggu dia bisa menikmati itu, tapi setahun belakangan emang dia jarang banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang berteriak ke arah Ardan untuk menambah kecepatan motor. Dan Ardan mengikuti saran itu. Dia menarik kopling dan menekan perseneling. Ardan pun merasakan motornya semakin cepat melaju, tapi tiba-tiba Ardan merasakan sesuatu yang aneh pada motor yang dikendarainya itu. Ketika Ardan mau memperlambat laju motornya, ia sudah terlambat. Motor itu oleng dan kemudian langsung meleset begitu saja, membuat Ardan terlempar beberapa meter, sementara motor itu terus bergesekan dengan aspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua langsung berhenti. Sebagian orang menghampiri Ardan yang udah terkapar penuh darah. Sebagian lagi berusaha untuk menghubungi ambulance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo nggak apa-apa `Dan?” tanya seseorang dari kerumunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak. Gue nggak apa-apa. Motornya coba di cek ulang, ada yang nggak beres,” Ardan masih sempet-sempetnya memikirkan motor sementara tubuhnya sendiri udah lunglai tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian ambulance dateng. Ardan pun segera dilarikan ke rumah sakit. Broto langsung menghubungi Dito, temen baiknya Ardan. Dia kenal Dito soalnya anak itu pernah diajak ke bengkelnya Broto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rianda tiba-tiba merasakan napasnya sesak. Gelas yang ada di tangannya terjatuh tanpa ia sadari. Andari, kakaknya yang emang belum tidur, langsung panik dan menghampirirnya. Akhirnya karena Rianda nggak bisa tidur juga, dia pun memutuskan untuk ngobrol-ngobrol sama Andari di ruang keluarga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-235030389502572481?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/235030389502572481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/sayonara-bag-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/235030389502572481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/235030389502572481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/sayonara-bag-3.html' title='Sayonara bag 3'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-464744855842600612</id><published>2009-09-25T21:05:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T21:07:40.667+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Sayonara bag 4 -TAMAT-</title><content type='html'>Orangtua Ardan, Gista, Aninta dan Dito dateng ke rumah sakit satu jam kemudian. Ibunya Ardan yang paling stres karena tadi dia udah mengijinkan anak laki-lakinya itu untuk keluar malam. Seandainya dia nggak ngijinin mungkin kecelakaan itu nggak akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aninta dan Gista ada di pojokan sedang menangis berdua. Sedangkan Dito berusaha untuk menghubungi Rianda. Cewek itu langsung shock mendapat kabar tentang kecelakaan Ardan dan dengan diantar kakaknya, mereka langsung menuju rumah sakit. Beberapa anak motor temen Ardan yang menunggu di sana, bergabung dengan Dito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang UGD belum terbuka juga. Ayah-Ibu Ardan, Broto dan yang lainnya, Dito, Andari, Rianda, Gista dan Aninta keliatan nggak sabar menunggu dokter yang menanganinya keluar ruangan. Ya, mereka semua cemas dengan keadaan Ardan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setengah jam menunggu, akhirnya lampu UGD padam. Dokternya pun segera keluar dan langsung disambut dengan penuh harap oleh semua orang yang ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng....sampai saat ini dia masih bisa sadar, walaupun kritis. Tapi dari tadi dia terus menyebut-nyebut nama Rianda. Kayaknya dia pengen banget ketemu sama Rianda,” ujar Dokter itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aninta kaget,tapi kemudian dia keliatan pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama saya Dok?” tanya Rianda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, saya ijinkan buat yang berkepentingan untuk masuk menjenguk, tapi jangan lama-lama. Pasien masih dalam keadaan kritis. Permisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter itu pun pergi. Rianda, Aninta, Dito, Gista dan nggak ketinggalan orangtua Ardan langsung mesuk tanpa disuruh dua kali. Keadaan Ardan menyedihkan. Banyak selang di sana-sini. Semuanya keliatan membuat Ardan menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rianda....” rintihnya dalam suara yang nyaris nggak kedengeran. Cewek itu langsung mendekat. Mata Ardan terbuka. Dia menatap Rianda. Lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue nggak punya banyak waktu. Gue harus bilang semuanya ke elo. Sejujurnya....gue sayang banget.....sama elo. Gue.....sayang sama elo.....lebih dari....sahabat.....gue....cinta sama elo, Nda. Selama ini....gue udah berusaha untuk ngilangin perasaan itu....dari hati gue, tapi gue nggak bisa. Semakin gue pengen ngilangin elo dari hidup gue, semakin gue inget sama elo. Maafin gue, Nda....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aninta yang mendengar itu tersentak kaget. Rianda pun nggak kalah kagetnya. Ardan sadar kalo dia udah membohongi Aninta, makanya dia beralih ke cewek yang ada di sebelah Dito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nin....sory, gue nggak bermaksud boongin elo. Jujur gue suka kok sama elo, gue suka ngeliat elo kalo lagi tersenyum, tapi gue suka elo sebagai temen. Gue pengen elo semangat.....inget ucapan gue yang waktu itu. Ok?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aninta mengangguk sambil menahan tangis. Tanpa disadari, dua bulir airmatanya jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah-Ibu, aku minta maaf kalo aku banyak salah sama kalian. Aku tau aku suka keras kepala, tapi sebenernya aku sayang banget sama kalian. Gista....elo kalo nggak ada gue, bakal bisa tidur di kamar gue terus, main di kasur gue, sesuka lo. Enak kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak!! Mending aku nggak usah main di kamar Mas, yang penting Mas bisa pulang lagi ke rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan berusaha memamerkan senyuman termanisnya dengan susah payah. “Nggak ada gue, masih ada Dito.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dito yang dari tadi terdiam mengamati kejadian di depannya itu terperanjat kaget begitu namanya disebutkan. “Gu,gue?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, lo nggak boleh macem-macem sama Gista, dia itu adek kesayangan gue satu-satunya.”&lt;br /&gt;Dito hanya mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rianda,” Ardan beralih ke Rianda sekarang.&lt;br /&gt;“Pertanyaan terakhir gue buat elo....” Dengan susah payah Ardan mengangkat tangannya, berusaha untuk bisa memegang wajah Rianda. Cewek itu bisa merasakan dinginnya tangan Ardan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo jangan ngomong kayak gitu donk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo mau nggak jadi.....cewek gue?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Ardan terjatuh lunglai. Matanya tertutup dan ada air yang menetes di sudut matanya. Monitor yang memantau detak jantungnya kini telah membuat garis lurus panjang, yang menandakan kalau jantung Ardan udah nggak berfungsi lagi. Dia meninggal saat itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rianda termangu. Tatapannya kosong. Dadanya terasa sesak. Tanpa disadari, air matanya jatuh saat itu juga, sementara tangis dari yang lainnya makin kuat. Digenggamnya tangan Ardan dengan lembutnya. Kemudian ia berbisik tertahan di telinga Ardan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue...mau jadi....cewek lo, Ardan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaman jenazah Ardan berjalan dengan lancar. Tanpa panas dan tanpa hujan. Setelah upacara selesai, orang-orang mulai meninggalkan tempat itu. Termasuk Ibunya Ardan yang keliatan berat hati saat meninggalkan kuburan anaknya itu, tapi dia mencoba pasrah untuk menerima takdir yang udah digariskan. Dia bersama suaminya pulang terlebih dulu, karena Gista masih pengen berada di kuburan itu lebih lama, bersama teman-teman kakaknya. Ibunya pun nggak bisa menolak karena Dito janji mau mengantar Gista pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya gue nggak ngijinin Ardan naik motor itu,” Broto membuka percakapan diantara mereka yang sedang terdiam memandangi gundukan tanah di hadapannya. Rianda melirik Broto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ardan itu kan suka banget sama balapan. Kalo ini bukan takdir, dia pasti masih baik-baik aja. Jadi ini bukan salah lo. Ardan cerita kok sama gue, kalo balapan itu emang selalu ada resikonya. Karna dia udah siap dengan segala resikonya itu makanya dia ngejalanin itu semua dengan senang,” ujar Rianda panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aninta memandang Rianda. Cewek itu emang pantes disukain sama Ardan, batinnya. Dia banyak ngerti soal Ardan, nggak kayak dirinya yang emang baru beberapa minggu mengenal Ardan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dito menghela nafas, memecah keheningan. “Rian, Ninta, pulang yuk. Gue juga kan musti nganterin Gista dulu. Abis itu gue baru nganterin lo-lo pada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rianda bangkit berdiri. Dihapusnya air mata yang jatuh di pipi dengan punggung tangannya. “Istirahat yang tenang ya `Dan. Gue nggak bakal pernah ngelupain elo karena udah menjadi sahabat terbaik buat gue dan sampe kapan pun elo tetep menjadi sahabat terbaik gue. Kenangan sama elo bakal gue simpan di hati gue, untuk selamanya,” ujar Rianda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue juga `Dan. Gue seneng banget udah bisa jadi sohib lo selama ini. Sebagai gantinya, gue bakal nyayangin Gista kayak elo sayang sama dia. Elo jangan khawatir, gue nggak akan ngecewain Gista,” tambah Dito sambil merangkul pundak Gista. “Elo bisa percaya sama gue kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ardan..... Gue merasa beruntung banget bisa kenal sama elo. Gue nggak akan lupa sama elo, juga sama semua nasehat yang udah lo kasih ke gue. Gue bakal berusaha untuk jadi Aninta yang bisa terbuka sama orang. Gue janji,” kata Aninta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“`Dan, motor itu nggak akan gue benerin dan nggak akan gue buang. Supaya semua anak motor bisa ngenang elo,” ujar Broto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Ardan, Gista sayang sama Mas.....Setelah ini Gista janji bakalan jadi anak yang baik, nggak akan nyusahin ayah sama ibu. Gista juga bakalan jaga kamar Mas supaya tetep rapih, tapi....Gista boleh kan tidur di sana dan main di sana lagi??.....Makasih ya Mas. Gista pulang dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kelima anak itu segera meninggalkan tempat tersebut dalam hening. Masing-masing punya kenangan tersendiri bersama Ardan yang akan diingat untuk selamanya. Mereka merasa beruntung karena ditakdirkan untuk bisa mengenal Ardan, walaupun mungkin hanya sebagiannya saja. Tapi, sampai kapan pun Ardan akan selalu menjadi sahabat terbaik mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-464744855842600612?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/464744855842600612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/sayonara-bag-4.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/464744855842600612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/464744855842600612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/sayonara-bag-4.html' title='Sayonara bag 4 -TAMAT-'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-1096153692938710935</id><published>2009-09-25T21:03:00.001+07:00</published><updated>2009-09-25T21:03:54.501+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percikan kisah'/><title type='text'>Kasih</title><content type='html'>By : Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kisah itu, kasih...berangsur pudar, menguap menjadi tak berwarna. Tak ada lagi kelembutan, karena pasir itu telah kamu genggam dengan sekuat tenaga. Kamu membiarkannya tumpah, berserakan, hingga tak satu pun tersisa untuk dirasa. Untuk dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih, kisahmu, saya tahu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan dengan kekuatan, bukan dengan paksaan, untuk bisa membangun saya untuk berada disebelahmu. Ketika saya memilih untuk menghindar, bukan saya tidak memiliki indahnya kisah itu. Bukan saya melupakannya. Bukan pula tanda selamat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih, bisakah kita menjadi satu kesatuan yang utuh, tanpa ketidakiklasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih, biarkan saya yang menemani langkahmu. Dalam doa. Dalam bayangan. Dalam keremangan. Juga dalam kesendirian. Untuk dirimu, selamanya, tanpa pernah kamu harus tahu. Karena...saya masih tidak kuat berada dalam genggamanmu yang begitu penuh tenaga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-1096153692938710935?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/1096153692938710935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/kasih.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1096153692938710935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1096153692938710935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/kasih.html' title='Kasih'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-1254587417190498713</id><published>2009-09-25T21:02:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T21:06:56.900+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percikan kisah'/><title type='text'>Gelas itu Pecah</title><content type='html'>By : Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah sosok Ibu yang kuat. Bukan berotot seperti Xena, bukan bertubuh besar layaknya raksasa, bukan juga bertenaga baja bak petinju profesional. Dia, hanya wanita biasa, dengan raut wajah tua yang tersenyum kuyu. Saya selalu melihatnya berdiri tegap, tampak kokoh meski sebenarnya dia letih. Dan bahkan untuk semua itu, dia tidak pernah meminta imbalan. Jangankan imbalan, semua perhatiannya sudah tersita untuk anak-anaknya dan juga keluarga. Tidak ada waktu untuk memikirkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pejuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadangkala, sesuatu datang tak terduga. Bagai hujan di tengah musim kemarau. Semua tau, itulah kehidupan. Selalu ada sebuah kejutan di tengah badai pengalaman yang menghadang. Namun selalu ada pelampung untuk itu. Ya, semua orang meyakini itu. Meski saya terkadang ragu. Lihat saja wajah Ibu tua itu. Wajah letihnya, yang terkadang menghadirkan tawa renyah yang menyenangkan, kini tengah tersapu kelabu. Bukan berarti tawa itu hilang, hanya saja bukan berasal dari hatinya. Dia hanya memikirkan kebahagiian orang di sekitarnya. Hingga terpaksa sekuat sisa tenaga untuk bersikap palsu pada seklilingnya. Mengenakan topeng seseorang yang tersenyum lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mata itu tak tertutup topeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata itu berbicara, Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatanmu sudah habis. Dan saya tau, kau hanyalah manusia biasa. Wanita biasa dengan ketegaran yang luar biasa. Dengan tubuh mungilmu yang mulai linu dimakan usia, kau bertahan begitu hebat. Selayaknya batu karang yang diterjang ombak. Namun, kini batu karang itu mulai keropos. Yah, sudah termakan usia. Dan kau, sudah berusaha segenap jiwa dan kemampuanmu. Saya tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petir itu datang, kilat itu menyambar, dan rodamu kini berada di bawah. Ada ujian yang harus kau lakukan. Ada ujian yang akan mengukuhkan kekuatan hatimu. Ada ujian yang harus membutuhkan air mata dan pengorbanan. Saya tau, kau akan sanggup melewatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau adalah wanita perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu, tampak begitu indah. Bagai kristal yang murni, bagai gelas bening berkilau. Tetapi kini gelas itu telah pecah. Saya tau, kau pun juga rapuh. Maka...menangislah. Saat suara hatimu meraung keluar, saya tau kau pun akan merasa lebih ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu...tak apa jikalau gelas itu pecah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-1254587417190498713?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/1254587417190498713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/gelas-itu-pecah.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1254587417190498713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/1254587417190498713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/gelas-itu-pecah.html' title='Gelas itu Pecah'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-4110495086517512525</id><published>2009-09-25T21:01:00.001+07:00</published><updated>2009-09-25T21:07:19.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percikan kisah'/><title type='text'>Kisah Burung Bangau Kertas</title><content type='html'>By : Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tau bahwa burung bangau itu hanya terbentuk dari lipatan kertas. Tapi dia begitu menyayangi rangkaian kertas tersebut. Dia, seorang remaja laki-laki, yang percaya bahwa aka nada keberuntungan dari burung-burung bangau buatan tangannya. Tidak peduli meski hanya terbentuk dari lipatan kertas bekas atau kertas koran yang tak terpakai, yang mungkin dibuang oleh seseorang karena sudah selesai dibaca. Dia tau burung bangaunya tidak indah, tapi dia percaya hasilnya tidak akan mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lipatan burung bangau itu sudah berjumlah sembilan puluhan. Dengan penuh kasih sayang dia menyimpannya di dalam sebuah kardus bekas dan dia letakkan di atas lemari usang yang menjadi satu-satunya tempat penyimpanan pakaian di dalam rumahnya yang sudah bobrok. Yang dihuninya bersama seorang adik perempuannya, yang sangat berharap bisa merasakan nikmatnya sebuah roti isi coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya kalau membuat seribu burung bangau permintaan bisa terkabul loh,” kata sang kakak. Anak perempuan kecil itu hanya mengangguk-angguk, paham. “Kamu harus percaya. Meski masih jauh dari seribu, kamu harus percaya kalo nanti kita bisa buat sampe seribu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang adik yang berambut pendek dan kusam, karena sering terjemur matahari namun jarang sekali dicuci, selalu menatap kakaknya yang sudah beranjak remaja itu tetapi masih dengan setia melipati setiap kertas yang dia potong-potong menjadi bentuk dadu, sehingga membentuk sebuah bentuk menyerupai burung bangau. Adiknya pun selalu menyukai setiap bentuk burung bangau yang dihasilkan oleh kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau bantu, Kak. Ajarin aku buat burung bangau itu.” Pinta sang adik suatu hari. Dengan sabar, kakaknya pun mengajari langkah-langkah melipat burung bangau yang sedikit sulit itu. Namun dia tak pernah mengeluh. Sesulit apa pun, dia tau adiknya pasti bisa. Dia percaya. Dan dia benar. Sang adik pun bisa melakukannya. Hingga keseratus burung bangau akhirnya terkumpul di dalam kardus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, seorang dari kawan adiknya melihat keseratus burung bangau itu. Dia begitu tertarik, meski burung-burung kertas itu hampir keseluruhannya hanya berwarna hitam putih dengan tulisan-tulisan mesin menghiasi seluruh bagiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau semua burung-burung kertas itu,” katanya suatu saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kakak beradik itu saling menoleh, agak tidak rela karena kesemua burung kertas itu adalah hasil jerih payah keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau kita tuker. Aku kasih roti coklat ini dan kalian kasih burung-burung itu padaku,” tawarnya pada akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada binar-binar yang menunjukkan kalau sang adik tergiur oleh tawaran kawannya itu. Sang kakak memperhatikan, dia ingin membiarkan sang adik yang memberikan keputusan. Dia hanya menggeleng, menyerahkan semua jawaban, ketika sang adik menoleh berharap akan bantuan dari kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang adik menatap sekardus burung kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sadar, keringat dan kerja keras yang harus dibayar ketika membuat burung-burung kertas tersebut. Mungkin burung-burung jelek itu tidak memiliki nominal harga yang mampu membuat mereka bertahan hidup dengan perut kenyang, namun sang adik tau, burung-burung itu yang membuat dia dan sang kakak bisa melewati hari mereka dengan menahan lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia tau, betapa berharganya burung kertas tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-4110495086517512525?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/4110495086517512525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/kisah-burung-bangau-kertas.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/4110495086517512525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/4110495086517512525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/kisah-burung-bangau-kertas.html' title='Kisah Burung Bangau Kertas'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-7309223643864986843</id><published>2009-09-25T20:59:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T21:00:26.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percikan kisah'/><title type='text'>Final in Eden</title><content type='html'>By: Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derap langkah berat itu berdengung ke telingaku. Kulirik sebuah jam tangan kulit berwarna coklat yang kini melingkar di ujung lenganku yang kurus. Pukul lima sore, lebih sedikit. Ia terlambat datang. Lebih dari sepuluh menit yang lalu, kami berjanji bertemu di tempat ini. Di tempat berpijak yang berlapis dengan rumput kering, dedaunan yang rontok dan juga ilalang yang tumbuh di sela-sela akar pohon besar yang menudungi tempat tersebut. Eden kami. Tempat dimana kami merasa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia muncul dengan raut wajah yang tidak seperti biasa. Meski dengan langkah tenang, namun matanya jelas tidak menyiratkan perasaan tersebut. Ada yang membebani pikirannya, aku tau itu. Tapi aku tidak bertanya. Aku hanya memikirkannya dalam benakku sendiri, memiringkan kepala, sebagai ganti dari pertanyaan yang ingin aku utarakan. Aku tidak berani bersuara. Ia pria tegas. Dan aku tau ia akan bicara hanya dengan menatap isyarat kecil dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak langsung duduk di sebelahku. Ia hanya menatapku. “Aku harus pergi untuk waktu yang lama. Dan aku ingin mengakhiri semuanya di sini. Hubungan kita.” Hanya itu kalimat yang meluncur dari bibir tipisnya. Matanya yang dinaungi oleh sepasang alis lebat, menatap tajam ke arahku, seolah menghakimi bahwa keputusan itu muncul atas kesalahanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” Tidak ada kalimat lain yang terpikir. Hanya satu kata yang tidak kumengerti jawabannya itulah yang akhirnya keluar. Dan ia hanya terdiam. Tidak menjawab, tidak berekspresi, bahkan ia hanya terpaku. “Aku salah?” Akhirnya aku memilih menyerahkan diri. Kalau memang itu bisa membuatnya kembali tersenyum bersamaku di tempat itu, aku akan rela dihakimi olehnya. Meskipun aku tidak tau apa kesalahanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggigit bibirnya dan kemudian menghela napas. Sungguh, aku tau napas itu terdengar begitu berat. Tapi aku tidak tau, kenapa ia tidak mau membagi beban itu denganku. Selama bertahun-tahun kami tertawa bersama, tapi hanya tawa yang ia bagi. Ia tidak sudi membagi kesedihannya denganku. Dan aku merasa seperti tidak mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulir air mataku mengalir. Belum pernah aku menangis di hadapannya, di tempat ini. Di sinilah eden kami, tempat kami berbagi tawa dan kebahagiaan, tetapi kini rusak oleh satu air mata yang mengalir dariku. Dan juga satu rahasia darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berakhir di sini. Aku tidak bisa bersama denganmu lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap terpaku, sama seperti dirinya. Namun, aku terlalu terkejut untuk kembali membalas perkataannya. Tidak, bukan sekedar perkataannya, tetapi telah menjadi sebuah keputusannya telak. Entah kenapa, aku merasa begitu bodoh karena hanya bisa menunduk, seakan menerima semua perbuatannya yang tidak adil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menunduk, saat aku merasa bahwa ia memutar tubuhnya dan mulai melangkah lambat-lambat. Aku mengangkat kepalaku, membiarkan udara menyeka air mataku hingga kering, meski itu mustahil karena ia terus mengalir dan tidak bisa dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku…” kataku setengah berteriak. Kuperhatikan, ia menghentikan langkahnya dan memutar tubuh tingginya. Ia kembali menatapku, dengan jarak yang membentang diantara kami. “Bagiku tempat ini adalah kebahagiaanku. Aku tidak ingin kesedihan merusak kenangan tempat ini. Bisakah kau tidak mengatakan perpisahan di sini? Apa salahku sampai kau ingin meninggalkanku?” Aku tak sanggup menahan isak tangis saat mengucapkan rentetan kalimat panjang yang akhirnya mendesak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terdiam sesaat. Menatapku penuh kesedihan, namun tetap tidak mengatakan apa-apa. Ia memilih diam. Dan kemudian pergi meninggalkanku sendirian, di tempat kebahagiaanku yang kini telah berubah menjadi tempat yang terasa begitu menyakitkan. Dan isakanku semakin menjadi. Tanpa sekalipun ia menoleh. Berusaha untuk menenangkanku, atau paling tidak mengatakan semua penyebab perpisahan yang begitu mendadak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih mencintainya, masih tetap ingin ia menoleh ke arahku, merengkuh bahuku dan menyuruhku berdiri. Lalu mendekap erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenyataannya, punggung besar itu semakin mengecil. Semakin menghilang. Seiring dengan tangisku yang pecah. Semuanya berakhir di sini. Tidak ada awal di sini. Hanya akhir. Dan akhir itulah yang menutup kebahagiaan yang pernah ada. Yang pernah kupercayai akan menjadi kebahagiaan untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edenku, kini semuanya sudah berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia telah pergi, tanpa satu patah katapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kuharap akan ada penjelasan atas semuanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-7309223643864986843?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/7309223643864986843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/final-in-eden.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/7309223643864986843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/7309223643864986843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/final-in-eden.html' title='Final in Eden'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-8586117940564687528</id><published>2009-09-25T20:58:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T20:59:33.841+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percikan kisah'/><title type='text'>Satu Panah</title><content type='html'>By: Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggetarkan. Aku mendengar suara itu. Suara yang tanpa pernah ku sadari akan menjadi sebuah penghangat di masa-masa berikutnya, suara yang mengendap dalam lumbung hati ini tanpa bisa dihilangkan. Aku tau, suara itu hanya berasal dari bibir tipis seorang adam. Ya, seorang pria biasa namun memiliki pesona luar biasa. Aku tidak bisa mengelak, meskipun aku berusaha mencoba. Ia terlalu sempurna. Paling tidak di mataku, ia begitu sempurna dengan segala kekurangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah aku keluar dari jeratannya?&lt;br /&gt;Selalu berusaha untuk bisa menyingkirkan bayang-bayang senyum misteriusnya, tetapi aku selalu gagal. Aku tau, aku bukan berusaha dengan tindakan. Aku hanya berusaha dengan kata-kata yang hanya tertinggal sebagai pengharapan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, dirinya layaknya sebuah rembulan yang jauh dari rengkuhan. Namun kini ia tepat di hadapanku. Berdiri tegak dengan begitu kokoh di atas kedua kaki jenjangnya, bertahan dari rasa dingin di balik tubuh kurusnya, sambil menatapku dari balik jendela matanya yang kecil. Kenapa harus menatapku seperti itu? Aku mencari-cari jawabanku di isyarat bulatan hitam indera penglihatannya itu. Kosong. Aku tidak menemukan apa-apa. Aku hanya menemukan titik keletihan dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tanganku, seolah tak bisa kutahan untuk bisa menyeka wajah tirusnya, seperti ingin memberikan semangat dan tenaga lain. Hanya karena aku tidak ingin melihat dirinya yang seperti itu. Aku ingin dia yang ceria dan tertawa. Atau terkadang tersenyum malu. Atau juga mungkin saja tertawa begitu lebar hingga ia merentangkan telapak tangannya menutupi barisan gigi yang rapih itu. Aku ingin dirinya yang seperti itu. Karena dengan begitu, aku bisa merasakan lagi suara menggetarkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bersama dengannya kini," ia bersuara. Suara yang ingin ku dengar, namun tidak dengan kalimat itu. Kalimat yang kali ini seperti mengiris hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak pernah memberiku kesempatan," katanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sekali lagi ia bersuara. Tapi bukan itu yang ingin ku dengar. Sungguh. Adakah kata-kata lain yang tidak membuatku merasakan perih ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sorry, but if there`s a chance, i`ll change my mind," pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunduk. Aku tau aku tidak bisa memberikannya sebuah kesempatan. Meskipun aku tau, jauh di dalam diriku sangat mengharapkan kehadirannya selalu, menjadi pangeranku dan berada di sisiku. Hanya saja, ada bagian diriku yang tidak bisa ku mengerti.&lt;br /&gt;Sebagian diriku itu tidak akan pernah bisa membiarkan ia menjadi pangeranku. Sebagian diriku itu hanya ingin mendengarkan liukan suara indahnya dalam tangga nada.&lt;br /&gt;Sebagian diriku itu juga tidak membiarkannya untuk pergi bersama dengan seorang hawa yang ia kenal entah dimana.&lt;br /&gt;Tapi aku ingin ia tetap di sini.&lt;br /&gt;Membiarkan diriku hanya tetap menatap punggungnya, tanpa harus ia menoleh untuk tersenyum padaku.&lt;br /&gt;Bolehkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintainya, tapi aku hanya ingin memberikan perasaan ini padanya.&lt;br /&gt;I just wanna love him.&lt;br /&gt;but please, don`t love me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian, ia masih mematung sementara aku yang terpana menatapnya. Sejenak saja, sebelum akhirnya aku memilih untuk pergi meninggalkan semua hasrat dan keegoisan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski masih tetap memohon, jangan cintai orang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-8586117940564687528?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/8586117940564687528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/satu-panah.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8586117940564687528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/8586117940564687528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/satu-panah.html' title='Satu Panah'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9067412076501866321.post-7863333999070599727</id><published>2009-09-25T20:56:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T20:58:05.384+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percikan kisah'/><title type='text'>Malaikatku Mati</title><content type='html'>By: Clara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku adalah malaikatmu, sayang.” Sekali lagi, sebelum tidur, Aris mengucapkan kata-kata itu padaku. Garis wajahnya yang begitu tegas, namun tidak meninggalkan kesan manis, selalu tersenyum padaku. Tak apa jika ia tidak pernah membelaiku, tak apa jika tangannya yang besar tidak merengkuhku ke dalam dadanya yang bidang. Aku tau, kata-katanya adalah ketulusan yang tak sebanding dengan setiap gerak tubuhnya.&lt;br /&gt;Dan hingga mataku terpejam, Aris masih tetap menatapku dari sisi tempat tidur. Ia suka sekali berlutut di sebelahku dan mengembangkan bibir tipisnya yang kemerahan, menungguku terlelap ke dalam alam mimpi yang tak bisa terjangkau olehnya. Meskipun ia mengaku memiliki sayap, namun sayap itu tetap tidak bisa menjangkau jauhnya alam tidurku.&lt;br /&gt;“Sayang, aku selalu mencintaimu,” bisik-bisik kalimat terakhir Aris mengantarku tak sadarkan diri. Terbuai indahnya mimpi, dimana untuk kesekian kalinya aku kembali bertemu Aris. Seperti biasa, Aris mengatakan kalau ia memiliki sayap. Aku tersenyum dan percaya padanya. Aris tak pernah bohong padaku.&lt;br /&gt;Namun tidak untuk hari ini.&lt;br /&gt;“Kamu mau menikah denganku?” tanya Aris saat aku baru saja tersadar dari tidurku. Aris sudah berada di sebelahku. Ia selalu membuatku merasa begitu special.&lt;br /&gt;Aku tersenyum.&lt;br /&gt;Kemudian Aris segera beranjak, “Tunggulah disini. Bersiaplah dengan gaun terindah. Aku akan kembali dengan sekotak cincin. Aku akan melamarmu di tempat terindah di kota ini.” Setelahnya kulihat kaki panjang Aris melangkah meninggalkan kamar kostku.&lt;br /&gt;Gaun sederhana berwarna ungu pastel sudah melekat di tubuhku. Kini aku menunggunya di ruang depan rumah kostku. Beberapa kawan satu kost melirik dan tersenyum ke arahku, tapi wajah mereka melukiskan sebuah kerutan di dahi masing-masing. Aku tak ambil pusing.&lt;br /&gt;“Aku sedang menunggu calon suamiku,” kataku singkat yang malah membuat kedua tetangga kamarku saling berpandangan dengan kerutan di dahi yang masih menempel. Aku tidak peduli. Mereka pasti iri padaku. Aris sangat tampan dan sudah sewajarnya seorang wanita pasti akan melirik takjub melihat fisikknya yang begitu mempesona kaum hawa. Salah satunya aku.&lt;br /&gt;Aris berdiri melambai di seberang jalan. Setengah lingkaran di wajahnya, tercermin begitu sempurna. Aku pun balas melambai dan tetap menanti Aris yang mendekat. Namun ternyata, Aris tidak bisa memenuhi rentetan kalimatnya tadi pagi. Sebuah mobil yang sedang melaju dengan kencang, menghantam tubuh kokoh Aris.&lt;br /&gt;Aku berteriak histeris hingga setiap orang melihat ke arahku, termasuk beberapa kawan kostku. Mereka segera menghampiriku yang sudah terlebih dulu menghambur ke tubuh Aris yang bersimbah darah. Dengan tangan gemetar, kuangkat tubuh itu.&lt;br /&gt;“Malaikatku...jangan mati!!” Aku histeris. Tangisku pecah di tengah jalan, bersamaan dengan bunyi klakson yang membahana. Dan juga, puluhan pasang mata yang menatapku. Aku tak tau pandangan apa itu, tapi kenapa tidak ada yang membantuku? Bahkan si penabrak pun hanya mematung berdiri beberapa langkah dari tempatku!&lt;br /&gt;Padahal di pangkuanku, malaikatku mati. Bersimbah darah.&lt;br /&gt;“Ris! Rissa! Sadar Ris! Yang kamu pegang itu cuma kucing!” pekik Aldo sambil mengguncang bahuku yang terbuka.&lt;br /&gt;Heh! Aldo gila! Aris bukan kucing! Aris malaikatku. Ia calon suamiku dan kini ia sudah tak bernyawa. Aku tak bisa merasakan detak jantungnya lagi. Kubelai kepalanya, kuciumi wajah putih yang sudah memucat itu, dan kurengkuh ia ke dalam pelukan, hingga gaunku penuh darah.&lt;br /&gt;Dan aku mendekatkan bibirku yang bergetar hebat ke telinga Aris, “Aldo, iri padamu karena aku memilihmu, Aris. Ia iri karena kamu malaikatku dan ia hanya orang biasa. Ia sinting, mengataimu kucing.” Aku berbisik begitu lirih. Kuciumi sekali lagi wajah Aris yang sudah pucat, dengan perasaan kalut yang luar biasa. Aku sungguh takut. Aku sedih. Aku seperti kehilangan penopangku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aldo duduk di hadapanku yang kini seperti tubuh tak berjiwa. Ia tampak begitu serius. Apa dia sudah memenuhi janjinya untuk merawat makam Aris?&lt;br /&gt;“Rissa,” suara Aldo tertahan. Ia tidak berani menatap mataku yang menggantikan isi hatiku, menuduhnya sinting. “Dokter sudah memberitahuku. Ternyata…” Aldo berhenti sejenak. Suaranya agak serak. “Kamu penderita schizophrenic. Dan kamu harus tetap berada di sini, sampai kamu bisa sadar bahwa kamu hidup dalam dunia nyata, bukan dunia khayalan dalam pikiranmu.”&lt;br /&gt;Kemudian kulihat pipi Aldo basah. Aku mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti apa yang pria itu katakan. Scizo…apa? Aku normal. Kalian saja yang menjebloskanku ke dalam penjara aneh ini. Namun, aku memilih bergeming. Aku malas berdebat. Aku masih berduka, karena malaikatku telah mati.&lt;br /&gt;Di hadapanku.&lt;br /&gt;Meski kata mereka, malaikatku adalah kucing.&lt;br /&gt;Aku tak peduli, karena aku percaya, Aris-ku adalah malaikatku. Dan aku sangat mencintainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9067412076501866321-7863333999070599727?l=coretantangan-kura2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/feeds/7863333999070599727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/malaikatku-mati.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/7863333999070599727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9067412076501866321/posts/default/7863333999070599727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coretantangan-kura2.blogspot.com/2009/09/malaikatku-mati.html' title='Malaikatku Mati'/><author><name>Clara Canceriana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15106026256601406288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-tlbW1l7u95I/TuOiAWTjnfI/AAAAAAAAAyw/S3MkXGBgCmM/s220/001.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
